PENGARUH POLA TANAM BAWANG MERAH DI LAHAN SAWAH DAN PASIRTERHADAP KERAGAMAN KOMUNITAS MIKROB, NUTRISI TANAH, DAN KEJADIAN PENYAKIT MOLER
Ary Virgianti Setyaningrum, Prof. Ani Widiastuti, S.P., M.P., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Fitopatologi
Pertanaman bawang merah di pesisir
Bantul, Yogyakarta dilakukan pada dua tipe tanah dengan rotasi tanam berbeda,
yaitu sawah (padi–bawang–bawang) dan pasir (cabai–bawang–bawang). Perbedaan
agroekosistem ini memengaruhi kandungan nutrisi, komunitas mikroba, serta
kejadian penyakit moler yang disebabkan Fusarium spp. Penelitian ini
bertujuan membandingkan insidensi penyakit moler, komunitas mikrob, nutrisi
tanah, dan hubungan keduanya pada kedua agroekosistem. Pengamatan dilakukan
melalui survei kejadian penyakit moler dan pengambilan sampel tanah untuk
analisis DNA serta uji nutrisi. Komunitas bakteri dianalisis menggunakan primer
16S V4 (515F–806R), sedangkan komunitas jamur menggunakan primer ITS2
(2024F–2409R). Uji nutrisi mencakup pH, C-organik, N, P, K, S, kapasitas tukar
kation (KTK), kandungan anion–kation utama, serta tekstur tanah. Hasil
penelitian menunjukkan insidensi penyakit moler tidak berbeda signifikan antar
tanah, namun di tanah pasir gejala muncul satu minggu lebih cepat. Tanah sawah
memiliki KTK, NO??, dan NH?? lebih tinggi, sedangkan tanah pasir lebih kaya Fe, Ca, Mn,
Cu, Mg, S, dan Zn. Bakteri Marmoricola merupakan biomarker dan core microbe
pada tanah sawah yang berperan dalam siklus N. Bakteri Lysinibacillus merupakan
biomarker dan core microbe pada tanah pasir yang berperan dalam
peningkatan kandungan nutrisi tanah untuk pertumbuhan. Jamur Fusarium merupakan
core microbe pada tanah sawah dan tanah pasir pada seluruh pertanaman
bawang merah. Pyrenochaetopsis merupakan biomarker pada tanah sawah yang
bermanfaat sebagai biofertilizer. Biomarker pada tanah pasir adalah Sordariales
yang berperan dalam penguraian bahan organik. Komunitas jamur dan bakteri lebih
kompleks pada tanah pasir daripada tanah sawah. Secara umum, komunitas mikrob berhubungan
erat dengan kondisi nutrisi, terutama pH.
Shallot cultivation in the coastal area
of Bantul, Yogyakarta, is carried out on two soil types with different crop
rotations, namely paddy soil (rice–shallot–shallot) and sandy soil
(chili–shallot–shallot). These agroecosystem differences influence soil
nutrient composition, microbial communities, and the incidence of basal rot
disease caused by Fusarium spp. This study aimed to compare the
incidence of basal rot, microbial communities, soil nutrients, and their
relationships across the two agroecosystems. Observations included a field
survey of basal rot incidence and soil sampling for DNA-based microbial
analysis and nutrient testing. Bacterial communities were assessed using the
16S V4 region (primers 515F–806R), while fungal communities were analyzed using
the ITS2 region (primers 2024F–2409R). Soil nutrient analyses included pH,
organic C, N, P, K, S, cation exchange capacity (CEC), major anions and
cations, as well as soil texture. The results showed that basal rot incidence
did not differ significantly between the two soil types; however, symptoms
appeared one week earlier in sandy soil. Paddy soil exhibited higher CEC, NO??, and NH?? levels,
whereas sandy soil was richer in Fe, Ca, Mn, Cu, Mg, S, and Zn. Marmoricola was
identified as a biomarker and core microbe in paddy soil, functioning in the N
cycle. Lysinibacillus was identified as a biomarker and core microbe in sandy
soil, contributing to enhanced nutrient availability for plant growth. Fusarium
was a core microbe in both soil types across all shallot fields.
Pyrenochaetopsis was identified as a biomarker in paddy soil, with potential as
a biofertilizer. In contrast, the fungal order Sordariales was identified as a
biomarker in sandy soil, playing a role in organic matter decomposition. Both
fungal and bacterial communities were more complex in sandy soil than in paddy
soil. Overall, microbial community composition was closely associated with soil
nutrient conditions, particularly pH.
Kata Kunci : Rotasi tanam, tanah sawah, tanah pasir, amplicon metagenomic sequencing, penyakit moler.