Laporkan Masalah

Bridging the Gap Between STEM Education and Employment: Strategic Policy Framework for Indonesia’s Development Vision 2045

Celine Eryanti, Dr. Puguh Prasetya Utomo

2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Makalah kebijakan ini menganalisis metode strategis untuk meningkatkan pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) serta penyelarasan tenaga kerja di Indonesia, sebagai dasar pencapaian tujuan jangka panjang yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Visi Indonesia Emas 2045. Meskipun berbagai reformasi telah dilakukan, persentase lulusan STEM tidak menunjukkan peningkatan signifikan selama enam tahun terakhir, dan integrasi mereka ke dalam sektor-sektor bernilai tinggi masih terbatas. Hasil ini menunjukkan adanya permasalahan struktural mendasar, seperti tata kelola yang terfragmentasi, ketimpangan regional, kolaborasi riset dan industri yang belum optimal, serta belum adanya lembaga pusat yang berfungsi mengoordinasikan kebijakan terkait STEM secara terpadu.

Data yang dikumpulkan melalui desk research dan analisis dokumen kebijakan dievaluasi menggunakan model pseudo-evaluasi, serta dilengkapi dengan perbandingan internasional terhadap Jerman, Finlandia, dan Singapura. Ketiga negara tersebut dipilih karena memiliki keselarasan yang kuat antara sistem pendidikan dan pasar tenaga kerja, serta struktur tata kelola yang mapan dalam pengembangan STEM. Hasil kajian mengidentifikasi tiga masalah struktural utama: (1) kurangnya koherensi sistemik antarprogram dan institusi STEM, (2) rendahnya responsivitas terhadap kebutuhan pasar tenaga kerja, dan (3) ketimpangan akses dan kualitas antarwilayah.

Makalah kebijakan ini menawarkan dua opsi strategis: mempertahankan kondisi saat ini atau mendirikan Dewan STEM Nasional Terpadu (Integrated National STEM Council) atau Pusat Inovasi STEM Terdesentralisasi (Decentralized STEM Innovation Hubs). Kedua alternatif tersebut dianalisis melalui peramalan teoretis dan pemetaan kebijakan, serta dievaluasi kelayakannya berdasarkan empat kriteria yang diadaptasi dari Patton, Sawicki, dan Clark (2016): kelayakan teknis, kelayakan ekonomi dan finansial, penerimaan politik, serta operasionalisasi administratif.

Melalui penilaian Goeller Scorecard, opsi Dewan STEM Nasional Terpadu dinilai sebagai pilihan paling menguntungkan karena memiliki potensi tertinggi dalam memperbaiki sistem secara menyeluruh melalui koordinasi terpusat, penyelarasan antar kementerian, dan optimalisasi program yang telah ada.

Strategi yang diusulkan bertujuan untuk meminimalkan redundansi program, meningkatkan sistem pemantauan dan evaluasi nasional, serta mendorong pemerataan pengembangan STEM secara inklusif di seluruh provinsi. Laporan ini ditutup dengan rekomendasi implementasi bertahap, indikator pemantauan yang terukur, serta mekanisme mitigasi risiko pelaksanaan.

Kata kunci: Pendidikan STEM, Pengembangan Tenaga Kerja, Kebijakan Publik, Reformasi Pendidikan Tinggi, RPJPN 2045, Inovasi, Strategi Nasional STEM

??This policy paper analyzes strategic methods to enhance STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) education and workforce alignment in Indonesia, serving as a basis to attain the long-term objectives specified in National Long-Term Development Plan 2025–2045 and the Vision of Golden Indonesia 2045. Notwithstanding numerous reform initiatives, the percentage of STEM graduates has remained unchanged over the previous six years, and their integration into high-value sectors remains constrained. These results indicate underlying structural problems, such as disjointed administration, regional inequalities, insufficient research-industry collaboration, and the lack of a centralized entity to oversee STEM-related policy.


Data collected through desk research and policy document analysis were evaluated using a pseudo-evaluation model and complemented by international benchmarking with Germany, Finland, and Singapore. These countries were chosen for their robust congruence between educational frameworks and labor markets, as well as their established governance structures for STEM advancement. The investigation revealed three significant structural issues: insufficient systemic coherence among STEM programs and institutions, inadequate responsiveness to labor market demands, and disparities in access and quality across regions.


This policy paper presents two strategic options: preserving the current state and establishing either an Integrated National STEM Council or Decentralized STEM Innovation Hubs. The alternatives were reviewed by theoretical forecasting and policy mapping, appraised for feasibility based on four criteria derived from Patton, Sawicki, and Clark (2016): technical feasibility, economic and financial viability, political acceptability, and administrative operability.


The Goeller Scorecard assessment determined that the Integrated National STEM Council is the most advantageous option, presenting the highest potential for systemic improvement via centralized coordination, interministerial alignment, and the optimization of current programs.


The proposed strategy aims to minimize redundancy, enhance national monitoring and assessment frameworks, and promote inclusive STEM advancement throughout provinces. The report concludes with recommendations for incremental implementation, quantifiable monitoring indicators, and measurement to mitigate potential implementation hazards.


Keywords: STEM Education, Workforce Development, Public Policy, Higher Education Reform, National Long-Term Development Plan 2045, Innovation, National STEM Strategy


Kata Kunci : STEM Education, Workforce Development, Public Policy, Higher Education Reform, National Long-Term Development Plan 2045, Innovation, National STEM Strategy

  1. S1-2025-475176-abstract.pdf  
  2. S1-2025-475176-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-475176-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-475176-title.pdf