Laporkan Masalah

Penerapan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk kajian aksesibiltas fisik sebagian kawasan permukiman dijalur lingkar utara Yogyakarta

Dheny Trie Wahyu Sampurno, -

2003 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis dalam mengkaji aksesibilitas fisik zona permukiman pada daerah rural-urban fringe di sekitar Jalur Lingkar Utara Yogyakarta. Kajian yang kedua adalah analisis statistik untuk mengetahui korelasi antara pola keteraturan dan kepadatan permukiman dengan aksesibilitas fisik. Sumber data adalah Foto Udara Pankromatik Hitam Putih skala 1:20.000 tahun 2000, yang merupakan hasil penyiaman negatif film dengan menggunakan Integraph Photoscan dengan ketajaman 28 mikron. Parameter yang diharkat dan dibobot dalam kajian ini menurut perolehannya dibagi menjadi empat yaitu data dari peta jaringan jalan, interpretasi visual, data sekunder, dan data dari lapangan. Parameter yang diperoleh dari interpretasi foto udara yaitu penggunaan lahan dengan unit pemetaan terkecil pola keteraturan dan kepadatan permukiman, dan pengukuran kondisi fisik jaringan jalan yang tidak dapat disadap dari peta jaringan jalan. Pengukuran ini lebih ditujukan pada fungsi jalan sebagai jalur transportasi dengan menggunakan analisis network. Analisis yang dipergunakan adalah analisis kuantitatif pengharkatan dan pembobotan pada jaringan jalan dan analisis statistik pada korelasi pola keteraturan dan kepadatan permukiman dengan aksesibilitas fisik. Penelitian ini menunjukkan bahwa foto udara pankromatik hitam putih skala 1:20.000 dapat dipergunakan untuk studi perkotaan. Data ini sangat bermanfaat dalam menyadap parameter fisik untuk penelitian ini. Hal tersebut ditunjukkan dari uji ketelitian interpretasi salah satu parameter yaitu penggunaan lahan, dengan nilai ketelitian sebesar 92%. Hasil dari kajian ini cukup representatif karena mempunyai signifikansi terhadap kondisi di lapangan. Tingkat aksesibilitas fisik zona permukiman dibagi menjadi 3 kelas yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil yang disajikan dalam bentuk peta aksesibilitas fisik zona permukiman. Daerah yang memiliki tingkat aksesibilitas fisik tinggi adalah daerah yang dekat dengan Jalan Lingkar Utara dan jalan utama lainnya, seperti Jalan Kaliurang, Jalan A.M. Sangaji, dan Jalan Gejayan. Sedangkan pada tingkat sedang ditemukan pada daerah yang relatif dekat dengan Jalan Lingkar Utara. Pada tingkat rendah diperoleh pada daerah yang berada di sekitar Jalan Lingkar Utara dengan kondisi jalan dan jalur angkutan umum yang kurang memadai. Hasil ini menunjukkan bahwa parameter yang paling dominan adalah parameter lebar jalan lingkungan, kerapatan jalan, jarak ke jalan utama dan ke jalur angkutan umum. Korelasi pola keteraturan dan kepadatan permukiman dengan aksesibilitas fisik menunjukkan bahwa kondisi pola keteraturan yang lebih baik memiliki kondisi aksesibilitas fisik yang tinggi. Yang kedua, permukiman yang padat mempunyai tingkat aksesibilitas yang tinggi. Hal ini dimungkinkan karena kepadatan permukiman dapat digunakan untuk menunjukkan kesenangan orang untuk bertempat tinggal.

-

Kata Kunci : Penginderaan jauh, sistem informasi geografis,aksesibilitas fisik,Daerah Istimewa Yogyakarta,DIY

  1. S1-2003-105851-Abstract.pdf  
  2. S1-2003-105851-Bibliography.pdf  
  3. S1-2003-105851-Bibliography1.pdf  
  4. S1-2003-105851-Title.pdf