Stigma Dan Destigmatisasi Sosial Masyarakat Kampung Dalam Senapelan Sebagai Kampung Narkoba
Ilma Zukhruf Annisa, Dr. Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses
stigmatisasi dan destigmatisasi terhadap masyarakat Kampung Dalam di Senapelan,
Pekanbaru, yang selama ini mendapat label sebagai "kampung narkoba".
Stigma ini tidak hanya memengaruhi persepsi publik, tetapi juga berdampak
langsung terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan psikologis warganya, terutama
generasi muda yang mengalami diskriminasi dalam dunia kerja. Penelitian ini
menjadi penting karena mengangkat aspek sosial dari kasus narkoba yang sering
kali hanya dilihat dari sudut pandang kriminalitas, serta mencoba menyoroti
bagaimana masyarakat lokal membentuk resistensi terhadap label tersebut.
Secara teoritis, penelitian ini menggunakan kerangka
pemikiran Erving Goffman mengenai stigma dan identitas sosial yang rusak
(spoiled identity), serta teori destigmatisasi dan kesenjangan pengakuan
(recognition gap) dari Michèle Lamont. Dengan memadukan dua teori ini,
penelitian ini menganalisis bagaimana stigma sosial dibentuk, dilembagakan,
serta bagaimana upaya masyarakat dilakukan untuk mengembalikan kehormatan
kolektif mereka melalui transformasi sosial dan strategi simbolik.
Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif
dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam
terhadap enam informan yang tinggal di Kampung Dalam serta observasi
partisipatif di lokasi. Analisis data dilakukan dengan teknik Interpretative
Phenomenological Analysis (IPA) untuk menggali makna subjektif pengalaman
informan. Validitas data diuji melalui teknik member check, dan penelitian ini
dilakukan dengan memperhatikan prinsip etika penelitian sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) proses
stigmatisasi Kampung Dalam dimulai dari peristiwa penggerebekan kasus narkoba
yang masif, yang kemudian diperkuat oleh media, aparat, dan kebijakan lokal
sehingga menciptakan stigma formal yang melekat secara struktural; (2) proses
destigmatisasi dilakukan oleh masyarakat melalui berbagai strategi, seperti
membangun narasi alternatif, partisipasi aktif dalam kegiatan sosial, serta
advokasi terhadap pemangku kebijakan. Namun, upaya ini masih menghadapi
tantangan berupa resistensi sosial dan stereotip yang mengakar. Penelitian ini
menunjukkan bahwa stigma terhadap "kampung narkoba" bukan hanya
masalah citra, tetapi persoalan keadilan sosial dan pengakuan yang membutuhkan
perubahan struktural dan kultural secara simultan.
This study aims to understand the process of
stigmatization and destigmatization of the Kampung Dalam community in
Senapelan, Pekanbaru, which has long been labeled as a “drug village.” This
stigma not only affects public perception but also directly impacts the social,
economic, and psychological lives of its residents, particularly the younger
generation who face discrimination in the workplace. This research is
significant because it addresses the social aspects of drug-related cases,
which are often viewed solely through the lens of criminality, and seeks to
highlight how the local community forms resistance against such labels.
Theoretically, this study employs Erving Goffman's
framework on stigma and damaged social identity (spoiled identity), as well as
Michèle Lamont's theory of destigmatization and the recognition gap. By
combining these two theories, this study analyzes how social stigma is formed
and institutionalized, as well as how communities strive to restore their
collective honor through social transformation and symbolic strategies.
The method used is a qualitative approach with a
phenomenological design. Data were collected through in-depth interviews with
six informants living in Kampung Dalam and participatory observation at the
location. Data analysis was conducted using Interpretative Phenomenological
Analysis (IPA) to explore the subjective meaning of the informants'
experiences. Data validity was tested using member check techniques, and this
research was conducted in accordance with the principles of social research
ethics.
The research findings indicate that (1) the
stigmatization process of Kampung Dalam began with a massive drug raid, which
was then reinforced by the media, authorities, and local policies, creating a
formal stigma that is structurally entrenched; (2) the destigmatization process
is carried out by the community through various strategies, such as
constructing alternative narratives, active participation in social activities,
and advocacy toward policymakers. However, these efforts still face challenges
in the form of social resistance and deeply rooted stereotypes. This study
shows that stigma toward “drug villages” is not merely an image issue but a
matter of social justice and recognition that requires simultaneous structural
and cultural change.
Kata Kunci : Stigma, Destigmatisasi, Kampung Narkoba, Identitas Sosial