Pengembangan Model dan Prediksi Kekeringan Berbasis Citra Penginderaan Jauh Multi-Spatio-Temporal di Jawa Timur
A. Sediyo Adi Nugraha, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D.; Dr. Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si.; Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D.
2025 | Disertasi | S3 Geografi
Kekeringan telah menjadi bencana global yang
memengaruhi perubahan iklim dan menelan korban jiwa hingga 650.000 orang,
sehingga masuk dalam prioritas SDGs, termasuk di Indonesia (SDGs 2 dan 15) yang
terdampak fenomena El-Nino. Untuk memantau kekeringan secara cepat dan luas,
diperlukan pendekatan penginderaan jauh dengan integrasi variabel suhu
permukaan, vegetasi, dan ketinggian. Mengetahui demikian, maka penelitian ini
memiliki tujuan untuk memberikan peran terhadap penyelesaian kekeringan
diantaranya (1) Mengkaji metode pengolahan suhu permukaan berdasarkan nilai
emisivitas dan menyusun tahapan validasi minimal pada hasil pengolahan suhu
permukaan dengan pengukuran di lapangan, (2) Menganalisis hubungan
evapotranspirasi dengan perbedaan ketinggian suatu wilayah dari data citra
penginderaan jauh multi spasio-temporal, dan (3) Mengembangkan model dan
prediksi dengan memperhatikan hubungan ketinggian-suhu
permukaan-evapotranspirasi pada model pengembangan yang dilakukan serta
kaitannya dengan karakteristik fisiografi untuk memperoleh akurasi yang dapat
dipercaya melalui citra penginderaan multi spasio-temporal yang berbeda.
Adapun metode yang dipergunakan untuk menjawab dan
menyelesai tujuan penelitian tersebut dilakkukan secara bertahap. Pertama Identifikasi
suhu permukaan sebagai variabel sangat penting untuk dilakukan karena memiliki
beragam metode dan tahapan yang berbeda untuk memperoleh informasi tersebut.
Penelitian ini mempergunakan tiga metode untuk melakukan uji akurasi
(pengukuran tunggal, grid, dan kamera termal) dan validasi dan mempertimbangkan
emisivitas dalam perolehan informasi suhu permukaan. Kedua perolehan informasi
vegetasi, pendekatan yang digunakan melalui evapotranspirasi karena menjadi
akibat dari adanya suhu permukaan kepada vegetasi. Perhitungan evapotranspirasi
juga mempertimbangkan hasil perolehan suhu permukaan dan kondisi ketinggian
yang berbeda pada setiap wilayah melalui metode SEBAL. Terakhir ialah melakukan
pengembangan model dari hasil kedua tujuan sebelumnya dan menjadikan sebuah
formula baru dalam identifikasi potensi kekeringan dengan nama Temperature-Evapotranspiration
Index (TEI) yang berasal dari konsep LST-evapotranspirasi-ketinggian.
Hasilnya, menjawab tujuan pertama membuktikan bahwa
metode yang optimal dengan emisivitas ialah NBEM dengan perpaduan metode suhu
permukaan yang berasal dari MCMWD dan MCMsko
baik pada resolusi rendah dan menengah mampu memberikan
nilai uji akurasi lebih tinggi dibandingkan metode suhu permukaan lainnya
berdsarkan tiga metode pengukuran di lapangan. Pada tujuan kedua menunjukkan
bahwa evapotranspirasi memiliki hubungan positif pada ketinggian (±0,45) dan negatif
pada suhu permukaan (-0,9). Hal itu membuktikan hubungan suhu permukaan dan
vegetasi akan selalu negatif, sedangkan hubungan pada ketinggian menunjukkan
bahwa evapotranspirasi di wilayah yang lebih rendah akan cepat mencapai
maksimal dibandingkan wilayah yang lebih tinggi. Terakhir tujuan ketiga model
TEI memiliki akurasi yang tinggi sebesar 86 % dibandingkan model orisinalnya
yaitu TVDI sebesar 71%. Model TEI memiliki tiga kategori yang dihasilkan
berdasarkan nilai ambang batas sebesar <0> 0,449
TEI < 0> 0,832 kategori basah. Selain itu,
model TEI ini mampu untuk melakukan identifikasi potensi kekeringan khususnya
kekeringan Pertanian.
Drought has become a global disaster that affects
climate change and has claimed the lives of up to 650,000 people, so it is
included in the SDGs priority, including in Indonesia (SDGs 2 and 15) which is
affected by the El-Nino phenomenon. To monitor drought quickly and widely, a
remote sensing approach is needed with the integration of surface temperature,
vegetation, and altitude variables. Knowing this, this study aims to provide a
role in resolving drought, including (1) Reviewing surface temperature
processing methods based on emissivity values and compiling minimal validation
stages on the results of surface temperature processing with field
measurements, (2) Analyzing the relationship between evapotranspiration and
differences in altitude of a region from multi-spatio-temporal remote sensing
image data, and (3) Developing models and predictions by paying attention to the
relationship between altitude-surface temperature-evapotranspiration in the
development model carried out and its relationship with physiographic
characteristics to obtain reliable accuracy through different
multi-spatio-temporal sensing images.
The methods used to answer and complete the research
objectives were carried out in stages. First, identifying surface temperature
as a variable is very important to do because it requires various methods and
different stages to obtain this information. This study used three methods to
conduct accuracy and validation tests and considered emissivity in obtaining
surface temperature information. Second, vegetation information was obtained
through evapotranspiration because it is the effect of surface temperature on
vegetation. Evapotranspiration calculations also took into account the results
of surface temperature and different altitude conditions in each region using
the SEBAL method. Finally, the development of a model from the results of the
two previous objectives was carried out and created a new formula for
identifying drought potential derived from the LST-evapotranspiration-altitude
concept.
The result, answering the first objective, proves
that the optimal method with emissivity is NBEM with a combination of the
surface temperature method derived from MCM.WD and MCMshoeBoth at low and
medium resolutions are able to provide higher accuracy test values compared to
other surface temperature methods. The second objective shows that
evapotranspiration has a positive relationship with altitude (±0.45) and a
negative relationship with surface temperature (-0.9). This proves that the
relationship between surface temperature and vegetation will always be
negative, while the relationship at altitude shows that evapotranspiration in
lower areas will reach a maximum faster than in higher areas. Finally, the
third objective of the new model has a high accuracy of 86% compared to the
original model, namely TVDI at 71%. In addition, the model is able to identify
potential droughts, especially agricultural droughts.
Kata Kunci : Drought, Remote Sensing, multi spatio-temporal, Physiography