Laporkan Masalah

Model Perawatasuhan Penyintas Skizofrenia Untuk Mencapai Pemulihan Pada Konteks Budaya Jawa

Yohanes Kartika Herdiyanto, Prof. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog; Dr. Wenty Marina Minza, M.A.; Made Diah Lestari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog

2025 | Disertasi | S3 Psikologi

Gejala psikotik umum terjadi pada berbagai gangguan mental, mulai dari yang ringan hingga berat. Skizofrenia adalah contoh gangguan yang ditandai dengan gejala-gejala paling parah. Meskipun skizofrenia memiliki tingkat mortalitas yang rendah, gangguan ini memiliki angka Years Lived with Disability (YLDs) tertinggi dibandingkan dengan penyakit kronis lainnya. Pelaksanaan perawatan bagi orang dengan skizofrenia, yang sering disebut sebagai penyintas skizofrenia telah berkembang menjadi pendekatan pemulihan yang holistik, partisipatif, dan komprehensif. Model ini kini diakui secara global sebagai standar untuk memfasilitasi pemulihan yang bermakna dan mencegah disabilitas. Meskipun model perawatan untuk penyintas skizofrenia bersifat universal, implementasinya harus disesuaikan dengan konteks budaya lokal untuk meningkatkan efektivitasnya. Pada masyarakat Jawa di DIY, nilai-nilai budaya lokal harus dipertimbangkan saat mengembangkan model perawatasuhan yang berorientasi pada pemulihan untuk penyintas skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi model perawatasuhan yang disesuaikan dengan konteks budaya Jawa di DIY yang mempromosikan pemulihan bagi penyintas skizofrenia.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif etnografi di seting keluarga Jawa dengan anggota keluarga yang mengalami skizofrenia (n= 12 partisipan) dan seting layanan kesehatan mental di DIY (n= 20 partisipan). Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara mendalam individu, observasi partisipatif, pertanyaan grand-tour, pengumpulan dokumen dan artefak yang relevan, serta wawancara kelompok. Teknik analisis yang digunakan adalah tematik reflektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola perawatan yang berorientasi pada pemulihan bagi individu dengan skizofrenia dalam konteks budaya Jawa menggunakan pola hubungan yang penuh kasih sayang (ngemong) yang dilakukan oleh perawatasuh dan pola hubungan yang humanis (nguwongke) oleh profesional kesehatan jiwa saat berinteraksi dengan penyintas. Ngemong dan nguwongke bertujuan untuk menumbuhkan harapan pemulihan di antara semua pihak yang terlibat dalam memastikan pemulihan yang bermakna bagi para penyintas. Model perawatasuhan ini diharapkan dapat digunakan untuk alternatif teori pemulihan yang kontekstual dan dapat dikembangkan menjadi berbagai panduan praktis bagi perawatasuh dan profesional kesehatan jiwa saat membantu penyintas skizofrenia untuk pulih.

Psychotic symptoms are common in various mental disorders, ranging from mild to severe. Schizophrenia is an example of a disorder characterized by some of the most severe symptoms. Although schizophrenia has a low mortality rate, it has the highest Years Lived with Disability (YLDs) compared to other chronic diseases. Managing care for individuals with schizophrenia, often referred to as "schizophrenia survivors," has evolved into a recovery-oriented approach that is holistic, participatory, and comprehensive. This model is now recognized globally as the standard for facilitating meaningful recovery and preventing disability. While the caregiving model for schizophrenia survivors is universal, its implementation should be adapted to align with the local cultural context to enhance effectiveness. In the Javanese community in Yogyakarta, specific cultural values must be considered when developing recovery-oriented caregiving strategies for schizophrenia survivors. This research aims to identify a caregiving pattern tailored to the Javanese cultural context in Yogyakarta that promotes recovery for individuals with schizophrenia.

This research used ethnographic qualitative research methods in Javanese family settings with family members experiencing schizophrenia (n= 12 participants) and mental health service settings in Yogyakarta (n= 20 participants). The data collection techniques used were in-depth individual interviews, participatory observation, grand-tour interview, collection of relevant documents and artifacts, and group interviews. The analysis technique used is thematic reflexive. The results of this study indicate that the recovery-oriented caregiving pattern for individuals with schizophrenia in the Javanese cultural context employs the nurturing relationship pattern (ngemong) performed by caregivers and the humanizing relationship pattern (nguwongke) by mental health professionals when interacting with survivors. Ngemong and nguwongke aim to foster hope for recovery among all parties involved in ensuring meaningful recovery for the survivors. It is expected that this caregiving model can be used as an alternative contextualized framework for recovery and can be developed into various practical guides for caregivers and mental health professionals when helping survivors of schizophrenia to recover.

Kata Kunci : Ngemong, nguwongke, perawatasuhan, pemulihan, dan skizofrenia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.