Laporkan Masalah

Penyusunan peta mikro zonasi kekuatan gempa melalui analisis pola spasial kerusakan bangunan permukiman untuk arahan pemanfaatan lahan : Studi kasus gempabumi 27 Mei 2006 di Bantul

Arbiyansah Krisnantoro, Drs. R. Suharyadi, M.Sc.; Drs. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc.

2007 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Gempabumi 27 Mei 2006 merupakan bukti bahwa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki tingkat kerawanan gempabumi yang tinggi. Dengan demikian diperlukan perencanaan penggunaan lahan yang sesuai dengan kondisi daerah yang rawan bencana gempabumi. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahi pola kerusakan bangunan permukiman secara spasial 2) menyusun peta mikro zonasi kekuatan gempa dan 3) Rekomendasi penyusunan arahan pemanfatan lahan. Pola spasial kerusakan bangunan permukiman diperoleh dari hasil survei lapangan dan interpretasi citra pengingderaan jauh. Survei lapangan dilaksanakan dengan dengan metode rappid assesment yang meliputi pengumpulan data tingkat kerusakan bangunan dan jenis struktur bangunan. Data survei lapangan dianalisis dengan melakuakn tumpang susun pada peta jarak lahan dengan patahan dan peta bentuklahan. Peta mikro zonasi kekuatan gempa diperoleh dengan analisis diskripsi dari pola spasial kerusakan bangunan. Arahan pemanfaatan lahan direkomendasikan berdasarkan kondisi lahan pada peta mikro zonasi kekuatan gempa. Pola spasial kerusakan bangunan (struktur bata dan beton bertulang) adalah semakin jauh dari patahan opak, semakin sedikit bangunan yang mengalami rusak berat/roboh. Pada bentuklahan dataran aluvial dan lereng kaki perbukitan struktural, bangunan lebih banyak yang rusak berat/roboh dibandingkan dengan bangunan yang ada di perbukitan struktural. Pola kerusakan pada bangunan kayu/bambu tidak terpengaruh oleh jarak dan jenis bentuklahan, sebagian besar mengalami rusak sedang dan ringan di semua tempat. Peta mikro zonasi kekuatan gempa diperoleh tiga zona kekuatan. Zona kekuatan tinggi pada lahan dengan jarak 0 hingga 3 km dari patahan serta pada bentuklahan dataran aluvial dan dataran banjir, zona kekuatan sedang pada lahan 3 hingga 5 km dari patahan dan lereng kaki perbukitan struktural, dan zona kekuatan rendah berada pada lahan lebih dari 5 km serta pada perbukitan struktural. Arahan pemanfaatan lahan untuk zona kekuatan tinggi dimanfaatkan secara intensif untuk area pertaniandan jika untuk bangunan harus dengan kualitas konstruksi yang bagus. Pada zona kekuatan sedang, cukup aman dilakukan pembangunan dengan memperhatikan kaidah bangunan tahan gempa. Pada zona kekuatan rendah sangat aman untuk dijadikan kawasan pembangunan intensif, serta kualitas struktur bangunan pada lokasi ini tidak perlu sekuat zona kekuatan tinggi.

-

Kata Kunci : pola spasial kerusakan bangunan, mikro zonasi kekuatan gempa, arahan pemanfaatan lahan,Bantul,DIY

  1. S1-2007-167668-Abstract.pdf  
  2. S1-2007-167668-Bibliography.pdf  
  3. S1-2007-167668-TableofContent.pdf  
  4. S1-2007-167668-Title.pdf