Women's Empowerment Dynamics (An Analysis of the Puan Hayati Movement within Indigenous Religions in Yogyakarta)
Ersa Elfira Khaiya, Prof. Dr. Fatimah Husein, Dr. Samsul Maarif
2025 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya
Perempuan penghayat kepercayaan tidak hanya menghadapi marginalisasi karena identitas mereka sebagai penghayat tetapi juga tantangan sebagai perempuan yang hidup dalam masyarakat patriarki. Menanggapi masalah ini, perempuan penghayat membuat sebuah organisasi bernama Puan Hayati sebagai tempat untuk mencapai pemberdayaan perempuaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika yang terjadi melalui wawancara dengan empat anggota dan pengurus Puan Hayati dalam upaya mereka untuk mencapai pemberdayaan. Penelitian ini menggunakan tiga elemen menurut teori Naila Kabeer: Sumber Daya, Agensi dan Pencapaian sebagai alat untuk mengukur pemberdayaan perempuan. Ketiga elemen tersebut juga dikombinasikan dengan teori dari Sonalde Desai yang mempertimbangkan elemen interseksional dan Saba Mahmood yang memperluas makna agensi sehingga tidak hanya diterjemahkan sebagai tindakan melawan patriarki saja.Penelitian ini mengungkapkan bahwa para informan mendapatkan berbagai sumber daya seperti sumber daya material, sosial, manusia dan bahkan spiritual. Identifikasi sumber daya spiritual muncul sebagai tambahan penting bagi kerangka kerja Kabeer, yang menunjukkan bagaimana spiritualitas berfungsi sebagai bentuk modal yang memperkuat legitimasi dan pengaruh perempuan. Agensi diekspresikan tidak hanya melalui perlawanan tetapi juga melalui negosiasi, pembentukan diri yang etis, dan penciptaan ruang-ruang alternatif. Pencapaian yang dicapai bervariasi di antara para anggota, mulai dari peningkatan kepercayaan diri dan keterampilan kepemimpinan hingga pelestarian identitas penghayat, meskipun beberapa melaporkan perubahan pribadi yang terbatas. Studi ini menyimpulkan bahwa Puan Hayati memainkan peran katalis dalam memperkuat identitas, dan agensi perempuan Pribumi, namun belum sampai kepada tahap kesetaraan gender. Hal ini dikarenakan Puan Hayati juga menghadapi kendala struktural seperti keterbatasan dana dan partisipasi yang tidak merata.
Indigenous women experience discrimination not only because of their Indigenous identity but also due to the challenges they face as women in a patriarchal society. To address these issues, Indigenous women formed an organization called Puan Hayati, which serves as a space for them to gain empowerment. This research aims to explore the dynamics at play by interviewing four members and administrators of Puan Hayati, focusing on their efforts to achieve empowerment. The study uses three elements from Naila Kabeer’s theory—resources, agency, and achievement—as a framework to assess women's empowerment. These elements are also integrated with Sonalde Desai’s theory, which considers intersectionality, and Saba Mahmood’s perspective, which broadens the concept of agency beyond just resisting patriarchy.The findings show that the participants have access to various resources, including material, social, human, and even spiritual ones. The identification of spiritual resources emerged as an important addition to Kabeer's framework, demonstrating how spirituality functions as a form of capital that strengthens women's legitimacy and influence. Agency was expressed not only through resistance but also through negotiation, ethical self-formation, and the creation of alternative spaces. Achievements varied among members, ranging from increased self-confidence and leadership skills to the preservation of Indigenous identity, although some reported limited personal change. The study concluded that Puan Hayati played a catalytic role in strengthening Indigenous women's identity and agency but did not yet achieve gender equality. This was because Puan Hayati also faced structural obstacles such as limited funding and unequal participation.
Kata Kunci : Indigenous Believer, Women’s Empowerment, Puan Hayati