Teritorialitas Ruang Anak di Pesantren
Ratna Dewi Nur'aini, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.; Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng., Ph.D.
2025 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur
Pesantren
selain menjadi tempat belajar
agama Islam, juga menjadi ruang hidup anak yang membentuk perilaku sosial,
identitas diri, dan perkembangan psikologis anak. Anak-anak hidup secara
kolektif, berbagi ruang secara intens dan minim privasi, yang berpotensi
menimbulkan dinamika dalam penggunaan, penguasaan, dan klaim ruang oleh
masing-masing individu atau kelompok. Konsep teritorialitas sangat relevan
untuk dikaji karena menggambarkan bagaimana anak-anak membentuk rasa memiliki
terhadap ruang tertentu, membatasi atau mempertahankan wilayah, interaksi sosial
diatur secara simbolik dan fungsional dalam ruang-ruang bersama. Penelitian
tentang teritorialitas ruang anak di pesantren, khususnya pada usia Sekolah
Dasar masih sangat terbatas, sehingga penting dilakukan penelitian yang mengamati
bagaimana bentuk-bentuk teritorialitas ruang anak usia Sekolah Dasar di
pesantren, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta dampaknya terhadap
kenyamanan, interaksi sosial, dan kesejahteraan psikologis anak. Penelitian
ini bertujuan
mengidentifikasi perilaku anak terhadap seting ruang, mengidentifikasi
faktor-faktor pembentuk teritorialitas ruang anak, dan kemudian menemukan
konsep teritorialitas ruang anak di pesantren.
Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif kualitatif. Pendekatan rasionalistik digunakan dalam
penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah observasi, wawancara,
pemetaan perilaku (behavioral mapping)
dengan cara place centered mapping dan person centered mapping. Metode
physical traces (jejak yang ditinggalkan) juga digunakan. Selain
itu menggunakan cara studi literatur.
Teritorialitas ruang anak di pesantren dibentuk
oleh interaksi kompleks antara kebutuhan individu, struktur fisik lingkungan, peaturan,
dan dinamika sosial yang ada di komunitas pesantren. Anak-anak membuat hubungan
dengan ruang dengan membuat area mereka unik dan menandainya. (1) Struktur dan desain
pesantren; (2) Kebutuhan fisik dan mental anak; (3) Budaya dan tradisi; (4) Peraturan
yang berlaku; (5) Interaksi sosial; dan (6) Pengawasan pengasuh atau kyai
adalah semua faktor yang saling memengaruhi dalam menciptakan teritorialitas
ruang anak di pesantren. Teritorialitas ruang anak di pesantren adalah hasil konstruksi sosial
yang berbasis negosiasi, bukan dominasi fisik, terwujud dalam bentuk pembagian
ruang yang fleksibel dan dinamis, Anak-anak menyepakati batas-batas tertentu
melalui interaksi sosial, kesepakatan kelompok, serta penghargaan terhadap
privasi dalam ruang bersama.
Pesantren are not only places for learning Islam, but also spaces where
children live, shaping their social behavior, self-identity, and psychological
development. Children live collectively, sharing spaces intensely with minimal
privacy, which has the potential to create dynamics in the use, control, and
claims to space by individuals or groups. The concept of territoriality is
highly relevant to examine, as it illustrates how children develop a sense of
ownership toward specific spaces, define or defend their territories, and
regulate social interactions symbolically and functionally within shared
spaces. Research on children's spatial territoriality in boarding schools,
particularly among elementary school-aged children, remains limited. Therefore,
it is important to conduct research observing the forms of spatial
territoriality among elementary school-aged children in boarding schools, the
factors influencing it, and its impact on children's comfort, social
interactions, and psychological well-being. This study aims to identify
children's behavior toward spatial settings, identify the factors shaping
children's spatial territoriality, and subsequently develop a concept of
children's spatial territoriality in boarding schools.
This research uses a qualitative descriptive method. A rationalistic
approach is used in this research. The data collection techniques used in this
research are observation, interviews, behavioral mapping using place-centered
mapping and person-centered mapping. The physical traces method is also used.
Additionally, a literature review is employed.
Children's spatial territoriality in pesantren
is formed by the complex interactions between individual needs, the physical
structure of the environment, regulation, and social dynamics within the pesantren
community. Children establish relationships with space by making their areas
unique and marking them. (1) The structure and design of the pesantren; (2)
Children's physical and mental needs; (3) Culture and traditions; (4)
Applicable regulations; (5) Social interactions; and (6) Supervision by
caregivers or kyai are all factors that influence each other in creating children's
spatial territoriality in pesantren. The territoriality of children’s space in
Pesantren is the result of social construction based on negotiation, not
physical domination, manifested in the form of flexible and dynamic division of
space. Children agree on certain boundaries through social interactions, group
agreements, and respect for privacy in shared spaces.
Kata Kunci : jejak fisik; pesantren; peta perilaku; ruang anak; teritorialitas.