Laporkan Masalah

Pengaruh Pekerjaan Sebagai Pengrajin Gerabah Terhadap Terjadinya Infeksi Cacing Usus Di Daerah Kasongan, Bantul, Yogyakarta

Titik Nuryastuti, Dra. Sri Sumarni, DAP&E.SU ; dr. Umayah, DAP&E

1994 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Salah satu masalah kesehtan yang tak kurang pentingnya di negara-negara berkembang di daerah tropik dan subtropik ialah infeksi cacing usus. Indonesia sebagai negara tropik dengan kelembaban tinggi merupakan lingkungan yang baik untuk perkembangbiakkan cacing usus, terutama soil-trasmitted helminths (cacing yang ditularkan melalui tanah). Ada 4 spesies dari cacing ini yang sering menginfeksi manusia yaitu cacing tambang, Ascaris lumbricoides, trichuris trichiura dan Strongloides stercoralis. Ke-4 cacing ini prevalensinya cukup tinggi di daerah pedesaan, semi urban maupunurban. Penularan cacing ini melalui tanah yang tercemar tinja manusia yang mengandung telur atay larva infektif cacing tersebut. Untuk penularan A. lumbricoides dan T. trichiura terjadi secara oral baik menelan telur yang telah matang melalui tangan ke mulut atau secara tidak langsung melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi telur, sedangkan untuk cacing tambang dengan cara menembus kulit terutama di sela-sela jari-jari. Pengrajin gerabah merupakan sekelompok penduduk yang setiap harinya sering kontak dengan tanah yang merupakan media perkembangbiakkan telur/larva infektif. Semakin sering individu atau host kontak dengan telur/larva infektif maka akan memperbesar peluang untuk infeksi, apalagi bila mereka kurang memperhatikan higiene dan sanitasi dan kurang mengerti tentang cara-cara hidup sehat. Terjadinya infeksi cacing usus ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengetahuan kesehatan, keadaaan sosial ekonomi dan jenis pekerjaan. Penelitian ini dilakukan di dusun Tirto, kasongan, Bantul, dengan mengambil 62 sampel secara acak (31 pengrajin dan 31 bukan pengrajin). Tinja yang terkumpul kemudian diperiksa untuk mengetahui adanya infeksi cacing usus dengan cara Kato. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengrajin gerabah yang terinfeksi cacing tambang sebesar 22,58%, pada bukan pengrajin 0%, pengrajin gerabah yang terinfeksi T. trichiura 20,97% dan bukan pengrajin 3,23%, sedangkan untuk infeksi A. lumbricoides pada pengrajin sebesar 8,06% dan bukan pengrajin 0%. Terdapat perbedaan yang bermakna antara masing-masing prevalensi ke-3 cacing usus tersebut pada pengrajin gerabah dan bukan pengrajin (P<0,05). Prevalensi infeksi ascaris dan cacing tambang terbanyak pada usia lebih dari 40 th, sedangkan infeksi trichuris terbanyak pada usia 5-15 th, prevalensi cacing usus pada pria dan wanita secara statistik tidak bermakna (P>0,05). Pada penelitian ini ternyata didapatkan ada hubungan yang agak rendah antara pekerjaan sebagai pengrajin gerabah dengan terjadinya infeksi cacaing tambang, sedangkan hubungan antara pengrajin gerabah dengan terjadinya infeksi T. trichiura dan A. lumbricoides rendah.

Kata Kunci : soil transmitted helminths, nematoda, Posyandu

  1. S1-FKU-1994-TitikNuryastuti-Abstract.pdf  
  2. S1-FKU-1994-TitikNuryastuti-Bibliography.pdf  
  3. S1-FKU-1994-TitikNuryastuti-Tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKU-1994-TitikNuryastuti-Title.pdf