Pemanfaatan citra landsat Thematic Mapper untuk zonasi wilayah endemik malaria dan prioritas penanganannya di kecamatan Girimulyo, Kokap, Pengasih dan Temon kab. Kulon Progo provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Ari Susilawati, Dr. Prapto Suharsono, M.Sc.; Prof. Dr. Sugeng Juwono, M.DAP & E.,M.Sc.
2004 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHHingga saat ini, beberapa daerah di Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, masih dikategorikan sebagai daerah dengan insidensi kasus malaria tinggi (HCI-High Case Incidence). Teknologi Penginderaan jauh (PJ) dan sistem informasi geografis (SIG) diharapkan dapat digunakan sebagai pilihan untuk pemantauan dan pengendalian malaria. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji manfaat data PJ untuk menyadap informasi karakteristik fisik lahan untuk zonasi wilayah endemik malaria, dan (2) menentukan zona prioritas penanganan malaria berdasarkan zona wilayah endemik malaria. Penelitian ini tidak melibatkan faktor-faktor sosial ekonomi. Data utama berupa citra Landsat TM (Thematic Mapper) perekaman Juni 1996. Citra ini digunakan untuk menyadap informasi bentuklahan dan penggunaan lahan dengan bantuan foto udara pankromatik hitam putih skala 1:20.000, peta topografi, dan peta geologi. Citra landsat TM juga digunakan untuk membuat peta kerapatan vegetasi melalui transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Peta kerapatan alur, tekstur tanah, kedalaman muka air tanah, dan kualitas air berupa daya hantar listrik (DHL) diperoleh melalui deduksi bentuklahan, cek lapangan, dan pengukuran langsung di lapangan. Peta curah hujan, temperatur udara, dan kelembaban udara diperoleh melalui interpolasi data klimatik sekunder. Lokasi-lokasi sampel dipilih berdasarkan metode stratified random sampling. Tiap zona wilayah endemik malaria diperoleh dengan cara menumpangsusunkan sembilan parameter. Setiap kelas parameter dikalikan dengan faktor penimbang. Total jumlahnya diklasifikasikan dalam 3 kelas, yaitu wilayah endemik malaria tinggi, sedang, dan rendah. Urutan prioritas penanganan ditentukan berdasarkan pada zonasi tersebut. Untuk mengetahui hubungan antara parameter-parameter yang digunakan dengan data penderita malaria, peta zonasi tersebut dibandingkan dengan peta sebaran API (Annual Parasite Incidence) rata-rata 1997-2001 tiap desa dilakukan analisis statistik berupa analisis regresi logistik multinominal dan tabel silang. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketelitian interpretasi Landsat TM sebesar 87,23% untuk bentuklahan, 85,11% untuk penggunaan lahan, dan r² 0,8737 untuk kerapatan vegetasi. Range r² adalah 0 hingga 1, dimana nilai kecil mengindikasikan kecocokan model rendah. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa sembilan parameter yang digunakan adalah signifikan (p < 0,05; r² = 0,665). Urutan besar pengaruh sembilan parameter dari tingkat tertinggi ke rendah dalam kaitannya dengan status API adalah kerapatan alur, kelembaban, kedalaman muka air tanah, tekstur tanah, temperatur udara, curah hujan, penggunaan lahan, DHL, dan kerapatan vegetasi. Peta zonasi wilayah endemik malaria menunjukkan bahwa wilayah endemik malaria tinggi (prioritas penanganan I) seluas 9.987,66 hektar atau 46,39%, endemik malaria sedang (prioritas penanganan II) seluas 10.548,69 hektar atau 49%, dan 3,76% atau 808,61 hektar merupakan wilayah endemik malaria rendah (prioritas penanganan III). Penanganan malaria direkomendasikan berdasarkan pada zona wilayah endemik malaria tinggi, status API, dan penggunaan lahan yang ada. Penanganan malaria harus dilakukan secara terintegrasi oleh pihak terkait dan peran aktif Masyarakat.
-
Kata Kunci : Zonasi wilayah,Citra landsat thematic mapper,Endemik malaria,Kokap,Pengasih,Girimulto,Temon,Kulonprogo,DIY