Laporkan Masalah

Ketangguhan Masyarakat terhadap Erupsi Merapi: Studi Kasus Erupsi tahun 2010 di Desa Argomulyo, Kapanewon Cangkringan dan Desa Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman

Taaj Nabil, Prof. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Ph.D.; Prof. Dr. Ir. Dina Ruslanjari, M.Si.

2025 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANA

Penelitian ini membahas persoalan disparitas ketangguhan masyarakat terhadap dampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010, dengan membandingkan dua desa terdampak di Kabupaten Sleman, yakni Desa Argomulyo dan Desa Hargobinangun. Meskipun Desa Argomulyo berada lebih jauh dari pusat erupsi dibandingkan Desa Hargobinangun, desa ini mencatat 87 korban jiwa, sedangkan Desa Hargobinangun tidak mengalami korban jiwa. Fenomena ini menjadi teka-teki atau pertanyaan dalam penelitian ini, mengapa desa dengan jarak yang lebih jauh dari pusat erupsi justru memiliki jumlah korban yang lebih tinggi dibandingkan dengan desa yang lebih dekat dengan pusat erupsi? Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan fenomenologi, yang dianalisis dengan teori community resilience dari Norris. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa ketangguhan yang lebih baik di Desa Hargobinangun dipengaruhi oleh komunikasi risiko yang efektif, jaringan sosial yang kuat, pengalaman masa lalu, dan efek kedekatan dengan lokasi bahaya (proximity effect). Sebaliknya, rendahnya kesadaran risiko, lemahnya komunikasi antar stakeholder, menjadi salah satu faktor penyebab kerentanan dan tingginya korban jiwa di Argomulyo. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi edukasi kebencanaan, pelatihan, dan kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap bencana.

This study explored the disparity in community resilience following the 2010 Mount Merapi eruption by comparing two impacted villages in Sleman Regency: Argomulyo and Hargobinangun. Despite Argomulyo Village being farther from the eruption center than Hargobinangun Village, it reported 87 fatalities; however, Hargobinangun Village recorded no fatalities. These findings have created a puzzle in this study: why does a village situated farther from the eruption center exhibit a higher casualty number than one located closer to it? This research employed a qualitative method, using case study and phenomenological approaches, studied through the lens of Norris’ community resilience theory. The discoveries revealed that enhanced resilience in Hargobinangun Village was affected by efficient risk communication, sturdy social networks, prior experiences, and the effects of closeness to the hazard’s location (proximity effect). Conversely, inadequate risk knowledge and poor communication among stakeholders contributed to vulnerability and elevated mortality rates in Argomulyo Village. These findings underscore the necessity of including disaster education, training, and cross-sector collaboration to enhance community resilience to disasters

Kata Kunci : Community Resilience, Volcanic Eruption, Disaster Management, Proximity Effect

  1. S2-2025-526877-abstract.pdf  
  2. S2-2025-526877-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-526877-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-526877-title.pdf