Laporkan Masalah

Evaluasi Neoplasma Kulit di RSUP Dr. Sardjito dan Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran UGM Tahun 1987-1992

Robert Octavian BW, dr. J.B.Soebroto

1993 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Neoplasma kulit ganas di berbagai sentra Patologi Anatomi selalu termasuk dalam 4 besar penyakit keganasan, walaupun jika dilihat dari jumlahnya relatif sedikit. Telah dilakukan penelitian secara cross sectional terhadap neoplasma kulit yang datanya diambil dari Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran UGM dan RSUP Dr. Sardjito tahun 1987-1992. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pol a neoplasma kulit terutama yang maligna berdasarkan umur, jenis kelamin, lokasi terjadinya neoplasma, dan pekerjaan. Dengan gambaran tersebut diharapkan dapat diketahui faktor-faktor risiko neoplasma kulit yang paling banyak diketemukan serta predisposisi dari masing-masing neoplasma kulit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa urutan frekuensi neoplasma kulit ganas di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran UGM berturut-turut adalah frekuensi terbesar pada karsinoma sel basal (22,83%), kemudian karsinoma epidermoid (20,95%), dan melanoma maligna (6,79%). Sedangkan hasil dari RSUP Dr. Sardjito menunjukkan bahwa frekuensi terbesar adalah karsinoma sel basal (36,99%), kemudian melanoma maligna (32,95%), dan karsinoma epidermoid (20,81%). Ketiga jenis neoplasma kulit ganas tersebut paling banyak terjadi pada kelompok umur 45-64 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, karsinoma epidermoid dan melanoma maligna lebih banyak terjadi pada laki-laki dan karsinoma sel basal lebih banyak terjadi pada perempuan. Lokasi tersering di bagian ekstremi tas bawah dan muka. Neoplasma kulit ganas selain karsinoma epidermoid, karsinoma sel basal, dan melanoma maligna frekuensinya relatif sangat sedikit yaitu 7 kasus di lab. PA dan 7 kasus di RSUP Dr. Sardjito selama periode 6 tahun (1987- 1992). Neoplasma kulit jinak yang paling sering diketemukan adalah nevus pigmentosus terutama jenis intradermal dan dermatofibroma. Diperkirakan pengobatan untuk nevus pigmentosus intradermalis adalah untuk alasan kosmetik dengan adanya kenyataan bahwa yang paling sering diterapi adalah pada bagian muka, dan lebih banyak pada perempuan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu menentukan faktor-faktor risiko dari neoplasma kulit terutama yang ganas sehingga dapat dipakai untuk perencanaan tindakan pencegahan pada kelompok yang mempunyai risiko tinggi.

Kata Kunci : Neoplasma Kulit, Kosmetik, Evaluasi, Laboratorium

  1. S1-FKU_1993-RobertOctavianBW-Abstract.pdf  
  2. S1-FKU_1993-RobertOctavianBW-Bibliography.pdf  
  3. S1-FKU_1993-RobertOctavianBW-TableofContent.pdf  
  4. S1-FKU_1993-RobertOctavianBW-Title.pdf