Pengaruh Konsentrasi Garam (NaCl) Terhadap Sifat Fisikokimia, Mikrobiologi dan Fungsional Terasi Belalang (Valanga nigricornis)
Shara Aprilla, Dr. Andriati Ningrum, S.T.P., M.Agr
2025 | Tesis | S2 Ilmu dan Teknologi Pangan
Belalang kayu (Valanga nigricornis) merupakan salah satu jenis hama
pertanian yang banyak ditemukan sehingga menjadi ancaman serius bagi tanaman
karena populasinya sulit dikendalikan. Meskipun sebagian masyarakat masih
kurang terbiasa mengonsumsi serangga secara utuh, belalang memiliki potensi
besar sebagai sumber protein alternatif dan bahan baku terasi belalang. Oleh karena
itu, diperlukan teknologi pengolahan yang sesuai untuk meningkatkan kualitas dan
daya terima produk, sekaligus membuka peluang inovatif dalam pemanfaatan
belalang sebagai pangan fungsional yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengembangkan terasi belalang sebagai produk makanan dengan sifat
fisikokimia, kualitas mikrobiologi, dan fungsional.
Belalang ditambahkan dengan berbagai konsentrasi garam (0%, 2,5%, 5%,
7,5%, dan 10%), digiling, dan dikeringkan dalam pengering kabinet pada suhu 50oC
selama 8 jam. Fermentasi dilakukan pada suhu 30oC selama 12 hari. Analisis
aktivitas fisikokimia, mikrobiologi dan fungsional dilakukan pada akhir fermentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi garam berpengaruh
signifikan (p<0>
fungsional terasi belalang. Penggunaan garam (0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%)
menurunkan kadar air dari 49,25% hingga 39,95%, aktivitas air dari 0,99 hingga
0,75, pH dari 8,46 hingga 6,25, serta derajat hidrolisis dari 13,18% hingga 9,43%.
Penggunaan garam 7,5?n 10% mengurangi jumlah bakteri asam laktat dan total
bakteri, dan semua perlakuan tidak terdapat cemaran mikroba. Selain itu,
penggunaan konsentrasi garam semakin tinggi juga meningkatkan aktivitas
antioksidan dari 15,12% hingga 36,40%. Terasi dengan garam 0?n 5% memiliki
asam amino total dominan, yaitu masing-masing alanin (34,62 mg/g dan 36,98
mg/g), prolin (28 mg/g dan 27,09 mg/g), leusin (19,69 mg/g dan 20,40 mg/g), serta
asam glutamat (19,59 mg/g dan 18,19 mg/g). Asam amino bebas yang dominan
adalah masing-masing alanin (0,35 mg/g dan 0,34 mg/g), tirosin (0,22 mg/g dan
0,21 mg/g), asam glutamat (0,20 mg/g dan 0,16 mg/g), serta leusin (0,16 mg/g dan
0,15 mg/g). Profil volatil utama pada terasi belalang menunjukkan bahwa NaCl 0%
didominasi oleh dimetil disulfida (43,39%) dan 3-metil-butanal (19,78%). Pada
NaCl 5%, senyawa utama meliputi dimetil disulfida (48,45%) dan 3-metil-butanal
(12,48%).
The grasshopper (Valanga nigricornis) is a prevalent agricultural pest that
poses a significant threat to crops due to its difficult-to-control population. Despite
limited public familiarity with consuming whole insects, grasshoppers exhibit
substantial potential as an alternative protein source and as raw material for
grasshopper paste. Therefore, appropriate processing technologies are required to
enhance the product’s quality and consumer acceptance, while also unlocking
innovative opportunities for the utilization of grasshoppers as a sustainable
functional food. Final product characteristics were evaluated through
physicochemical, microbiological, and functional properties analyses.
Grasshoppers were mixed with varying concentrations of salt (0%, 2.5%,
5%, 7.5%, and 10%), ground, and dried in a cabinet dryer at 50°C for 8 hours.
Fermentation was carried out at 30°C for 12 days. Physicochemical,
microbiological, and functional activity analyses were conducted at the end of the
fermentation period.
The results of the study demonstrated that salt concentration had a
significant effect (p<0>
quality, and functional characteristics of grasshopper-based terasi. Salt levels of 0%,
2.5%, 5%, 7.5%, and 10% reduced moisture content from 49.25% to 39.95%, water
activity from 0.99 to 0.75, pH from 8.46 to 6.25, and the degree of hydrolysis from
13.18% to 9.43%. Salt concentrations of 7.5% and 10?creased the counts of
lactic acid bacteria and total bacteria, and microbial contamination was absent
across all treatments. Moreover, increasing salt concentration enhanced antioxidant
activity from 15.12% to 36.40%. Terasi samples with 0% and 5% salt were found
to have dominant total amino acids, namely alanine (34.62 mg/g and 36.98 mg/g),
proline (28 mg/g and 27.09 mg/g), leucine (19.69 mg/g and 20.40 mg/g), and
glutamic acid (19.59 mg/g and 18.19 mg/g). The predominant free amino acids were
alanine (0.35 mg/g and 0.34 mg/g), tyrosine (0.22 mg/g and 0.21 mg/g), glutamic
acid (0.20 mg/g and 0.16 mg/g), and leucine (0.16 mg/g and 0.15 mg/g). The key
volatile compounds in grasshopper-based terasi showed that 0% NaCl treatment
was dominated by dimethyl disulfide (43.39%) and 3-methylbutanal (19.78%),
while in 5% NaCl treatment, the major compounds were dimethyl disulfide
(48.45%) and 3-methylbutanal (12.48%).
Kata Kunci : belalang, protein alternatif, sifat fisikokimia, sifat mikrobiologi, garam / grasshopper, alternative protein, physicochemical characteristics, salt