UNDERSTANDING THE IMPLEMENTATION OF MOBILE SCREENING FOR NONCOMMUNICABLE DISEASE IN COMMUNITY HEALTH CENTERS: QUALITATIVE STUDY IN BATU CITY, INDONESIA
siti mei saroh, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang:Deteksi dini melalui skrining rutin merupakan strategi penting dalam pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular, namun cakupan dari program ini belum maksimal.
Tujuan: Studi ini mengeksplorasi pelaksanaan program mobile skrining PTM di Puskesmas Kota Batu, Indonesia, berfokus dalam mengidentifikasikan hambatan, faktor pendukung, serta tingkat penerimaan.
Metode: Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tenaga kesehatan, pengelola program, kader, serta warga, dilengkapi dengan telaah dokumen untuk memahami detail program.
Hasil: Temuan menunjukkan adanya tingkat penerimaan yang beragam di kalangan masyarakat. Lansia lebih menunjukkan ketertarikan, sedangkan kelompok usia muda dan pekerja informal mengalami beberapa kendala untuk berpartisipasi akibat keterbatasan waktu, rendahnya persepsi risiko, serta ketakutan terhadap diagnosa. Tantangan implementasi mencakup keterbatasan sumber daya manusia, beban operasional, dan sistem digital yang terfragmentasi. Namun, kerjasama dengan komunitas, keterlibatan kader, serta kolaborasi di tempat kerja menjadi faktor pendukung penting dalam meningkatkan partisipasi skrining.
Kesimpulan: Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun mobile skrining membantu memperluas jangkauan program, mengatasi hambatan sosiodemografis, memastikan ketersediaan tenaga dan infrastruktur yang memadai, serta memperbaiki sistem merupakan faktor krusial bagi keberlanjutan program. Penguatan kolaborasi lintas sektor dan penyesuaian strategi skrining dengan kebutuhan masyarakat lokal menjadi rekomendasi utama untuk meningkatkan efektivitas program kesehatan yang merata di wilayah dengan keterbatasan sumber daya serupa.
Background: Non-communicable diseases (NCDs) are responsible for 74% of global deaths, with low- and middle-income countries like Indonesia bearing a significant burden. Early detection through routine screening is a crucial strategy for prevention and control. Objective: This study explores the implementation of mobile NCD screening programs at community health centers (Puskesmas) in Batu City, Indonesia, focusing on identifying barriers and facilitators, and acceptability using the Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR) 2.0. Methods: A qualitative approach was employed through in-depth interviews with healthcare providers, program managers, cadres, and residents, complemented by document reviews to understand the program detail. Results: Findings reveal diverse levels of acceptability among community members, with older adults showing more interest, while younger adults and informal workers face participation barriers due to time constraints, low perceived risk, and fear of diagnosis. Implementation challenges included insufficient human resources, operational burdens, and fragmented digital systems. However, community partnerships, involvement of cadres, and workplace collaborations were significant facilitators in increasing screening uptake. Conclusion: the study concludes that while mobile screening helps expand program reach, addressing socio-demographic barriers, ensuring adequate workforce and supplies, and improving system integration are critical to sustaining program success. Strengthening cross-sector collaboration and adapting screening strategies to local community needs are key recommendations to enhance program effectiveness and health equity in similar resource-limited settings.
Kata Kunci : Noncommunicable Disease, Mobile Screening, Health Screening, Community Health Centers, Implementation Research, CFIR, Batu City