Morfologi Pola Kota Wisata Bersejarah, Studi Kasus: Lasem, Jawa Tengah
MUTIAWATI MANDAKA, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D, Dr. Dyah Titisari Widyastuti, S.T., MUDD
2025 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur
Kota-kota kecil bersejarah di Indonesia memiliki
potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi heritage tourism yang
berkelanjutan. Lasem, sebuah kota pesisir di Jawa Tengah, merupakan salah satu
contoh yang menonjol, dengan jejak morfologi kota yang terbentuk oleh lapisan
sejarah panjang mulai dari periode Hindu, Islam, Tionghoa-Muslim, kolonial,
hingga kemerdekaan. Morfologi kota—yang mencakup elemen fisik seperti jaringan
jalan tradisional, pola permukiman, rumah tinggal bergaya arsitektur kolonial
dan Tionghoa, serta fungsi-fungsi sosial-keagamaan—tidak hanya
merepresentasikan warisan fisik, tetapi juga mengandung nilai simbolis yang
memperkuat identitas lokal dan menjadi daya tarik utama dalam pariwisata
berbasis budaya.
Dalam konteks pengembangan pariwisata,
struktur morfologis kota memainkan peran penting dalam menunjang elemen 3A
(Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas). Atraksi budaya tidak hanya mencakup
bangunan dan lanskap historis, tetapi juga narasi sejarah, praktik sosial, dan
ritual masyarakat. Aksesibilitas seringkali dibentuk oleh jaringan jalan
kolonial dan jalur dagang lama, sementara amenitas sangat bergantung pada
adaptasi kawasan warisan terhadap kebutuhan wisatawan. Karakteristik heritage tourism yang menekankan
edukasi, pelestarian, partisipasi lokal, dan keberlanjutan menuntut sinergi
yang erat antara morfologi kota dan strategi pengembangan destinasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
kontribusi morfologi kota dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan
di kota-kota kecil bersejarah, dengan fokus pada studi kasus Kota Lasem. Metode
yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan strategi historical interpretive, melalui kajian
pustaka, analisis dokumen sejarah, dan observasi lapangan terhadap struktur
spasial dan elemen-elemen morfologis kota. Pendekatan ini memungkinkan
penelusuran evolusi bentuk kota dalam hubungannya dengan dinamika sosial,
budaya, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi proses pariwisata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
morfologi kota memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan tahapan
perkembangan kota wisata yang dapat dipolakan ke dalam tiga kategori: (1) Kota
Wisata Potensial, yakni kota dengan kekayaan warisan namun belum memiliki
struktur pariwisata yang matang; (2) Kota Wisata Berkembang, yang mulai
memiliki infrastruktur dasar, strategi promosi, dan pengelolaan kawasan
warisan; serta (3) Kota Wisata Terintegrasi, yaitu kota yang telah berhasil
mengintegrasikan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas secara seimbang dengan
pelestarian budaya.
Diskusi dalam penelitian ini menekankan urgensi menjadikan morfologi kota sebagai dasar dalam perencanaan, pengelolaan, dan pengembangan pariwisata di kawasan bersejarah. Rekomendasi utama adalah perlunya integrasi prinsip morfologi kota ke dalam kebijakan tata ruang dan strategi pariwisata berkelanjutan, tidak hanya untuk Lasem tetapi juga bagi kota-kota kecil bersejarah lainnya di Indonesia. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani antara pelestarian warisan budaya dan pembangunan ekonomi lokal secara harmonis dan berkelanjutan.
Historic
small towns in Indonesia hold significant potential for sustainable development
through heritage tourism. Lasem, a coastal town in Central Java, stands out as
a prominent case, with an urban morphology shaped by layered historical
influences—from the Hindu period, Islamic era, Chinese-Muslim settlement, Dutch
colonialism, to post-independence development. Urban morphology, encompassing
physical elements such as traditional road networks, settlement patterns,
colonial and Chinese-style architecture, as well as religious and social
functions, represents not only tangible heritage but also symbolic values that
strengthen local identity and become key attractions in cultural tourism.
In
the context of tourism development, the city's morphological structure plays a
vital role in supporting the 3A elements: Attractions, Accessibility, and
Amenities. Cultural attractions include both tangible assets (buildings,
historic urban landscapes) and intangible elements (narratives, rituals, local
customs). Accessibility is often determined by historical trade routes and
colonial infrastructure, while amenities depend on the adaptive use of heritage
areas to meet visitor needs. The characteristics of heritage tourism—which
emphasize education, preservation, local participation, and
sustainability—require a close synergy between urban morphology and destination
development strategies.
This
research aims to examine the contribution of urban morphology in supporting
sustainable tourism development in small historical cities, focusing on the
case study of Lasem City. The method employed is a qualitative approach with a
historical interpretive strategy, involving literature review, analysis of
historical documents, and field observation of the city's spatial structure and
morphological elements. This approach allows for tracing the evolution of the
city's form in relation to the social, cultural, economic, and political
dynamics influencing the tourism process.
The
findings reveal that urban morphology significantly contributes to defining
three stages of historic tourism city development: (1) Potential Tourism City,
characterized by rich heritage assets but lacking tourism infrastructure and
planning; (2) Emerging Tourism City, with initial infrastructure, promotion
strategies, and heritage management in place; and (3) Integrated Tourism City,
where attractions, accessibility, and amenities are harmoniously balanced with
cultural preservation.
The study emphasizes the urgency of using urban morphology as a foundation for planning, managing, and developing historic urban areas. The main recommendation is to integrate morphological principles into spatial planning and sustainable tourism policies—not only for Lasem but also for other small historic coastal towns in Indonesia. Such an approach is expected to bridge cultural heritage conservation with inclusive and sustainable local economic development.
Kata Kunci : morfologi kota, kota kecil bersejarah, wisata sejarah, pelestarian kawasan, Lasem, kota pesisir, pengembangan berkelanjutan