Deteksi Gen Antibiotik Resisten dan Integron pada Xanthomonas oryzae pv. oryzae
Andi khusnul fatima bahar, Prof. Dr. Ir. Siti Subandiyah, M.Agr.Sc. ; Prof. Marko Virta
2025 | Tesis | S2 Fitopatologi
Penggunaan antibiotik dalam pertanian telah berkontribusi pada munculnya
resistensi tidak hanya di lingkungan klinis tetapi juga pada bakteri lingkungan
dan bakteri yang terkait dengan tanaman. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, penggunaan antibiotik dalam
budidaya padi masih kurang diatur, menimbulkan kekhawatiran akan munculnya
patogen tumbuhan yang resisten terhadap antibiotik. Studi ini bertujuan untuk
menilai kepekaan antibiotik dan mendeteksi gen resistensi antibiotik (ARGs)
serta integron pada Xanthomonas oryzae pv. oryzae, agen penyebab
penyakit layu daun bakteri pada padi. Sebanyak 34 isolat X. oryzae pv. oryzae
dikumpulkan dari wilayah penghasil padi utama di Indonesia, termasuk Sulawesi
Selatan, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Isolat-isolat ini diuji
kepekaan antibiotik secara fenotipik menggunakan metode mikrodilusi cairan
terhadap lima antibiotik. Klasifikasi resistensi didasarkan pada nilai MIC?? dan
MIC??, menunjukkan variasi dalam kepekaan. Ampicillin dan kanamycin
menunjukkan nilai MIC?? tertinggi, menunjukkan efektivitas yang
berkurang, sementara gentamicin dan streptomycin menunjukkan efektivitas yang
lebih tinggi. Berdasarkan profil fenotipik, 10 isolat representatif dipilih
untuk skrining molekuler. Uji PCR mengidentifikasi beberapa gen resistensi
antibiotik (ARGs), termasuk blaOXY, aadA7, aac(IV), cmIV, tet(X5),
tetD, dan intI3. Menariknya, beberapa isolat yang membawa gen
resistensi menunjukkan kerentanan fenotipik, menyarankan bahwa keberadaan ARGs
tidak selalu memberikan resistensi yang terdeteksi dalam kondisi uji.
Ketidaksesuaian ini mungkin disebabkan oleh faktor regulasi atau fungsional,
meskipun penyelidikan lebih lanjut diperlukan. Meskipun kesadaran semakin
meningkat, data molekuler tentang ARGs dan integron pada X. oryzae pv. oryzae
dari sawah padi Indonesia masih terbatas, menjadikan studi ini salah satu yang
pertama untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan ini.
Antibiotic use in agriculture has contributed to the emergence of
resistance not only in clinical settings but also in environmental and
plant-associated bacteria. In Southeast Asia, including Indonesia, the
application of antibiotics in rice cultivation remains poorly regulated,
raising concerns over the emergence of antibiotic-resistant phytopathogens.
This study aimed to assess the antibiotic susceptibility and detect antibiotic
resistance genes (ARGs) and integron in Xanthomonas oryzae pv. oryzae,
the causal agent of bacterial leaf blight in rice. A total of 34 X. oryzae
pv. oryzae isolates were collected from major rice-producing regions in
Indonesia, including South Sulawesi, Yogyakarta, Central Java, and East Java.
These isolates were subjected to phenotypic antibiotic susceptibility testing
using the broth microdilution method against five antibiotics. Resistance
classification was based on MIC?? and MIC?? values, revealing variability in
susceptibility. Ampicillin and kanamycin exhibited the highest MIC??
values, indicating reduced efficacy, while gentamicin and streptomycin showed
greater effectiveness. Based on the phenotypic profiles, 10 representative
isolates were selected for molecular screening. PCR assays identified several
ARGs, including blaOXY, aadA7, aac(IV), cmIV, tet(X5), tetD, and intI3.
Interestingly, several isolates carrying resistance genes
exhibited phenotypic susceptibility, suggesting that the presence of ARGs does
not always confer detectable resistance under test conditions. This discrepancy
may be due to regulatory or functional factors, though further investigation is
required. Despite growing
awareness, molecular data on ARGs and integron in X. oryzae pv. oryzae
from Indonesian rice fields remain scarce, making this study one of the first
to address this knowledge gap.
Kata Kunci : Xanthomonas oryzae pv. oryzae, antibiotik resisten gen, Konsentrasi hambat minimum, Integron