Laporkan Masalah

Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Keterlambatan Door-to-Balloon Time Intervensi Koroner Perkutan Primer pada Pasien Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST

Decky Nurhadi Sopyan, Syahirul Alim, S.Kp., M.Sc., Ph.D.; Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., M.S., D.S.

2025 | Tesis | S2 Magister Keperawatan

Latar Belakang: Keterlambatan door-to-balloon time (DTBT) pada pasien infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) yang menjalani intervensi koroner perkutan primer (IKPP) dapat meningkatkan mortalitas. Pedoman tata laksana. IKPP merekomendasikan DTBT ? 90 menit untuk meningkatkan luaran klinis.
Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor risiko independen yang berhubungan dengan keterlambatan DTBT pada pasien IMA-EST yang menjalani IKPP di rumah sakit dengan fasilitas kateterisasi jantung.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol retrospektif melibatkan 147 pasien IMA-EST yang menjalani IKPP di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, Indonesia, pada Januari 2023 hingga April 2025. Pasien diklasifikasikan menjadi kelompok DTBT tertunda (n = 98) dan tidak tertunda (n = 48). Sepuluh variabel kandidat dianalisis menggunakan regresi logistik untuk menentukan prediktor independen keterlambatan, dengan nilai p < 0>
Hasil: Lima faktor terbukti sebagai prediktor independen keterlambatan DTBT, yaitu waktu kedatangan di luar jam kerja (73,1% vs 46,2%; p = 0,042; OR 3,010; 95% CI 1,040-8,712), door-to-ECG time > 10 menit (60,5% vs 19,20%; p = 0,009; OR 4,422; 95% CI 1,453-13,456), ECG-to-consultation time > 10 menit (70,2% vs 28,9%; p < 0>ctivation-to- cathlab arrival time > 30 menit (82,70% vs 34,6%; p < 0>cathlab arrival-to-balloon time > 30 menit (47,1% vs 15,4%; p < 0>Cox & Snell R2 = 0,466) dengan activation-to-cathlab arrivalĀ sebagai faktor yang paling dominan.
Kesimpulan: Faktor activation-to-cathlab arrival time merupakan faktor paling dominan menyebabkan keterlambatan DTBT. Optimalisasi proses di rumah sakit dan percepatan protokol diperlukan untuk mengurangi keterlambatan DTBT.

Background: Delayed door-to-balloon time (DTBT) in patients with ST-elevation myocardial infarction (STEMI) undergoing primary percutaneous coronary intervention (PPCI) is associated with increased mortality. PPCI guidelines recommend achieving a DTBT of ? 90 minutes to improve clinical outcomes.

Objective: To identify independent risk factors associated with delayed DTBT in STEMI patients undergoing PPCI at a hospital equipped with cardiac catheterization facilities.

Methods: The retrospective case-control study included 147 STEMI patients who underwent PPCI at dr. Kanujoso Djatiwibowo Regional Hospital, Balikpapan, Indonesia, between Januari 2023-April 2025. Patients were classified into delayed DTBT (> 90 minutes; n = 98) and non-delayed DTBT (? 90 minutes; n = 48) groups. Ten candidate variables were analyzed using logistic regression to determine independent predictors of delay, with statistical significance set at p < 0>

Results: Five independent predictors of delayed DTBT were indentified: arrival during off-hours (73,1% vs 46,2%; p = 0,042; OR 3,010; CI 95% 1,040-8,712), door-to-ECG time > 10 minutes (60,5% vs 19,20%; p = 0,009; OR 4,422; CI 95% 1,453-13,456), ECG-to-consultation time > 10 minutes (70,2% vs 28,9%; p < 0> 30 minutes (82,70% vs 34,6%; p < 0> 30 minutes (47,1% vs 15,4%; p < 0 xss=removed>

Conclusion: The activation-to-cathlab arrival time is the predominant factor contributing to delays in door-to-balloon time (DTBT). To mitigate these delays, is essential to Optimizing in-hospital processes and streamline activation protocols.


Kata Kunci : acute coronary syndrome, ST-elevation myocardial infarction, door-to-balloon time, primary percutaneous coronary intervention, risk factors, catheterization

  1. S2-2025-525985-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525985-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525985-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525985-title.pdf