Laporkan Masalah

ANALISIS SOSIOKULTURAL PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI Daerah Kajian di Sub DAS Temon, Wonogiri, Jawa Tengah

Wulan Sari, Ir. Djuwadi, M.S; Dr. Ir. Zainuddin Fanani

2001 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (watershed management) adalah upaya masyarakat dalam mengendalikan bubungan timbal batik antara sumber daya alam (vegetasi, tanah, air) dan manusia serta aktivitasnya, dengan tujuan kelestarian dan kesesuaian ekosistem. Kelestarian ekosistem DAS ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika kebudayaan masyarakatnya Guna mendukung keberbasilan pengelolaan DAS, maka perlu disusun dan dikaji suatu basis data geografi yang senantiasa mampu menginformasikan kondisi sosiokultural masyarakat dalam kaitannya dengan perubahan lingkungan fisik yang terjadi. Bertitik tolak dari kebutuhan tersebut, maka dalam penelitian ini dikaji pemetaan sosiokultural masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas Sistem Informasi Geografi (SIG). Penelitian dilakukan dengan pendekatan Ekologi Budaya (Cultural Ecology) secara partisipatif melalui pengungkapan nilai sosiokultural, pola pikir dan pola sikap masyarakat di Sub DAS Temon, Wonogiri, Jawa Tengah. Metodologi pengambilan sampel yang dilakukan adalah dengan teknik sampel acak bertingkat melalui wawancara semi terstruktur yang mampu menjaring 148 responden, yang menyebar di kawasan lindung (20 jiwa), kawasan penyangga (53 jiwa), kawasan budidaya tahunan (27 jiwa) dan kawasan budidaya semusim (48 jiwa). Data primer basil wawancara kemudian dikuantifikasi dengan Skala Sikap Likert dan diverifikasi dengan analisis bivariat Korelasi. Dengan mengacu pada basil tersebut yang kemudian dikaitkan dengan kajian karakter biofisik, maka dilakukanlah pemetaan sosiokultural melalui pemodelan-pemodelan: Arahan Fungsi Kawasan, Kondisi Sosiokultural Masyarakat, Kekritisan Kawasan dan Resolusi Konflik dalam Pengelolaan Sub DAS Temon dengan fasilitas Sistem Informasi Geografi Berdasarkan basil penelitian dapat diketahui bahwa dalam setiap zona fungsi kawasan keterkaitan antara nilai dasar sosiokultural, persepsi, sikap, partisipasi dan bentuk kepemilikan lahan masyarakat memiliki bubungan yang erat. Penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan pada nilai-nilai sosiokultural, seperti: kawasan lindung dengan sistem lembaga adat, edukasi, teknologi dan kesenian; kawasan penyangga dengan sistem religi-tradisi dan organisasi keagamaan ; kawasan budi daya tahunan dengan sistem ekonomi dan komunikasi massa ; serta kawasan budidaya semusim dengan sistem ekonomi dan perobahan kebudayaan. Dengan dialektika kebudayaan ini, maka strategi kebijakan pengelolaan DAS dapat dilakukan secara lebih akseleratif dan ramah lingkungan.

Watershed Management is an effort of society in case of controlling reciprocal relationship between natural resources ( crop, soil, water) and human including their activities, for sustainable and suitability ecosystem. Sustainable ecosystem of watershed cannot be separated from culture of society dynamic. For supporting success of watershed management, a data geography base should be arranged and observed. This data base should be able to inform sociocultural condition of society which is related with changes of physic environment. Base on this need in this research observed sociocultural mapping of society using Geography Information System (GIS). The research was carried out using cultural ecology approach according to participation through revealing sociocultural value, structure pattern and society behaviour pattern of Temon Sub Watershed, Wonogiri, Central Java. Semi structured interviewed was used to gather information and Stratified random sampling was use to select respondent. One hundred and fifty eight respondents were devided into four zone. They were Conservation zone (20 people), Buffer zone (53 people), Annual cultivation zone (27 people) and Seasonal cultivation zone (48 people). Primary data as the result of interview has been quantified using Likert scale instrument and than using bivariat analysis of correlation to verify. Those result was linked with biophysic character to produce sociocultural mapping through modellings: The directive area function, Sociocultural conditions of society, Critical area, and Conflict resolution in watershed management of Temon through GIS facility. In this result, we can know in every area functional zone, the relationship between sociocultural pattern, perception behaviour, participation and a kind of possessive land is very closed. The conflict can be solved using sociocultural approach such as Conservation zone using Kasepuhan organization, education, technology, and art sytem; Buffer zone using traditional-religion, and Pesantren organization system; Annual cultivation zone using economic and mass comunication system and Seasonal cultivation zone using economic and cultural changes politic system. By means of this culture dialectic, so strategy of watershed management policy can be done more accelerately and friendly for environment.

Kata Kunci : Sosiokultural, Pengelolaan daerah aliran Sungai, Sistem lnformasi Geografi.

  1. Abstract.pdf  
  2. Bibliography.pdf  
  3. Table_of_content.pdf  
  4. Title.pdf