KONTESTASI WACANA “OKNUM” DI ERA DIGITAL: ANALISIS TERHADAP TWEET BERTAGAR #1HARI1OKNUM DI MEDIA SOSIAL TWITTER
A. Dzaki Nuhaiz As-Syarqawi, Prof. Dr. Heru Nugroho, S.U.
2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media
Penelitian ini mengkaji kontestasi wacana “oknum” melalui analisis tagar #1Hari1Oknum di media sosial Twitter sebagai bentuk resistensi digital terhadap penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat negara, khususnya instansi kepolisian negara Indonesia. Berangkat dari kasus-kasus pelanggaran yang viral pada 2021, tagar ini muncul sebagai respons atas eufemisme “oknum” yang kerap digunakan untuk mengisolasi kesalahan individu dari institusi. Menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis model Teun A. van Dijk, penelitian ini menelaah bagaimana wacana, kognisi, dan struktur sosial saling berkelindan dalam produksi dan resistensi makna. Temuan menunjukkan bahwa tagar #1Hari1Oknum tidak hanya membongkar dominasi simbolik negara, tetapi juga membentuk model mental baru di masyarakat tentang persoalan sistemik dalam institusi negara. Juga sebagai bagian dari aktivisme digital, tagar ini merefleksikan pergeseran partisipasi politik ke ranah daring yang bersifat horizontal dan desentralistik. Dengan memanfaatkan kekuatan naratif dan intertekstualitas media sosial, tagar ini menantang hegemoni bahasa yang dilestarikan sejak Orde Baru serta membangun kesadaran politik masyarakat yang lebih kritis.
This study examines the discourse contestation of the term "oknum" through an analysis of the hashtag #1Hari1Oknum on the social media platform Twitter as a form of digital resistance against the abuse of power by state apparatuses, particularly the Indonesian National Police. Emerging in response to viral misconduct cases in 2021, the hashtag critiques the euphemistic use of "oknum", which is often employed to isolate individual wrongdoing from institutional accountability. Using Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis approach, this research explores how discourse, cognition, and social structures are interwoven in the production and resistance of meaning. Findings reveal that #1Hari1Oknum not only exposes the symbolic dominance of the state but also contributes to the formation of new mental models in society regarding systemic issues within state institutions. As a form of digital activism, the hashtag reflects a shift in political participation toward a more horizontal and decentralized online sphere. By harnessing the narrative power and intertextuality of social media, the hashtag challenges the linguistic hegemony preserved since the New Order regime and fosters a more critical political awareness among the public.
Kata Kunci : kontestasi, wacana, tagar, aktivisme, digital