Laporkan Masalah

EDUKASI ADVOKASI ANTIMICROBIAL RESISTANCE (AMR) DENGAN EXPERIENCED-BASED LEARNING (EBL): STUDI PARTISIPATIF

Anindita Adzani, Mubasysyir Hasanbasri

2025 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN

Latar Belakang : Kelompok masyarakat yang tidak mengetahui dampak dari penyalahgunaan antibiotik adalah kelompok yang terpapar risiko resistensi antibiotik (AMR). Advokasi adalah intervensi kunci isu resistensi antibiotik yang dapat mengubah kesadaran dan pengetahuan audiensnya. Dokter yang seharusnya bertugas dengan prinsip five-star doctor tidak dibekali keterampilan advokasi yang memadai karena kurikulumnya tidak mengajarkan keterampilan advokasi.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi mahasiswa sarjana kedokteran mengenai pembelajaran advokasi serta penyelenggaraan advokasi resistensi antibiotik.

Metode : Penelitian ini adalah penelitian partisipatif yang melibatkan 13 mahasiswa sarjana kedokteran semester 4 dan 6. Setelah menandatangani informed consent, mahasiswa direkrut ke platform pembelajaran AMR di Google Classroom dan grup WhatsApp koordinasi peneliti dan partisipan. Pembelajaran berlangsung selama kurang lebih 7 hari dengan rangkaian kegiatan pengisian survei, voting poster, dan desain poster advokasi yang terbagi ke dalam 5 modul.

Hasil : Partisipan menunjukkan minat mempelajari advokasi AMR melalui kuliah dan praktikum. Poster advokasi karya partisipan memiliki desain yang menarik, tetapi kontennya tidak spesifik menyasar siapa stakeholder yang disasar dan apa tujuan advokasinya.

Kesimpulan : Institusi pendidikan perlu menyelenggarakan pembelajaran aktif advokasi resistensi antibiotik. Pembelajaran aktif tersebut perlu menyertakan contoh poster advokasi yang baik dan tidak baik agar pembelajar memiliki referensi pengalaman ketika mendesain poster advokasinya sendiri.

Introduction : A certain population is exposed to antimicrobial resistance (AMR) risk if they possess no awareness on the impact of antimicrobial abuse. Advocacy is a key intervention against AMR in which the objective is to improve its audiences’ awareness and knowledge. Doctors who should have carried on five-star doctor principles as part of their duty are not equipped with proper advocacy skills as advocacy is not taught in their study curriculum.

Objectives : This study aims to describe undergraduate medical students’ perception on AMR advocacy learning and AMR advocacy activity through an asynchronous online module.

Method : As many as 13 students from 4th and 6th semester were recruited in this study. After filling in informed consent, students were invited to learn about AMR advocacy on Google Classroom and, for ease of coordination, a WhatsApp group for researchers and study participants. The learning process took 7 days with learning activities consisting of survey filling, poster voting, and advocacy poster design. Those activities were sectioned into 5 modules.

Results : Participants show interest in learning AMR advocacy through seminar and practice. Advocacy posters created by participants, though have eye-catching design, show unspecified stakeholder targets and advocacy objectives.

Conclusion : Academic institutions need to conduct active AMR advocacy learning. The active learning must include examples of excellent and poor advocacy posters; hence, learners will have prior knowledge upon designing their own advocacy posters.

Kata Kunci : resistensi obat, antimikroba, mahasiswa kesehatan.

  1. S2-2025-513140-abstract.pdf  
  2. S2-2025-513140-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-513140-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-513140-title.pdf