Resiliensi Gerakan Sosial Baru Berbasis Komunitas (Studi Kasus: Resiliensi KDS Mosa’angu dalam mengurangi diskriminasi ODHA di Kabupaten Banggai Tahun 2023-2024)
Nurul Indah Dalillah, Dr. RB. Abdul Gaffar Karim, M.A.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Abstrak
Penelitian
ini menganalisis resiliensi gerakan sosial yang dilakukan oleh Kelompok
Dukungan Sebaya (KDS) Mosa’angu di Kabupaten Banggai dalam mengurangi
diskriminasi terhadap Orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, dengan mamadukan teori Gerakan
Sosial Baru dari Habermas untuk memahami bagaimana kemunculan gerakan sosial
berbasis komunitas yang memperjuangkan nilai dan hak-hak individu. Kemudian
penelitian ini menggunakan konsep resiliensi komunitas dari Keck &
Sakdapolrak untuk menjelaskan resiliensi KDS Mosa’angu terhadap stigma dan
diskriminasi dalam memperjuangkan hak-haknya dari kontruksi sosial-budaya yang
konservatif dan lemahnya dukungan perlindungan kebijakan pemerintah.
Hasil
Penelitian menunjukkan bahwa KDS Mosa’angu merupakan bentuk gerakan sosial
berbasis komunitas yang muncul dari pengalaman langsung menghadapi diskriminasi.
Akan tetapi, dibanding bersikap defensif, komunitas ini justru berfokus pada
upaya kolaboratif dan pendekatan personal melalui simbol atau slogan terkait
anti-diskriminasi ODHA untuk bisa diterima tengah lingkungan masyarakat.
Komunitas ini mampu mengorganisir dirinya dengan memanfaatkan komunikasi publik
untuk memperkuat solidaritas dan membangun dialog dengan masyarakat.
Upaya-upaya ini dapat dikategorikan sebagai resiliensi komunitas yang
dijelaskan melalui 3 prinsip utama yaitu: kemampuan bertahan dengan sumber daya
yang dimiliki untuk menghadapi penolakan sosial dan kebijakan tidak memadai (coping), kemampuan beradaptasi dalam
mengembangkan kegiatan kolektif dan membangun jaringan (adaptive), serta kemampuan menciptakan perubahan sosial melalui
relasi sosial dan mendorong pembuatan kebijakan untuk melindungi hak-hak ODHA (transformative).
Dengan
demikian, resiliensi KDS Mosa’angu ditentukan oleh penerimaan sosial masyarakat
dan dukungan pemerintah melalui perumusan kebijakan tentang perlindungan
hak-hak dasar bagi ODHA dan dukungan finansial bagi komunitas. Kedua faktor
penentu tersebut dapat menyebabkan resiliensi KDS Mosa’angu terus terjadi
secara aktif sehingga sulit untuk mengurangi stigma dan diskriminasi di
masyarakat.
Kata
kunci:
Resiliensi komunitas, Gerakan Sosial Baru, ODHA, diskriminasi, KDS Mosa’angu
Abstract
This study analyzes the resilience of the social movement
carried out by the Peer Support Group (Kelompok Dukungan Sebaya/KDS) Mosa’angu
in Banggai Regency in reducing discrimination against People Living with HIV-AIDS
(PLWHA). The research adopts a qualitative approach and case study method,
combining the theory of New Social Movements by Habermas to understand the
emergence of community-based social movements that advocate for individual
rights and values. Furthermore, it uses the concept of community resilience by
Keck & Sakdapolrak to explain the resilience of KDS Mosa’angu in facing
stigma and discrimination, particularly within a conservative socio-cultural
context and weak policy protection from the government.
The findings show that KDS Mosa’angu represents a form of
community-based social movement that emerged from the direct experience of
facing discrimination. However, instead of adopting a defensive stance, the
community focuses on collaborative efforts and personal approaches using
symbols or slogans related to anti-discrimination against PLWHA to gain
acceptance within society. This community has been able to organize itself by
utilizing public communication to strengthen solidarity and build dialogue with
the public. These efforts can be categorized as community resilience, which is
explained through three key principles: the ability to endure using available
resources in the face of social rejection and inadequate policies (coping), the
capacity to adapt by developing collective activities and building networks
(adaptive), and the ability to bring about social change through social
relations and advocating for policies that protect the rights of PLWHA
(transformative).
Thus, the resilience of KDS Mosa’angu is determined by
social acceptance from the community and government support through policy
formulation that protects the fundamental rights of PLWHA and financial support
for the community. These two determining factors can sustain the active resilience
of KDS Mosa’angu, making it challenging to reduce stigma and discrimination in
society.
Keywords: Community resilience, New Social Movements, PLWHA,
discrimination, KDS Mosa’angu.
Kata Kunci : Resiliensi komunitas, Gerakan Sosial Baru, ODHA, diskriminasi, KDS Mosa’angu