Laporkan Masalah

Fluiditas elite dan implikasinya pada dinamika politik ditingkat lokal

Andi Ali Armunanto, Dr. Nanang Indra Kurniwan, Dr. Kushridho Ambardi. Dr. Joash Tapiheru

2025 | Disertasi | S3 Ilmu Politik


Penelitian ini mengkaji ulang konsep elit melalui lensa pos-struktural, dengan berfokus pada dinamika dan relasi non-hierarkis yang membentuk jaringan kekuasaan lokal. Dengan melampaui teori elit tradisional yang memandang elite sebagai hierarki tetap, studi ini mengajukan kerangka berpikir baru yang melihat elit sebagai entitas cair yang muncul dari relasi sosial yang berkelanjutan. Penelitian ini mengeksplorasi fluiditas elite di Makassar tranformasi formamsi elite dalam arena politik Makassar selama pemilihan kepala daerah 2018 dan 2020. Dengan merujuk pada teori pos-strukturalis Deleuze dan Guattari, studi ini memanfaatkan konsep multiplisitas, spasialitas, assemblage, dan jaringan rhizomatik. Elite dipahami sebagai hasil dari beragam relasi sosial, afektif, dan diskursif yang menjangkau ruang-ruang sosial yang saling terhubung, sementara kekuasaan dipahami sebagai fenomena relasional yang dinegosiasikan dalam jejaring sosial-politik.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dan Analisis Jaringan Rhizomatik untuk memetakan jaringan elit dan menelusuri pembentukan aliansi dalam politik lokal. Jaringan elite di Makassar bersifat beragam, meliputi hubungan berbasis kekerabatan, etnis, profesi, agama, hingga komunitas masyarakat sipil, yang menjadi landasan pengaruh elit. Koneksi ini memungkinkan elit membentuk dinamika kekuasaan dan mengembangkan formasi strategis selama peristiwa politik berlangsung. Temuan penelitian menunjukkan bahwa elite bersifat cair, mengalami deteritorialisasi dan reteritorialisasi seiring perubahan relasi dan kebutuhan taktis. Pemilihan kepala daerah di Makassar memperlihatkan transformasi dalam konstelasi elit, menunjukkan bahwa formasi kekuasaan bersifat labil dan dikonstruksi berdasarkan situasi dan konteks. Para elite menjalin aliansi-aliansi sementara yang didorong oleh pertimbangan afektif, spasial, dan strategis.

Implikasi penelitian ini menawarkan pendekatan alternatif dalam mengkaji elite dan kekuasaan lokal, sekaligus menekankan pentingnya memahami politik lokal sebagai jejaring relasi sosial dan hubungan kuasa yang kompleks. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada upaya merekonseptualisasi elit sebagai bagian integral masyarakat, yang terbentuk melalui proses menjadi (becoming) dan bukan sebagai entitas tetap. Dengan demikian, studi ini memperkaya kajian politik lokal di Indonesia dan membuka pemahaman baru tentang relasi kekuasaan dalam konteks yang dinamis dan spesifik.




This research revisits the concept of elites through a poststructural perspective, emphasizing the dynamics and non-hierarchical relationships that shape local power networks. Departing from traditional elite theories that regard elites as fixed hierarchies, this study introduces a framework that perceives elites as fluid entities arising from ongoing social interactions. The research delves into the fluidity of elites in Makassar and the transformation of elite formations in the political landscape of Makassar during the 2018 and 2020 regional elections. Drawing on the post-structuralist theories of Deleuze and Guattari, this study employs the concepts of multiplicity, spatiality, assemblage, and rhizomatic networks. Elites are understood as the outcomes of diverse social, affective, and discursive relations that span interconnected spaces, with power conceptualized as a relational phenomenon negotiated within socio-political networks.

Methodologically, this research employs interpretive qualitative methods and Rhizomatic Network Analysis to map elite networks and examine alliance formation in local politics. The elite networks in Makassar are diverse, comprising familial, ethnic, professional, religious, and civil community ties that underpin elite influence. These connections enable elites to shape power dynamics and strategically respond to political events. The findings show that elite formations are fluid, undergoing continuous deterritorialization and reterritorialization in response to shifting relationships and tactical needs. The Makassar elections revealed transformations in elite constellations, demonstrating that power formations are inherently unstable and constructed according to contingent circumstances. Elites form temporary alliances driven by affective, spatial, and strategic considerations.

The implications of this research offer an alternative lens for studying elites and local power, emphasizing the need to understand local politics through intricate networks and social relations. The theoretical contribution lies in redefining elites as integral and dynamic parts of society shaped by processes of becoming rather than fixed social entities. This enriches the discourse on Indonesian local politics and provides a new understanding of power relations as emergent and context-specific.



Kata Kunci : Rhizomatic Network, Multiplicity, Spatiality, Assemblage

  1. S3-2025-484608-abstract.pdf  
  2. S3-2025-484608-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-484608-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-484608-title.pdf