Upaya Penurunan Angka Rewash Linen Kotor Ruang Perawatan Intensif di RSA UGM : Studi Action Research
Timuryani Nugraheni, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph,D , Prof. Apt. Ika Puspita Sari, M.Si.,Ph.D
2025 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Latar Belakang: Rewash linen di Ruang Perawatan Intensif (ICU) dapat meningkatkan biaya operasional, konsumsi energi serta menurunkan efisiensi layanan laundry rumah sakit. Angka rewash di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM berkisar antara 0,3 – 0,4?ri total linen kotor, dengan 20 -30% (101,04 kg, triwulan IV 2024) di antaranya dari ruang ICU. Rewash linen di RSA UGM disebabkan oleh rendahnya kepatuhan terhadap standar, yaitu 68.42%.
Tujuan: Menurunkan angka rewash linen kotor di ruang ICU RSA UGM melalui penerapan strategi partisipatif dalam perbaikan kualitas.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain action research yang terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang diterapkan meliputi pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO), ceklis, petunjuk teknis (juknis), pembuatan jadwal rutin pertemuan, pemberian penanda, pembagian kewenangan dalam pemeliharaan mesin cuci antara IPSRS – Vendor dan petugas operatot Laundry serta pengadaan pelatihan. Pengambilan data dilakukan secara kualitatif yaitu melalui FGD dan kuantitatif dengan pemberian pelatihan pada petugas ICU, petugas Laundry serta monitor angka rewash, angka ketertinggalan material pada linen kotor. Sedangkan untuk analisis data menggunakan (Cronbach’s Alpha dan Wilcoxon Signed-Rank Test).
Hasil: Pelaksanaan dalam penelitian ini menghasilkan output di beberapa tahapan. Tahapan Diagnosis dengan FGD dilanjutkan dengan pembuatan fishbone, RCA 5 why. Tahapan planning dengan menggunakan analisis PDCA dan Corrective Action. Tahapan pelaksanaan dengan pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO), ceklis, petunjuk teknis (juknis), pembuatan jadwal rutin pertemuan, pemberian penanda, pembagian kewenangan dalam pemeliharaan mesin cuci antara IPSRS – Vendor dan petugas operatot Laundry, pencahayaan ruang laundry serta pengadaan pelatihan. Studi ini menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan teknis tentang pengelolaan linen dan belum tersedianya beberapa SPO, petunjuk teknis dan ceklis yang penting menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya rewash linen. Studi ini juga mendeteksi adanya masalah perilaku petugas yang memperburuk kondisi tersebut seperti tidak memisah linen infeksius dan non infeksius, tidak melakukan pengecekkan material di dlama linen kotor. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi layanan laundry RSA UGM di kemudian hari. Angka rewash menurun 42,22%, yaitu dari 33,68 kg (pra-intervensi) menjadi 14,22 kg (pasca-intervensi).
Kesimpulan Kekuatan utama dalam penelitian ini adalah penegakkan diagnosis masalah yang mendalam dan keterlibatan seluruh unit (ICU, Unit laundry, K3 Sanitasi dan IPSRS) yang memastikan solusi yang dirancang adalah sesuai dan dapat diterima oleh semua pihak. Penerapan siklus PDSA dan CAPA (Preventive Action) menjadi instrumen yang efektif untuk memetakan dan menindaklanjuti setiap akar masalah. Implementasi yang menyeluruh meliputi : human resources, sistem, sarana prasarana dan teknis menjadi upaya yang kompleks untuk mengatasi permasalahan dari berbagai sudut yang menghasilkan upaya penghapusan pemborosan dengan efisiensi melalui penurunan kejadian angka rewash.
Background: Linen rewash in the Intensive Care Unit (ICU) may increase operational costs, energy consumption and reduce the efficiency of hospital laundry services. The rewash rate at the Academic Hospital, Universitas Gadjah Mada (UGM) ranges from 0.3 - 0.4% of the total dirty linen and 20 -30% (or 101,04 kg in quarter 4, 2024) of which is from the ICU. Linen rewash at this hospital was occured due to low compliance to standards, i.e. 68.42%.
Objective: To reduce the number of dirty linen rewash in the ICU, Academic hospital, UGM through participative quality improvement strategies.
Method: This study used an action research design consisting of planning, action, observation and reflection stages (plan-do-check-act). The interventions implemented consisting of developing the Standard Operating Procedures (SOP), checklists, technical instructions, scheduling, and training. Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively (Cronbach's Alpha and Wilcoxon Signed-Rank-Test).
Results: This study showed poor technical knowledge on linen management and unavailability of SOPs, technical instructions and checklists caused linen rewash. This study also detected behavioral problems among officers that worsened the condition. The rewash rate was decreased by 42,22%, i.e. from 33,68 kg (pre-intervention) to 14,22 kg (post-intervention).
Discussion: The main strength of this study is the enforcement of in-depth problem diagnosis and the involvement of all units (ICU, Laundry Unit, occupational health and safety - Sanitation and IPSRS) which ensure that the designed solution is appropriate and acceptable to all parties. The application of the PDSA and CAPA (Preventive Action) cycles is an effective instrument for mapping and following up on each root cause. Comprehensive implementation includes: human resources, systems, infrastructure and technical facilities into a complex effort to overcome problems from various angles that result in efforts to eliminate waste with efficiency through reducing the incidence of rewash rates.
Kata Kunci : Pengelolaan linen, Unit perawatan Intensif, Perbaikan berkelanjutan, Action research, Rewash