Evaluasi Konversi Cangkang Sawit Untuk Menghasilkan Energi Listrik Menggunakan Downdraft Gasifier di PLTSa Pulau Tinggi
Benny Hasiholan, Dr. Nugroho Dewayanto, S.T., M.Eng.; Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Magister Teknik Sistem
Pemerintah Indonesia menargetkan bauran
energi terbarukan sebesar 17–19% pada 2025, turun dari target awal 23% karena
capaian yang belum optimal. Untuk mendukung transisi energi, biomassa lokal
menjadi sumber energi alternatif yang potensial, khususnya untuk pembangkit
listrik skala kecil-menengah. Cangkang kelapa sawit, limbah melimpah dari
industri sawit, memiliki nilai kalor tinggi dan kandungan sulfur rendah,
sehingga ramah lingkungan. Penelitian ini mengevaluasi pemanfaatan cangkang
sawit sebagai bahan bakar dalam PLTSa Pulau Tinggi yang menggunakan teknologi
gasifikasi. Analisis mencakup efisiensi konsumsi bahan bakar specific
fuel consumption (SFC), biaya pokok produksi listrik, dan dampak
lingkungan khususnya emisi dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukkan nilai
SFC aktual PLTSa Pulau Tinggi berkisar 3,7–6,2 kg/kWh, jauh lebih tinggi dari
pada nilai desain (±1,0 kg/kWh) akibat operasi beban parsial dan kandungan air
bahan bakar yang tinggi. Meskipun efisiensi konversi energi masih rendah, biaya
produksi listrik PLTSa (sekitar Rp7.000/kWh) lebih rendah ±30% dibanding
pembangkit diesel di Pulau Tinggi (±Rp10.000/kWh), sehingga memberikan potensi
penghematan biaya sekitar Rp2.900/kWh atau ±Rp119 juta per tahun. Dari sisi
lingkungan, emisi gas buang PLTSa (partikulat, NOx, SO?, CO, dll.) berada di
bawah ambang batas regulasi dan tingkat kebisingan memenuhi baku mutu,
menjadikan operasi PLTSa berbasis cangkang sawit aman dan ramah lingkungan.
The Indonesian
government targets a renewable energy mix of 17-19% by 2025, down from the
initial target of 23% due to suboptimal achievements. To support the energy
transition, local biomass is a potential alternative energy source, especially
for small-medium scale power plants. Palm oil shells, abundant waste from the
palm oil industry, have a high calorific value and low sulfur content, so they
are environmentally friendly. This study evaluates the use of palm oil shells
as fuel in the Pulau Tinggi PLTSa which uses gasification technology. The
analysis includes fuel consumption efficiency (SFC), cost of electricity
production, and environmental impact, especially emissions and noise. The
results showed that the actual SFC value of the Pulau Tinggi PLTSa ranged from
3.7–6.2 kg/kWh, much higher than the design value (±1.0 kg/kWh) due to partial
load operation and high fuel water content. Although the energy conversion
efficiency is still low, the cost of producing electricity from PLTSa (around
Rp7,000/kWh) is lower ±30% than diesel plants in Pulau Tinggi (±Rp10,000/kWh),
thus providing potential cost savings of around Rp2,900/kWh or ±Rp119 million
per year. From an environmental perspective, the exhaust emissions of PLTSa
(particulate matter, NOx, SO?, CO, etc.) are below the regulatory threshold and
the noise level meets quality standards, making the operation of palm
shell-based PLTSa safe and environmentally friendly.
Kata Kunci : Cangkang Sawit, Gasifikasi, Downdraft Gasifier, Specific Fuel Consumption, Transisi Energi