Efek Sildenafil Pada Fungsi Seksual Perempuan Dengan Hipertensi Arteri Pulmonal Terkait Penyakit Jantung Bawaan (Subanalisis Registri COHARD-PH)
Alifiani Ismawardika, Prof. Dr. dr. Lucia Kris Dinarti, Sp.PD(K), Sp.JP(K); Dr. Med. dr. Putrika Prastuti Ratna Gharini, Sp.JP(K)
2025 | Tesis-Spesialis | ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
Latar
Belakang: Penyakit
jantung bawaan mempengaruhi sekitar 1?ri seluruh kelahiran hidup di seluruh
dunia dan merupakan kelainan bawaan yang paling sering didiagnosis. Sejumlah
penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10% pasien dengan penyakit jantung bawaan
(PJB) dewasa mengalami perkembangan hipertensi arteri pulmonal (HAP) dalam beberapa tahun setelah diagnosis awal. Tanpa
perawatan yang tepat, gagal jantung kanan dan kematian dapat terjadi. Sildenafil merupakan salah satu terapi yang sering digunakan. Beberapa penelitian menunjukkan hasil
bahwa sildenafil mampu memperbaiki fungsi seksual perempuan. Namun, pengaruh
langsung antara penggunaan sildenafil dengan fungsi seksual pada pasien dengan
penyakit jantung bawaan belum banyak diteliti.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasien
perempuan dengan HAP-PJB yang mendapatkan sildenafil memiliki kejadian lebih
rendah terhadap disfungsi seksual jika dibandingkan dengan pasien dengan PJB
yang tidak mendapatkan sildenafil.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain penelitian cohort retrospective. Data klinis, diambil dari rekam medis pasien RS Sardjito Yogyakarta yang datang dan dirawat pada periode Januari 2019 sampai dengan Februari 2025 dan kemudian diberikan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI) saat pasien kontrol di poliklinik jantung.
Hasil: Terdapat 76 subjek yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi, dimana 57 orang menggunakan sildenafil sebagai kelompok terpajan dan 19 orang lainnya merupakan kelompok yang tidak terpajan. Terdapat 30 orang (52.6%) pasien yang mendapatkan sildenafil dan mengalami disfungsi seksual dan 7 orang (36.8%) pasien yang tidak mendapat sildenafil dan mengalami disfungsi seksual. Hasil dari analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak didapatkan hubungan bermakna antara pemberian sildenafil dan kejadian disfungsi seksual pada subjek penelitian ini (p 0.117; IK 95% 0.76-2.70).
Kesimpulan: Perempuan dengan HAP-PJB yang mendapatkan terapi sildenafil tidak
memiliki kejadian lebih rendah terhadap disfungsi seksual jika dibandingkan
dengan perempuan dengan PJB yang tidak mendapatkan sildenafil
Background: Congenital
heart disease affects approximately 1% of all live births worldwide and is the
most commonly diagnosed congenital anomaly. Several studies have shown that
approximately 10% of adults with congenital heart disease (CHD) develop
pulmonary arterial hypertension (PAH) within a few years after initial
diagnosis. Without proper treatment, right heart failure and death may occur.
Sildenafil is one of the commonly used therapies. Some studies have shown that
sildenafil can improve sexual function in women. However, the direct
relationship between sildenafil use and sexual function in patients with
congenital heart disease has not been extensively studied.
Objective: To determine
whether female patients with PAH-CHD who receive sildenafil have a lower
incidence of sexual dysfunction compared to patients with CHD who do not
receive sildenafil.
Method: This study is an
analytical observational study with a retrospective cohort design. Clinical
data were obtained from the medical records of patients at Sardjito Hospital in
Yogyakarta who were admitted and treated between January 2019 and February 2025,
and then asked to complete the Female Sexual Function Index (FSFI)
questionnaire during their visit at the cardiology outpatient clinic.
Result: A total of 76 subjects
met the inclusion and exclusion criteria, with 57 participants in the
sildenafil-exposed group and 19 in the non-exposed group. Among those receiving
sildenafil, 30 (52.6%) patients experienced sexual dysfunction, while 7 (36.8%)
of those not receiving sildenafil also experienced sexual dysfunction. The
result of the bivariate analysis showed no significant association between
sildenafil administration and the occurrence of sexual dysfunction in the study
subjects (p 0.117; 95% CI 0.76-2.70).
Conclusion: Women with
PAH-CHD who received sildenafil therapy did not have a lower incidence of
sexual dysfunction compared to women with CHD who did not receive sildenafil.
Kata Kunci : sildenafil, pulmonary arterial hypertension, female sexual function