Menjembatani Perbedaan: Upaya Rekonsiliasi di Tengah Warisan Konflik Timor Timur (Studi Kasus Interaksi Sosial Warga Eks Timor Timur di Perbatasan RI-RDTL)
Maria Fernanda Olifera Seran, everyday reconciliation, peacebuilding, East Timor conflict, social interaction, border communities.
2025 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional
Hubungan baik pemerintah Indonesia dan Timor Leste sering digambarkan oleh kedua negara sebagai bentuk keberhasilan rekonsiliasi antara dua pihak yang pernah berkonflik di masa lalu. Terlepas dari upaya normalisasi hubungan Indonesia dan Timor Leste, fakta sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Timor Leste tidak hanya melibatkan para elite politik saja. Konflik kekerasan di Timor Timur setelah Jajak Pendapat 1999 telah meninggalkan dampak yang cukup besar yang harus ditanggung oleh masyarakat yang terlibat di dalamnya, seperti luka dan trauma, kehilangan anggota keluarga dan sumber penghidupan, hingga perjuangan untuk memulai hidup baru di wilayah Timor Barat. Masyarakat secara praktis telah terpisahkan ke dua wilayah yang berbeda dengan membawa berbagai permasalahan yang tidak terselesaikan oleh pemerintah. Uniknya, jauh dari intervensi pemerintah, di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste, terlihat adanya interaksi sosial harmonis para warga eks Timor Timur. Penelitian ini menggunakan konsep rekonsiliasi sehari-hari sebagai acuan utama untuk memahami keunikan pendekatan rekonsiliasi yang dilakukan oleh masyarakat di perbatasan, dan menganalisis bentuk-bentuk interaksi damai yang telah dilakukan, terlepas dari berbagai warisan konflik masa lalu yang belum terselesaikan. Fokus penelitian ini dilakukan di wilayah perbatasan dengan Timor Leste bagian Selatan khususnya Kabupaten Malaka dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi dengan kombinasi metode wawancara mendalam, observasi partisipatif dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa masyarakat di perbatasan RI-RDTL berupaya untuk memulihkan hubungan pasca konflik melalui rekonsiliasi yang terjadi dalam praktik-praktik interaksi sosial dan ekonomi sehari-hari. Pertama melalui pendekatan budaya, mekanisme lokal seperti adat dan nilai kekeluargaan sebagai timor oan atau orang timor. Kedua, melalui jaringan sosial dan kekerabatan lintas batas yang mendorong kerja sama dan hubungan timbal balik yang menguntungkan masyarakat di wilayah perbatasan. Kapasitas masyarakat dalam mengupayakan fondasi perdamaian menunjukan bahwa pendekatan rekonsiliasi pasca konflik kekerasan, tidak selalu bergantung pada intervensi negara atau inisiatif sebuah lembaga formal.
Indonesia and Timor-Leste consistently promote their harmonious relationship as a successful case of reconciliation between two parties once divided by conflict. Beyond the formal efforts to normalize bilateral relations, the history of Timor Leste’s struggle for independence engaged not only political elites from both countries but also society at large. The violent conflict in 1999 left lasting impacts on those directly affected, including trauma, the loss of family members and livelihoods, and the struggle to start a new life in West Timor. Communities were effectively divided across two national borders, burdened by unresolved issues that remain insufficiently addressed by the governments. Interestingly, in the border areas far from state intervention, former East Timorese communities have continued to engage in harmonious social interactions. This research adopts the concept of everyday reconciliation to examine how communities in the borderlands engage in their own grassroots approaches to peacebuilding. The case study focuses on the southern border region, particularly Malaka Regency, and the research employs a qualitative methodology. Data were collected through triangulation, combining in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal that communities along the Indonesia-Timor Leste border pursue post-conflict relationship building through everyday social and economic interactions. First, cultural and local mechanisms such as traditions and identity as timor oan (Timorese people). Second, cross-border social and familial networks that foster cooperation and mutual benefit. The community’s capacity to sustain peace shows that reconciliation after violent conflict does not always depend on state intervention or formal institutional initiatives.
Kata Kunci : rekonsiliasi sehari-hari, perdamaian, konflik Timor-Timur, interaksi sosial, masyarakat perbatasan.