Eksplorasi Eksistensi JakLingko: Studi Kasus Dinamika Interaksi Sosial Antar Kelas Masyarakat di Dukuh Atas
Zaadila Muftial Mabrur, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D
2025 | Skripsi | PSIKOLOGI
Penelitian ini menelaah bagaimana sistem transportasi terintegrasi dan ruang publik yang inklusif berperan sebagai penggerak kohesi sosial di Jakarta. Fokus studi ini berada di kawasan Dukuh Atas yang merupakan salah satu simpul utama Transit-Oriented Development (TOD) dalam jaringan JakLingko. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan metode analisis tematik terhadap wawancara mendalam dan analisis dokumen perencanaan kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antar moda seperti MRT, LRT, KRL, Transjakarta, dan Railink tidak hanya memperlancar mobilitas fisik. Integrasi ini juga menciptakan lingkungan bersama di mana individu dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda dapat terlibat dalam interaksi sehari-hari. Ketika infrastruktur publik dirancang dengan intensi kelembagaan yang inklusif, maka ruang tersebut menjadi medium untuk pengakuan simbolik, kesetaraan situasional, dan pembentukan kepercayaan. Dengan menggunakan Teori Kontak Antar-Kelompok dari Allport dan Model Kognisi Kelas Sosial dari Kraus, studi ini menunjukkan bahwa ruang publik seperti jembatan pejalan kaki, signage aksesibel, dan zona tunggu informal dapat mengubah kebersamaan pasif menjadi interaksi yang bermakna. Sistem transportasi terintegrasi JakLingko dengan demikian tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga infrastruktur psikososial yang mampu mereduksi fragmentasi sosial. Studi ini memposisikan perencanaan mobilitas sebagai jalur strategis menuju inklusi perkotaan dan kohesi sosial di kota seperti Jakarta yang semakin terstratifikasi.
This study investigates how integrated transit systems and inclusive public space function as drivers of social cohesion in Jakarta. Focusing on Dukuh Atas, a key Transit-Oriented Development (TOD) node within the JakLingko network, the research employs a qualitative case study approach by combining thematic analysis of in-depth interviews with document analysis of urban development plans. The findings reveal that integration across MRT, LRT, KRL, Transjakarta, and Airport Railink facilitates more than physical mobility. It also creates shared environments where individuals from diverse socioeconomic backgrounds can engage in everyday interactions. When designed with institutional intention, public infrastructure becomes a medium for symbolic recognition, situational equality, and the cultivation of trust. Drawing on Allport’s Intergroup Contact Theory and Kraus’ Social-Class Cognition Model, the study shows that public space such as pedestrian connectors, inclusive signage, and informal waiting zones can transform simple co-presence into meaningful contact. JakLingko’s integrated transit systems are therefore positioned not merely as transportation solutions but as psychosocial infrastructures capable of reducing social fragmentation. This study reframes mobility planning as a strategic entry point toward urban inclusion and social cohesion in a rapidly stratifying city like Jakarta.
Kata Kunci : Kohesi sosial, JakLingko, sistem transportasi terintegrasi, ruang publik, Jakarta