Laporkan Masalah

Partisipasi Anggota KIM Tukum Mandiri dalam Pemanfaatan Media Sosial untuk Diseminasi Informasi

Pristianti Krisna Guslimantasya, Dr.agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih; Dr. Najmu Tsaqib Akhda, SP, MA

2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan

Revolusi Industri 4.0 menghadirkan transformasi mendasar dalam tatanan sosial melalui percepatan perkembangan teknologi digital, di mana teknologi informasi dan komunikasi mempermudah akses, pertukaran, dan distribusi informasi secara masif dan cepat (Rojas et al., 2021). Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 185,3 juta jiwa, dengan 83,1% di antaranya mengakses informasi melalui media digital (Digital, 2024). Hal ini membuka peluang baru dalam penguatan literasi, sehingga pemerintah menginisiasi pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) melalui Permenkominfo No. 08 Tahun 2010, sebagai lembaga komunikasi berbasis masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan yang menjembatani informasi antara pemerintah dan masyarakat. KIM dibentuk sebagai entitas sosial yang berperan aktif dalam produksi dan diseminasi informasi, serta menjadi katalisator peningkatan literasi digital masyarakat (Endah et al., 2021). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengetahui partisipasi anggota KIM Tukum Mandiri di Kabupaten Lumajang salah satu KIM berprestasi nasional berdasarkan klasifikasi Robert Chambers (pasif, aktif, pemberdayaan) serta pemanfaatan media sosial sebagai new media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KIM Tukum Mandiri aktif menjalankan fungsi sebagai perantara komunikasi antara pemerintah dan masyarakat melalui prinsip kerja ADINDA (Akses Informasi, Diskusi, Implementasi, Networking, Diseminasi, Aspirasi). Keaktifan KIM Tukum Mandiri dalam prinsip kerja ADINDA bertumpu pada modal sosial (jejaring luas), modal manusia (latar anggota beragam), dan modal kelembagaan (SK, anggaran, pembinaan), yang perlu terus diperkuat demi keberlanjutan. Sebagai jembatan informasi, KIM memanfaatkan media sosial dengan prinsip 5C (communication, collaboration, community, creativity, dan convergence), menghasilkan aktivitas digital, konten beragam, dan integrasi lintas platform, meski efektivitasnya masih dapat ditingkatkan melalui penyesuaian format konten, kolaborasi lintas desa, peningkatan interaksi, dan pemanfaatan analitik. Saat ini, KIM menunjukkan partisipasi aktif dengan keterlibatan konsisten dan keterampilan teknis pembuatan konten, namun belum mengarah pada pemberdayaan bernilai ekonomis sehingga diperlukan strategi untuk mengoptimalkan potensi digital menjadi nilai ekonomi bagi desa.

The Fourth Industrial Revolution has reshaped social structures by accelerating digital transformation, particularly in information and communication technologies that enable rapid access, exchange, and dissemination of information. In Indonesia, 185.3 million individuals are internet users, with 83.1% relying on digital media to obtain information. This extensive digital engagement creates opportunities to enhance public literacy. To respond these developments, the government established Community Information Groups (Kelompok Informasi Masyarakat/KIM) under the Ministry of Communication and Information Technology Regulation No. 08 of 2010. KIM functions as a community-based communication institution, especially in rural areas, serving as an intermediary between government and citizens while fostering digital literacy and facilitating the flow of information. The study aimed to examine the participation of KIM Tukum Mandiri in Lumajang Regency, recognized nationally for its achievements, by employing Robert Chambers’ participation typology (passive, active, and empowering) and exploring its use of social media as a form of new media. A descriptive qualitative method was applied. Findings indicated that KIM Tukum Mandiri actively carried out its intermediary role through the ADINDA principles: Access to Information, Discussion, Implementation, Networking, Dissemination, and Aspirations. The effectiveness was supported by social capital (broad networks), human capital (diverse member expertise), and institutional capital (formal decrees, budget support, and training). Additionally, the group utilized social media based on the 5C principle, communication, collaboration, community, creativity, and convergence by producing varied content and integrating cross platform interactions. In conclusion, KIM has demonstrated consistent active participation and technical capacity in digital communication, however, such participation has not yet generated significant economic empowerment. A strategic approach is therefore required to transform the group’s digital potential into sustainable economic benefits for the local community.

Kata Kunci : Kata Kunci: Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), Keaktifan, Partisipasi, Media Sosial

  1. S2-2025-527644-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527644-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527644-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527644-title.pdf