Hierarki Aktivisme: Digitalisasi Mengubah Struktur Aktivisme
Danang Puji Atmojo, Dr. Indah Surya Wardhani, S.Sos., M.Sc.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Tesis ini membahas bagaimana struktur hierarki dalam praktik aktivisme terbentuk dan bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengubah struktur tersebut. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif, yang memetakan dinamika hierarki di antara aktor-aktor utama dalam gerakan sosial di Kota Semarang selama dua periode: 2004–2014 dan 2014–2024. Aktor-aktor tersebut mencakup mahasiswa, buruh, petani, pelajar, nelayan, dan NGO. Penelitian ini berangkat dari kritik terhadap asumsi bahwa digitalisasi otomatis menciptakan struktur gerakan yang egaliter. Sebaliknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa hierarki tetap beroperasi, meskipun dalam bentuk yang lebih terselubung dan fleksibel.
Data dikumpulkan melalui desk study, web scraping manual, studi arsip, dan wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor kunci. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hierarki tidak semata-mata bersifat negatif, melainkan memiliki fungsi koordinatif dalam memperkuat efektivitas aksi kolektif. Namun, ketika hierarki tidak direfleksikan secara kritis, ia dapat mengalami normalisasi dan bertransformasi menjadi elitisme yang mereproduksi ketimpangan internal dalam gerakan. Oleh karena itu, tesis ini menegaskan pentingnya mekanisme kontrol, rotasi kepemimpinan, dan refleksi kolektif dalam menjaga prinsip-prinsip partisipatif dan demokratis dalam struktur gerakan sosial. Studi ini juga menempatkan Kota Semarang sebagai ruang penting dalam membaca ulang konstelasi hierarki dan digitalisasi gerakan sosial di Indonesia.
This thesis investigates how hierarchical structures are formed within activist practices and how digital information and communication technologies (ICTs) transform these structures. Employing a qualitative approach with a comparative case study design, this study maps the dynamics of hierarchy among key actors in social movements in Semarang City across two periods: 2004–2014 and 2014–2024. These actors include student groups, labor unions, farmers, high school students, fisherfolk, and non-governmental organizations (NGOs). The study challenges the prevailing assumption that digitalization inherently produces egalitarian movements. On the contrary, the findings reveal that hierarchical structures persist, albeit in more subtle and flexible forms.
Data were collected through desk studies, manual web scraping, archival research, and semi-structured interviews with key actors. The findings show that hierarchy can play a functional and coordinating role that enhances the effectiveness of collective action. However, when left unexamined, such structures may become normalized and evolve into forms of elitism, reproducing internal power asymmetries within movements. This thesis thus highlights the necessity of internal accountability mechanisms, leadership rotation, and collective reflexivity to preserve democratic and participatory principles in social movements. The case of Semarang City is presented as a strategic lens to rethink the intersection between digitalization and hierarchy in Indonesia's activist landscape.
Kata Kunci : hierarki, aktivisme digital, gerakan sosial baru, elitisme, TIK