Evaluasi Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) di Puskesmas Kecamatan Nirunmas Kabupaten Kepulauan Tanimbar
Renghart Feninlambir, Prof.Dr.dr. Mubasysyir Hasanbasri,M.A ; dr. Likke Prawidya Putri, MPH,Ph.d
2025 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Latar Belakang: Integrasi
Layanan Primer (ILP) merupakan kebijakan nasional untuk memperkuat layanan
kesehatan primer berbasis siklus hidup. Namun, implementasi di daerah
tertinggal masih menghadapi tantangan besar. Kecamatan Nirunmas di Kabupaten
Kepulauan Tanimbar menjadi salah satu contoh wilayah dengan keterbatasan sumber
daya manusia, sarana, jaringan informasi, serta tata kelola, sehingga
diperlukan evaluasi untuk memahami capaian dan hambatan penerapan ILP di
tingkat layanan primer.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi
kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah
dokumen, kemudian dianalisis melalui reduksi, pengkodean, kategorisasi, dan
penyajian naratif.
Hasil: Implementasi ILP di Nirunmas telah mengadopsi pendekatan siklus hidup
di puskesmas, pustu, dan posyandu, tetapi pelaksanaan masih parsial karena
keterbatasan alat skrining, sarana, dan tenaga kesehatan. Jejaring pelayanan
berjalan melalui kader, gereja, dan pemerintah desa yang efektif menjangkau
masyarakat, namun bersifat informal dan tidak terstruktur lintas sektor.
Hambatan utama mencakup distribusi dan kompetensi SDM yang tidak merata, sarana
dan infrastruktur terbatas, sistem informasi kesehatan yang terhambat oleh
jaringan, serta pembiayaan yang belum proporsional. Tata kelola juga menunjukkan
ketimpangan: relatif formal di puskesmas, tetapi lemah di pustu dan posyandu.
Pencatatan dan pelaporan telah menggunakan aplikasi digital, tetapi masih
parsial sehingga data belum optimal dimanfaatkan.
Kesimpulan:
ILP di Nirunmas mencerminkan adaptasi berbasis komunitas
tetapi menghadapi hambatan sistemik. Penguatan sarana, tata kelola lintas
jenjang, digitalisasi informasi, dan pemberdayaan kader merupakan strategi
kunci memperkuat layanan primer di daerah tertinggal. Temuan ini menegaskan
pentingnya sinergi kebijakan nasional dengan modal sosial lokal agar tercapai
pemerataan layanan kesehatan yang berkeadilan.
Background:
Primary Health Care Integration (ILP) is a national policy
aimed at strengthening life-cycle–based health services. However,
implementation in underdeveloped regions faces significant challenges. Nirunmas
Subdistrict in Tanimbar Islands Regency is one such area, where health service
delivery is constrained by limited human resources, inadequate infrastructure,
weak information systems, and uneven governance. Evaluating ILP implementation
in this context is crucial to understand its achievements and barriers.
Methods: This study employed a qualitative case study design. Data were
collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, and
analyzed through reduction, coding, categorization, and narrative presentation.
Results: ILP in Nirunmas has adopted a life-cycle approach across health
centers, auxiliary facilities, and integrated posyandu, but implementation
remains partial due to shortages of screening tools, facilities, and health
workers. Service integration relies on community cadres, churches, and village
governments, which effectively support health promotion but remain informal and
lack structured cross-sectoral mechanisms. Major barriers include uneven
workforce distribution and competence, insufficient infrastructure, unstable
internet access that weakens health information systems, and inadequate
financing. Governance shows asymmetry: relatively formal at the health center
but weaker at auxiliary facilities and posyandu, where cadres act mainly as
executors without involvement in decision-making or monitoring. Digital
applications such as ASIK, SIMPUS, E-cohort, and RME have been introduced, but
their use is partial, and data are not fully utilized for evidence-based
management.
Conclusion:
ILP implementation in Nirunmas demonstrates strong
community-based adaptation yet faces systemic barriers. Strengthening
infrastructure, governance across levels, health information digitalization,
and cadre empowerment are essential. These findings highlight the need for
policies that integrate national strategies with local social capital to
achieve equitable and sustainable primary health care.
Kata Kunci : Integrasi Layanan Primer, Puskesmas, jejaring komunitas, tata kelola, daerah tertinggal,Primary Health Care Integration, Puskesmas, community networks, governance, underdeveloped regions