Sudut Pandang Perempuan: Memahami Kembali Posisi Gender Mantan Pekerja Migran di Desa Nibung Kabupaten Lampung Timur
Senja Septia, Milda Longgeita Br Pinem., S.Sos., M.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Jumlah
pekerja migran luar negeri yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan disebabkan
oleh faktor ekonomi, keterbatasan pendidikan, dan status sosial. Pekerjaan
tersebut di dominasi oleh kaum perempuan baik dari ibu rumah tangga maupun
perempuan yang masih lajang. Sepertihalnya yang terjadi di Lampung Timur yang
merupakan daerah dengan mayoritas penduduknya petani dengan menanam padi,
sawit, karet, dan juga jagung. Stagnansi terhadap pertanian konvensional inilah
yang menjadi salah satu masalah penyebab tingkat kemiskinan di Lampung Timur
masih jauh dari angka standar nasional yang telah ditetapkan. Keterbatasan
ekonomi akhirnya menjadikan para perempuan di Desa Nibung harus mengambil peran
untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan merantau
keluar negeri menjadi TKW selama bertahun-tahun. Status perempuan sebagai
pekerja migran, menjadikan dirinya keluar dari kondisi sosial ekonomi yang
sulit, berpenghasilan tetap setiap bulan, mahir berbahasa asing menambah nilai
perempuan sebagai sosok yang berdaya dan mandiri. Namun menjadi TKW tidak bisa
dilakukannya seumur hidup, kontrak kerja yang terbatas membawa para perempuan
pulang ke kampung halaman, dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk
menggali pengalaman mantan pekerja migran ketika kembali ke kampung halaman,
sehingga akan terlihat bagaimana perempuan beradaptasi dengan posisi gendernya
dari status pekerja menjadi perempuan yang tidak bekerja, perempuan sebagai
isteri, ibu, dan juga stigmatisasi sosial yang melekat pada perempuan mantan
pekerja migran
Penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus, pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur, observasi, serta
dokumentasi. Selain itu penentuan informan diklasifikasikan dengan beberapa
syarat seperti, perempuan yang telah menikah ketika berangkat keluar negeri,
masa merantau minimal dua tahun, maksimal sepuluh tahun. Penelitian ini
melibatkan enam informan, dengan analisis data melalui penyajian data, reduksi
data yang kemudian dianalisis secara tematik.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kehidupan mantan pekerja migran setelah kembali ke
kampung halaman, beberapa dari mereka kembali pada pekerjaan semula sebelum
menjadi TKW, ada yang menjadi pengusaha, jajaran perangkat desa. Posisi gender
lainnya seperti menjadi isteri dan ibu tetap berjalan baik dikarenakan sang
suami yang juga bekerja, sehingga stau sama lain tetap menghargai hasil jerih
paying masing-masing. Meskipun begitu sala satu mantan pekerja migran tetap ada
yang mendapati stigma buruk tentang perempuan yang merantau keluar negeri,
seperti stigma perselingkuhan.
The number of overseas migrant workers has increased year after year due to economic factors, limited education, and social status. These jobs are dominated by women, both housewives and single women. This is the case in East Lampung, a region where the majority of the population are farmers who grow rice, palm oil, rubber, and corn. The stagnation of conventional agriculture is one of the problems causing the poverty rate in East Lampung to remain far below the national standard. Economic limitations have ultimately forced women in Nibung Village to take on the role of helping their husbands meet household needs by migrating abroad as migrant workers for years. The status of women as migrant workers allows them to escape difficult socioeconomic conditions, earn a steady monthly income, and become proficient in foreign languages, adding value to women as empowered and independent individuals. However, being a migrant worker is not something they can do for the rest of their lives. Limited work contracts bring these women back to their hometowns. Thus, this study aims to explore the experiences of former migrant workers when they return to their hometowns, so that we can see how women adapt to their gender roles from being workers to unemployed women, wives, mothers, and also the social stigma attached to former migrant workers.
This research was conducted using a qualitative approach with a case study method, data collection through semi-structured interviews, observation, and documentation. In addition, the selection of informants was classified according to several criteria, such as women who were married when they left the country, with a minimum of two years and a maximum of ten years abroad. This study involved six informants, with data analysis through data presentation and data reduction, which was then analyzed thematically.
The results of the study show that after returning to their hometowns, some former migrant workers returned to their previous jobs before becoming migrant workers, while others became entrepreneurs or village officials. Other gender roles, such as being a wife and mother, continue to function well because their husbands also work, so they continue to respect each other's hard work. However, some former migrant workers still encounter negative stigma about women who migrate abroad, such as the stigma of infidelity.
Kata Kunci : Perempuan, Mantan Pekerja Migran, Posisi Gender