PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP FUNGSI KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DI HUTAN RAKYAT DAN HUTAN NEGARA Kasus di Desa Gunung Tugel, Wonosobo
IRFAN BAKHTIAR, Prof. Dr. Ir. Achmad Sulthoni, M.Sc.; Ir. San Afri Awang, M.Sc.
2001 | Skripsi | S1 KEHUTANANHutan negara di Pulau Jawa berada dalam keadaan yang memp1ihatinkan. Keadaan tersebut sm1gat berbeda dengan kondisi hutan rakyal: di berbagai tempat yang rnasih terlihat hijau dan tertutup. Hutan rakyat yang begitu luas di Jawa menimbulkan pertanyaan cukup besar, karena tanaman hutan merupakan tanaman berjangka waktu panjang, sehingga seem-a ekonomis se1ingkali tidak menguntungkan. Dalmn kondisi hutm1 yang rusak, masyarakat mulai masuk ke lahan hutan dan menghijaukan kernbali hutan-hutan tersebut, dengan atau tanpa ijin dari pihak pengelola, yaitu Perhutani. Penelitian ini be1tujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap fongsi konservasi sumberdaya hutan dan motivasi masyarakat membangun hutan rakyat dan terlibat dalam pengelolaan hutm1 negara. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetalmi perkembangan hutan rakyat sertn hubungan antara masyarakat dengan instm1si terkait, yaitu Dinas Kehutanan dan PT Perhutani. Lokasi penelitian adalah Desa Gunung Tugel, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo. Penelitiai1 ini mernpakm1 penelitian deskriptif, dengan memadukan metodt) kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data diiaksanakan dengan wawancara mendalmn dengan beberapa nara sumber kunci, wawancara terstruktur dengan nara swnber yang lain, serta melakukan beberapa kali focus group discussion untuk melakukan cross check infonnasi. Metode pengambilan sampel yang digunaka.n adalah purposive sample, dengan sasaranĀ· pamong desa dan anggota kelompok tani hutan rakyat yang juga merupakan penggarap lahan hutan negara. Dari penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan, yaitu : ( 1) Secara umum, masyarakat Gunung Tugel memahami fungsi konservasi smnberdaya lmtan; (2) Pada beberapa kondisi tertentu, konservasi sumberdaya hutan, terutama konservasi satwa akan berhadapan dengan kepentingan dan budaya masyarakat; (3) Hutan rakyat Gunung Tugel yang dikenal cukup berhasil pada saat ini menghadapi kendala besar ym1g dapat mempengaruhi kelestarimmya, yaitu sistem ekonomi pasar, yang menempatkan petani sebagai pihak. yang paling dirugikan; (4) Dengau pengalaman keberhasilan hutan rakyat dan kondisi hutan negara yang memprihatinkan, sudah selayaknya masyarakat sekitar hutan ditempatkan sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumberdaya hutan; (5) Hubungan yang tetjalin antara masyarakat dengan petugas dari Perhutani dan Dinas Kehutanan cenderung kurang baik, karena para petugas tidak dapat bersikap sebagai fasilitator yang bertugas untllk memajukan masyar akat.
The actual condition shows that Java state forest is facing death. That condition is very different from green and successful community forest in several places in this island. There is a big question for Javanese farmer who plant forest crops, because they are unprofitable. It has to be other perceptions that motivate them planting forest crops. After the forest damage, almost a11 of villagers work at foresr rehabilitation and cultivate the forestland, with or without Perhutani's permission. The research objectives are to understand community's pefception towards forest resource conservation and also their motivation on developing community forest and being involved in reforestation activities. The othflr objectives of this research are to find out the factual condition of community forest and the relationship between villagers and forest officers from District Forest Office and also Perhutani. The research location is at Gunung Tugel, a village in Wonosobo District, Central Java. This research is a desc1iptive research that combines qualitative and quantitative methods. The data are collected by depth interview with several key persons, strnctured interview with group members, and also cross checking the infonnation by focus group discussion. The sampling method is purposive sampling, and the targt:t groups are community leaders and tl1e members of state forest user group whom also the member of commw1ity forest fanners group. Results of the research are ( l) Gunung Tug el villagers understand the forest conservation function generally. (2) At several condition, wildlife conservation will be opposite with the c01mnunity's interest and culture. (3) The successful Gunung Tugel community forest facing market based economic system as a big problem for their sustainability. (4) With the community forest successful experience, it will be better if local community being trusted to be main manager of the state forest. (5) There is a bad relationship between viHagers and the forest officers from District Forest Office and PT Perhutani. The forest officers cannot act as facilitators for the villagers, but keep being the boss and the policemen.
Kata Kunci : Perception and motivation jcJrest conservation, community forest, and community participation