Pengembangan Kawasan Perkotaan Baru Bukit Halimun Berbasis Eco - Compact City di Kota Luwuk
Muhammad Faqih Imawan Hipan, Dr. Eng. Nedyomukti Imam Syafii, S.T., M.Sc
2025 | Tesis | MAGISTER RANCANG KOTA
Kawasan
perkotaan merupakan pusat
aktivitas dengan tingkat penggunaan sumber daya alam yang tinggi
sehingga berdampak besar pada isu – isu lingkungan. Perkembangan suatu kawasan perkotaan
bergerak beriringan dengan laju
pertumbuhan jumlah penduduk
yang disebabkan oleh suatu
hal alami ataupun yang tidak alami. Kota di tuntut agar dapat mengakomodasi seluruh kegiatan masyarakatnya seperti bernaung, bekerja, serta rekreasi. Hal ini tentunya menyebabkan perubahan pemakaian
lahan perkotaan, dimana luas
area hijau akan terus menyusut seiring dengan berjalannya waktu. Kondisi tersebut dapat
berdampak pada masalah
lingkungan yang mengganggu pola sirkulasi udara di kawasan perkotaan
yang pada akhirnya menyebabkan perubahan temperatur
udara yang signifikan
antara area perkotaan dengan area sub urban. Kawasan Bukit Halimun merupakan kawasan
yang direncanakan menjadi kawasan perkotaan baru di Kota Luwuk melalui dokumen
RTBL yang dikeluarkan oleh pemerintah
daerah Kabupaten Banggai pada tahun 2007 dengan total
luas keseluruhan area perencanaan kawasan
92 Hektar.
Penelitian ini menggunakan metode
deduktif kuantitatif yang bersifat preskriptif
dengan cara melibatkan teori compact city sebelum melakukan analisis tingkat
kekompakan rencana eksisting, serta permodelan objek dan simulasi kondisi eksisting dengan memanfaatkan bantuan
software Envi-MET. Metode ini digunakan dalam menganalisis tingkat kekompakkan rencana eksisting
kawasan perkotaan baru Bukit Halimun serta melakukan evaluasi dan simulasi
terhadap kondisi eksisting kawasan untuk mengetahui dampak
perubahan iklim mikro pada kawasan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa beberapa aspek pada
rencana eksisting kawasan Bukit Halimun seperti kepadatan penduduk dan nilai
aktivitas masih tergolong rendah, serta sistem transportasi umum kawasan tergolong
buruk. Selain itu berdasarkan hasil simulasi iklim mikro, kondisi
eksisting saat ini memiliki nilai suhu udara yang tergolong cukup tinggi di
beberapa titik pada kawasan. Konsep
eco – compact city tentunya dapat dipertimbangkan sebagai alternatif
dalam mengatasi permasalahan perkotaan dengan pendekatan pola
guna lahan dan memungkinkan penciptaan jaringan utilitas publik yang efisien
serta memiliki unsur – unsur ekologi di wilayahnya melalui
upaya penekanan konsumsi energi sehingga tetap metropolis dengan konsep compact
nya serta tetap alami
dengan konsep eco-nya.
Urban
areas function as centers of human activity with high levels of natural
resource consumption, which significantly impacts environmental issues. The
development of urban zones progresses in tandem with population growth, driven
by both natural and artificial factors. Cities are thus expected to accommodate
all facets of human activity—including housing, employment, and recreation.
This demand inevitably triggers changes in land use patterns, particularly the
gradual reduction of green open spaces over time. Such conditions contribute to environmental
challenges, especially in disrupting urban air circulation, ultimately leading
to significant temperature differentials between urban cores and their suburban
counterparts. Bukit
Halimun is a planned urban expansion area in the city of Luwuk, designated
through the RTBL (Detailed Spatial Planning and Urban Design Guidelines) issued
by the local government of Banggai Regency in 2007, with a total planned
development area of 92 hectares.
This
study employs a deductive-quantitative
and prescriptive
method by incorporating the theory of compact city
prior to analyzing the compactness level of the existing plan, it also involves object
modeling and simulation of existing conditions using Envi-MET software. This
method is applied to assess the compactness of the existing urban development
plan of Bukit Halimun and
to conduct evaluation and simulation of the current conditions in order to
understand the impact of microclimate changes on the area.
The
research findings indicate that several aspects of the existing plan for the
Bukit Halimun area such
as population density and activity levels are still considered
low, while
the public transportation system is considered inadequate. Moreover, based on
the microclimate simulation results, the current condition of the area shows
relatively high air temperature values at several points within the site. The eco-compact city concept emerges as a viable
alternative to address these urban challenges. It emphasizes strategic land use
patterns and enables the development of efficient public utility networks while
integrating ecological elements. This dual approach allows cities to remain
metropolitan through compact urban form while preserving environmental quality
through eco-conscious strategies.
Kata Kunci : Kawasan Perkotaan Baru, Eco – Compact City, Bukit Halimun Luwuk, Iklim Mikro, Envi-MET