Laporkan Masalah

Integrasi Pemodelan Inundasi Tsunami dengan Penilaian Kerentanan dan Kapasitas untuk Penyusunan Strategi Mitigasi Tsunami di Pesisir Kota Palu

Retno Argian Pangesti Putri, Dr. Ir. Bambang Kun Cahyono, ST., M.Sc., IPU; Prof. Dr. Ir. Dina Ruslanjari, M.Si

2025 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANA

Kota Palu merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap tsunami akibat konfigurasi Teluk Palu yang sempit serta kedekatannya dengan Patahan Palu Koro. Kejadian tsunami tahun 2018 mengungkap kelemahan sistem peringatan dini dan rendahnya kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan pemodelan inundasi tsunami dengan analisis kerentanan dan kapasitas masyarakat guna merumuskan strategi mitigasi berbasis spasial di wilayah pesisir Kota Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan desain explanatory sequential. Pemodelan tsunami dilakukan menggunakan perangkat lunak MIKE 21 untuk tiga skenario magnitudo (7,5 Mw; 8 Mw; dan 8,5 Mw). Penilaian kerentanan dan kapasitas berdasarkan aspek fisik, sosial-ekonomi, dan institusi berdasarkan zona bahaya hasil pemodelan. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei terhadap 202 responden, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan perwakilan instansi terkait dan masyarakat lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario terburuk (8,5 Mw) menghasilkan genangan tsunami dengan ketinggian hingga 16 meter dan jarak inundasi lebih dari 700 meter di beberapa kelurahan. Kelurahan seperti Besusu Barat, Talise, dan Lere berada pada zona bahaya tinggi dengan tingkat kerentanan tinggi dan kapasitas rendah. Integrasi pemodelan dan penilaian kerentanan dan kapasitas ini digunakan untuk menyusun strategi mitigasi yang kontekstual, yang dikelompokkan dalam matriks TWOS. Strategi mencakup pendekatan struktural seperti penguatan tanggul, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan shelter, serta pendekatan non-struktural berupa peningkatan literasi kebencanaan dan penguatan kelembagaan lokal. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Kota Palu telah memiliki fondasi mitigasi bencana tsunami secara struktural dan non struktural, namun implementasinya masih terbatas. Diperlukan pengembangan lebih lanjut agar strategi yang telah dirintis dapat menjangkau seluruh wilayah pesisir yang berisiko tinggi. Integrasi pendekatan fisik dan sosial ini dapat menjadi model komprehensif untuk perencanaan pengurangan risiko tsunami berbasis zona bahaya di wilayah pesisir lainnya.

Palu City is highly vulnerable to tsunamis due to the narrow configuration of Palu Bay and its proximity to the Palu-Koro Fault. The 2018 tsunami revealed weaknesses in the early warning system and low community preparedness. This study aims to integrate tsunami inundation modeling with vulnerability and capacity analysis to formulate spatial-based mitigation strategies for the coastal areas of Palu. A mixed-methods approach with an explanatory sequential design was used. Tsunami modeling was conducted using MIKE 21 software under three magnitude scenarios (7.5 Mw, 8 Mw, and 8.5 Mw). Vulnerability and capacity assessments were based on physical, socio economic, and institutional aspects within the modeled hazard zones. Quantitative data were collected from 202 respondents through surveys, while qualitative data were obtained from in-depth interviews with institutional representatives and local communities. Results indicate that the worst-case scenario (8,5 Mw) could generate inundation up to 16 meters high and over 700 meters inland in several sub-districts. Areas such as Besusu Barat, Talise, and Lere are classified as high-hazard zones, with high vulnerability and low capacity. The integration of modeling and vulnerability capacity assessment was used to develop contextual mitigation strategies, summarized in a TWOS matrix. These strategies include structural approaches, such as strengthening coastal defenses, establishing evacuation routes, implementing early warning systems, and providing shelters, and non-structural approaches including disaster literacy and community-based institutional capacity development. The study concludes that while Palu City has established a foundation for tsunami mitigation through both structural and non-structural efforts, implementation remains limited. Further development is needed to expand these efforts across all high-risk coastal areas. The integration of physical and social approaches offers a comprehensive model for tsunami risk reduction planning in other coastal regions. 

Kata Kunci : pemodelan inundasi tsunami, kerentanan, kapasitas, strategi mitigasi, komunitas tangguh bencana

  1. S2-2025-510130-abstract.pdf  
  2. S2-2025-510130-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-510130-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-510130-title.pdf