Transformasi Sebambangan Dalam Masyarakat Komering: Perkembangan Budaya Di Tengah Modernisasi
Mia Ama Rossa, Dr. Fina Itriyati, M.A
2025 | Tesis | S2 Sosiologi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan praktik sebambangan dalam masyarakat Komering di Desa Muncak Kabau dimulai dari era 1990-an hingga saat ini, dengan menggunakan teoritis Pierre Bourdieu sebagai lensa analisis utama. Sebambangan yang merupakan pernikahan adat dengan mekanisme belarian, telah menjadi bagian integral dari struktur sosial, identitas budaya dan mekanisme kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat Komering. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap penyintas dan tokoh adat. Penelitian ini menemukan bahwa praktik sebambangan tidak bersifat statis, melainkan terus mengalami rekontekstualisasi dalam menjawab perubahan sosial. Pada era 1990-an, sebambangan masih beroperasi sebagai doxa yang direproduksi kuat secara tradisional oleh struktur patriarki dan keterbatasan modal ekonomi. Namun, memasuki era 2000-an hingga saat ini, modernisasi menghadirkan field baru melalui pendidikan formal, teknologi dan ekonomi yang menstimulasi negosiasi habitus. Pendidikan formal sebagai kapital budaya menjadi faktor utama dalam perubahan perspektif terhadap praktik sebambangan. Individu dengan modal budaya tinggi cenderung mengembangkan habitus reflektif yang menolak sebambangan sebagai pilihan yang taken for granted. Sebaliknya, kelompok dengan modal terbatas akan terus memproduksi sebambangan sebagai strategi adaptif dalam menghadapi keterbatasan struktural. Proses ini membuktikan bahwa penetrasi nilai-nilai baru yang diusung oleh modernisasi tidak serta-merta menghilangkan tradisi, melainkan menciptakan ruang kontestasi dan reinterpretasi antara nilai lama dan baru. Dengan demikian, sebambangan dalam masyarakat Komering bukan hanya fenomena tradisional semata, tetapi juga arena dialektis antara struktur dan agensi, serta kontinuitas dan perubahan. Transformasi ini mencerminkan fleksibilitas habitus dalam menghadapi arus modernisasi dan menunjukkan bagaimana tradisi tetap relevan melalui proses negosiasi sosial yang dinamis.
This study aims to analyze the development of sebambangan practice within in Komering community in Muncak Kabau Village starting from the 1990s to the present, using theory promoted by Pierre Bourdieu as the main analysis lens. Sebambangan which is a traditional marriage with “belarian” mechanism, has become an integral part of the social culture, cultural identity, and mechanisms of social control in the Komering community. This research uses a qualitative method with an ethnographic approach conducted through observation and in-depth interviews with survivors and traditional leaders. The research found that the practice of sebambangan is not static, but continues to experience recontextualization in response to social change. In the 1990s, sebambangan still operated as a doxa that was strongly reproduced in the traditional way by patriarchal structures dan limited economic capital. However, entering the 2000s until now, modernization presents a new field through formal education, technology, and economy that stimulates habitus negotiations. Formal education as cultural capital is a key factor in changing perspectives on the practice sebambangan. Individuals with high cultural capital tend to develop a reflective habitus that rejects sebambangan as a taken-for-granted choice. Conversely, groups with limited capital will continue to reproduce sebambangan as an adaptive strategy in facing structural limitations. This process proves that the penetration of new values brought by modernization does not automatically eliminate tradition, but rather creates a space for contestation and reinterpretation between old and new values. Thus, sebambangan in Komering society is not just traditional phenomenon, but also a dialectical arena between structure and agency, as well as continuity and change. This transformation reflect the flexibility of habitus in facing the currents of modernization and shows how traditions remains relevant through a dynamic process of social negotiation.
Kata Kunci : Kata Kunci: Sebambangan, habitus, modal budaya, modernisasi masyarakat Komering, transformasi tradisi, Pierre Bourdieu. Keyword: sebambangan, habitus, cultural capital, modernization of Komering society, traditions transformation, Pierre Bourdieu