Laporkan Masalah

Pemodelan spektral dan spasial citra landsat 7 ETM+ untuk pemetaan daerah banjir : Kasus di dataran rendah DAS Juwana propinsi Jawa Tengah

Ardika Indrakusuma, Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si.; Nur Mohammad Farda, S.Si.

2008 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Penelitian ini dilaksanakan di sebagian dataran rendah lembah Juwana Kab. Pati dan Kudus Propinsi Jawa Tengah, dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji fenomena air di daerah banjir menggunakan citra Landsat7 FTM+ dengan pemodelan spektral dan pemodelan spasial. Metode yang digunakan yaitu metode transformasi spektral (pendekatan indeks kebasahan dan pendekatan indeks kecerahan) dan metode kombinasi saluran dengan pemfilteran high pass (pendekatan kombinasi saluran 754 dan pendekatan kombinasi saluran 735). untuk dipilih akurasi tertinggi sebagai kunci interpretasi pemetaan banjir. Penentuan daerah banjir pada penelitian ini terdiri dari dua langkah kerja yaitu: pertama, membagi daerah banjir dan daerah tidak banjir dengan pendekatan kuantitatif biner dari operasi union parameter bentuklahan, parameter penggunaan lahan, dan parameter kemiringan lereng. Hasil pengolahan merupakan daerah-daerah yang diperkirakan terjadi banjir dengan skor 1 dan daerah yang tidak terjadi banjir dengan skor 0: Kedua, fenomena air di daerah yang di perkirakan banjir tersebut diinterpretasi menggunakan dua Metode yaitu metode transformasi spektral (pendekatan Indeks kebasahan dan pendekatan indeks kecerahan) dan metode kombinasi saluran dengan pemfilteran high pass (pendekatan kombinasi saluran 754 dan pendekatan kombinasi saluran 735). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi pemetaan bentuklahan sebesar 87,148%, pemetaan penggunaan lahan sebesar 86,71 %, dan pemetaan lereng sebesar 81,28%. Hasil pengolahan setiap metode yang digunakan memiliki kepekaan secara akurat untuk mengidentifikasi salah satu fenomena air di daerah banjir. Pada pendekatan indeks kebasahan; fenomena daerah basah tetapi air tidak menggenang memiliki akurasi yang tertinggi sebesar 83%, pendekatan indeks kecerahan; fenomena daerah tergenang saat banjir memiliki akurasi yang tertinggi sebesar 50%, pendekatan kombinasi saluran 754; fenomena daerah genangan air permanen memiliki akurasi yang tertinggi sebesar 83,33%, pendekatan kombinasi saluran 735; fenomena daerah genangan air permanen memiliki akurasi yang tertinggi sebesar 85,71%. Hasil uji akurasi interpretasi secara keseluruhan, 4 pendekatan untuk mengidentifikasi 5 fenomea air di daerah banjir menunjukkan bahwa; akurasi paling tinggi menggunakan pendekatan kombinasi saluran 735 dengan pemfilteran high pass sebesar 30,58%, sedangkan yang kedua pendekatan transformasi indeks kebasahan sebesar 30,27%. yang ketiga pendekatan kombinasi saluran 754 dengan pemfilteran high pass sebesar 20,18 %, dan yang keempat pendekatan transformasi indeks kecerahan sebesar 18,96%. Kunci interpretasi yang terbaik untuk mengidentifikasi fenomena air di daerah banjir sebagai langkah awal pemetaan banjir adalah menggunakan metode kombinasi saluran dengan pemfilteran high pass dengan pendekatan kombinasi saluran 735.

-

Kata Kunci : pemodelan spektral. pemodelan spasial, fenomena air di daerah banjir,Pati,Jawa Tengah

  1. S1-2008-167345-Abstract.pdf  
  2. S1-2008-167345-Bibliography.pdf  
  3. S1-2008-167345-TableofContent.pdf  
  4. S1-2008-167345-Title.pdf