Artikulasi dan Negosiasi Tradisi Membakar di Ladang Oloh Ngaju, Kalimantan Tengah
EVI NURLENI, Prof. Heru Nugroho
2025 | Disertasi | S3 Sosiologi
Studi ini mengartikulasi pertarungan pengetahuan dan kepentingan hegemonik
tentang deforestasi dan pengetahuan dan kepentingan berbasis kultural tentang
tradisi membakar di ladang. Dimana regulasi dan kepentingan ekonomi-politik pemerintah
pada hutan dan lahan sejak 1998-2004 menyebabkan perubahan gradual pada kultur
berladang Oloh Ngaju. Kini, fenomena
kerja di ladang lebih dominan perempuan, karena regulasi menyebabkan laki-laki
banyak kehilangan ruang kerja dan peralihan pekerjaan. Secara kultural, kehadiran
perempuan di ladang dalam masyarakat Oloh Ngaju fenomena yang biasa. Penelitian
ini menggunakan perspektif -ekofeminis- subsisten (teori M. Mies) untuk
memahami aktivitas sehari-hari subsisten sebagai gerakan survival kelompok terhegemoni dan terepresi. Juga, menggunakan
konsep kekerasan epistemik atau berbasis pengetahuan (G.C. Spivak) untuk
memahami subjek berkelas membentuk dan menggunaka rezim-rezim pengetahuan untuk
menghegemoni subjek non kelas (lokal). Serta, menggunakan konsep interpretasi
“penduniaan dunia” (Spivak) untuk menyuarakan
pengetahuan berbasis kultural yang disenyapkan dan menegosiasi
kepentingan ruang hidup peladang perempuan Oloh Ngaju tanpa diwakilkan.
Hasil penelitian ini menunjukan: pertama, peladang perempuan Oloh Ngaju karena tekanan multipihak
mengembangkan durabilitas internal dan rasionalisasi kekuatan melalui
pengetahuan berbasis kultural yakni dualitas “diam diantara (tidak melawan,tapi
tidak tunduk. Kedua, dalam kepentingan kapitalis-patriakhi ekonomi, subjek
berkelas membentuk rezim-rezim pengetahuan, yang menyenyapkan suara peladang perempuan oloh Ngaju, serta menjaukan
mereka dari hutan dan lahan. Ketiga, sebagai korban kekerasan simbolik negara, bagi
peladang perempuan membakar di ladang sebagai suara perlawanan untuk menggugat
status quo pengetahuan hegemonik dan negosiasi kepentingan untuk merebut ruang
hidup tanpa diwakilkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif-kualitatif dengan perspektif ekofeminis subsisten yang fokus pada pengetahuan
peladang perempuan sebagai native yang bersuara melalui daily conversation and daily activity.
Tiga argumentasi teoritik: pertama, survival
is a political sebagai gerakan ekofeminis subsisten untuk menuntut
pembebasan perempuan mandiri pangan dari ladang dan menuntut negara mencipta ruang aman bagi kerja perempuan di
ladang. Ladang adalah dapur bagi perempuan Oloh Ngaju dan menjadi tugas negara
untuk menjamin perlindungan penghidupan yang layak (hak asasi manusia). Kedua,
gerakan ekofeminis subsisten mencipta asap di ladang adalah suara perlawanan
yang tidak diwakilkan sebagai suara tuntutan keadilan kepada pemerintah atas
kekerasan yang masuk ke dalam ranah domestik peladang perempuan Oloh Ngaju. Sehingga, pengetahuan
deforestasi negara dan tradisi membakar tidak bersifat oposisi biner tetapi
relasional, sebab menjauhkan perempuan dari ladang adalah kekerasan
kemanusiaan. Ketiga, tindakan sosial mempertahankan ladang adalah perlawanan
protagonis sebagai negosiasi kepentingan ruang hidup dan melawan rezim
pengetahuan berbasis kapitalis-patriarki ekonomi. Oleh sebab itu, pengendalian
kebakaran hutan dan lahan tidak hanya pada level regulatif tetapi juga
negosiatif. Studi ini akhir berupaya membuka ruang mendengarkan suara korban
dalam pengetahuan yang setara dan berkeadilan.
This study articulates the struggle of the hegemonic knowledge and
interests about deforestation facing the interest and knowledge culture-based
and about the tradition of burning in the fields. The government's regulations
and economic-political interests in forests and land from 1998-2004 caused a
gradual change in the Oloh Ngaju cultivation culture. Now, the
phenomenon of work in the fields is more dominant by women, because regulations
cause many men to lose their work space and shift jobs. Culturally, the
presence of women in the fields in the Oloh Ngaju is a common
phenomenon. This study uses a subsistence -ecofeminist- perspective (M. Mies'
theory) to understand the subsistence daily activities as a survival movement
of hegemonic and repressed groups. Also, using the concept of epistemic or
knowledge-based violence (G.C. Spivak) to understand the class subjects forming
and using the knowledge regimes to hegemonize non-class (local) subjects. And,
using the interpretive concept of "worlding the world" (Spivak) for
voicing the silenced-ness of the cultural-based knowledge, then negotiating the
the living space interests of Oloh Ngaju women cultivators without
representation.
The results of this study indicate: first, Oloh Ngaju women
cultivators, due to multi-party pressure, develop internal durability and
rationalization of power through culturally based knowledge, namely the duality
of "silence in between” (not resisting, but not submitting). Second, in
the interests of the capitalist-patriarchal economy, class subjects form the
knowledge regimes, which silence the voices of Oloh Ngaju women
cultivators, and distance them from the forests and land. Third, as victims of
symbolic state violence, for women cultivators, burning in the fields is a
voice of resistance to challenge the status quo of hegemonic knowledge and the
negotiation of interests to seize living space without representation. This
study uses a descriptive-qualitative approach with a subsistence ecofeminist
perspective that focuses on the knowledge of women cultivators as natives who
speak through daily conversation and daily activity.
Three theoretical arguments: first, survival is political, as a subsistence
ecofeminist movement demands liberation of women for food self-sufficiency from
the fields and demands the state to create a safe space for women's work in the
fields. Farms are the kitchen for Oloh Ngaju women, and it is the state's
responsibility to ensure the protection of a decent livelihood (human rights).
Second, the ecofeminist subsistence movement: “making the smoke in fields” is a
voice of resistance that is not representation, as a voice demanding equity
against the government for the violence that has penetrated the domestic sphere
of Oloh Ngaju women cultivators.
Therefore, the state knowledge of deforestation and the tradition of
burning is not a binary opposition but in relational, because alienating women
from the fields constitutes a humanitarian violence “genocide”. Third, the
social action of defending the fields is a protagonist's resistance as a
negotiation of living space interests and against a knowledge regime based on
capitalist-patriarchal economics. Therefore, controlling forest and land fires
is not only at the regulatory level but also negotiable. This study ultimately
seeks to open the space to listen to voices of victims within a framework of
equity and equality knowledge.
Kata Kunci : Membakar di ladang, Peladang Perempuan, Oloh Ngaju, Durabilitas, Kekerasan Berbasis Pengetahuan, Ekofeminis Subsisten