Implementasi Task Sharing dan Task Shifting dalam Layanan Kesehatan Mental di Indonesia: Sebuah Scoping Review
Kintamani Arafah, Diana Setiyawati, S.Psi., M.H.Sc, Ph.D., Psikolog
2025 | Tesis | S2 Magister Profesi Psikologi
Keterbatasan jumlah tenaga spesialis kesehatan mental mendorong task sharing dan shifting sebagai strategi meningkatkan layanan kesehatan mental. Strategi ini telah lama dilakukan di Indonesia dengan melibatkan tenaga non-spesialis, tetapi belum ada tinjauan sistematis yang membahasnya. Scoping review ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi task sharing dan shifting dalam layanan kesehatan mental di Indonesia. Studi ini melibatkan 45 artikel peer reviewed dan grey literatures berbahasa Indonesia dan Inggris yang membahas praktik task sharing dan shifting dalam layanan kesehatan mental di puskesmas. Pelibatan tenaga non-spesialis umumnya dilakukan dalam bentuk task shifting oleh dokter umum, perawat, bidan, apoteker, dan kader. Aktivitas yang dilakukan meliputi edukasi kesehatan jiwa, deteksi dini, dan pemantauan pasien gangguan jiwa, sedangkan farmakoterapi dan intervensi psikologis masih terbatas. Sistem kesehatan mental Indonesia sebenarnya mendukung task sharing melalui program berbasis komunitas dengan koordinasi lintas sektor. Namun, pelatihan dan supervisi terstruktur yang melibatkan spesialis kesehatan mental masih diperlukan.
The limited number of mental health specialists has led to the adoption of task-sharing and shifting strategies to improve mental health services. Indonesia has long implemented these strategies with the involvement of non-specialists, yet no systematic review has discussed them. This scoping review aims to explore the implementation of task sharing and shifting in Indonesian mental health services. The study examined 45 peer-reviewed and grey literature articles in Bahasa Indonesia and English discussing the practice of task sharing and shifting in mental health services at community health centers. Non-specialist health workers generally participate through task shifting with general practitioners, nurses, midwives, pharmacists, and cadres. Their activities include mental health education, early detection, and monitoring of patients with mental disorders, while pharmacotherapy and psychological interventions remain limited. Indonesia's mental health system supports task sharing through community-based programs with cross-sector coordination. However, it still needs structured training and supervision involving mental health specialists.
Kata Kunci : tenaga non-spesialis, Indonesia, kesehatan mental, layanan kesehatan primer, scoping review