Laporkan Masalah

Upaya Laki-Laki Memperkuat Posisi Sosial-Ekonomi Dalam Perubahan Sistem Pewarisan Matrilineal Di Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah

Alfi Indah Kumala, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.

2025 | Tesis | S2 Antropologi

Beberapa suku di Indonesia seperti Minangkabau, Semende, Ngada dan sebagian kecil komunitas suku Jawa menerapkan sistem pewarisan matrilineal. Pada suku Jawa, pewarisan matrilineal bisa ditemukan dalam masyarakat pegunungan di Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Pada sistem pewarisan matrilineal, laki-laki cenderung berada dalam kondisi yang secara sosial-ekonomi relatif lemah karena tidak memiliki akses terhadap tanah waris. Dalam situasi tersebut, laki-laki Petungkriyono secara historis telah melakukan upaya untuk memperbaiki posisi sosial-ekonominya. Berbagai cara diupayakan laki-laki agar strukturasi sosial-ekonomi dapat terjadi. Cara tersebut dilakukan dalam bentuk pemeliharaan sapi, pemanfaatan hasil hutan seperti aren, kopi, sengon dan madu serta peningkatan akses terhadap pendidikan dan pengembangan sektor usaha non-pertanian. Upaya-upaya ini berhasil meningkatkan posisi laki-laki dan menyeimbangkan relasi kuasa rumah tangga. Meski demikian, sistem pewarisan tanah pada masyarakat Petungkriyono relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui alasan lambatnya perubahan pewarisan tanah dalam sistem matrilineal di Petungkriyono.
Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2024 di Dusun Ronggo, Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Adapun data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara observasi-partipasi, survey rumah tangga pada 20 keluarga, wawancara mendalam dan studi literatur dari berbagai sumber seperti artikel ilmiah, laporan penelitian lapangan terdahulu oleh Antropologi UGM, arsip Lembaga Masyarakat Desa Hutan dan peta Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). 
Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberlangsungan perubahan pewarisan tanah dalam sistem matrilineal berjalan lambat karena ketidakhadiran pasar tanah dan masih kuatnya praktik perkawinan endogami. Ketidakhadiran pasar tanah dalam masyarakat Petungkriyono membuat laki-laki tidak bisa memiliki tanah dengan cara selain pewarisan karena transaksi jual-beli berlangsung secara terbatas dalam sirkulasi kerabat dan gender tertentu. Selain itu, perkawinan endogami yang masih terjadi hingga saat ini turut mengamankan keberlangsungan kepemilikan dan pewarisan tanah agar tetap berada pada garis keturunan perempuan.

Several tribes in Indonesia, such as the Minangkabau, Semende, Ngada, and a small part of the Javanese community, practise a matrilineal inheritance system. Among the Javanese, matrilineal inheritance can be found in the mountain communities of Petungkriyono, Pekalongan, Central Java. In this matrilineal inheritance system, men tend to be in a relatively weak socio-economic position because they do not have access to inherited land. In this situation, the men of Petungkriyono have historically made efforts to improve their socio-economic position. Men have attempted various methods to achieve socio-economic restructuring. These methods include cattle breeding and utilisation of forest products such as palm sugar, coffee, sengon wood, and honey, as well as improving access to education and developing non-agricultural business sectors. These efforts have been successful in improving the position of women and balancing power relations within households. However, the land inheritance system in Petungkriyono society has not shown any significant changes. Therefore, the purpose of this study is to determine the reasons for the slow pace of change in land inheritance in the matrilineal system in Petungkriyono.
This research was conducted in November-December 2024 in Ronggo Hamlet, Tlogopakis Village, Petungkriyono Subdistrict, Pekalongan Regency. The data in this study were obtained through participant observation, household surveys of 20 families, in-depth interviews with five key informants, and literature studies from various sources such as scientific articles, previous field research reports by the UGM Anthropology team, archives from the Village Forest Community Institution, and land registration map.
The findings of this study show that the continuity of land inheritance in the matrilineal system is slow due to the absence of a land market and the continued practice of endogamous marriage. The absence of a land market in Petungkriyono society means that men cannot own land except through inheritance, as sales transactions are limited to certain relatives and genders. In addition, endogamous marriages, which still occur today, help to ensure the continuity of land ownership and inheritance so that it remains within the female line of descent.

Kata Kunci : Pewarisan matrilineal, strukturasi sosial-ekonomi, relasi kuasa

  1. S2-2025-527626-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527626-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527626-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527626-title.pdf