Laporkan Masalah

Konfigurasi kekuasaan elit lokal; Dinamika Ulama, Jawara, dan pengusaha di Kota Cilegon :: Masa Orde Baru, Masa Transisi dan Pasca 2000

ARMUJI, Oji, Dr. Pratikno, M.Soc.Sc

2004 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Reformasi tata pemerintahan dan pola hubungan kekuasaan pusat dan daerah di Indonesia membawa pergeseran lokus kekuasaan dari pusat ke daerah. Dalam bentuk yang paling minimal, politik lokal pada gilirannya menjadi arena pertarungan berbagai kelompok kepentingan masyarakat daerah. Oleh karena itu, menarik untuk dikaji konfigurasi kekuasaan dan kontestasi kekuatan elit di tingkat lokal, khususnya di Kota Cilegon. Pemetaan periodis yang dilakukan dalam penelitian ini (masa orde baru, masa transisi, dan pasca 2000) menemukan adanya pergeseran peta kekuasaan dan dimensidimensi spasial yang melingkupinya. Bahwa kekuasaan di samping sangat kondisional juga bersifat relatif dan fluktuatif, yang sebarannya ditentukan “persenyawaan” aktor, ruang, dan waktu. Baik ulama, jawara, maupun pengusaha di Kota Cilegon memiliki domain kekuasaan yang menunjukkan fluktuasi dominasi. Sehingga kontestasi kekuatan antar elit dari waktu ke waktu menunjukkan konfigurasi kekuasaan yang berbeda. Pada masa Orde Baru, negara sangat kuat dan mengontrol elit-elit lokal melalui otoritas politik dan dominasi ekonomi. Tetapi negara Orde Baru –dalam konteks pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan kekuasaan-, tetap membutuhkan legitimasi kultural. Hal ini menggiring keterlibatan komponen kekuatan masyarakat dalam dinamika pemerintahan daerah, khususnya kaum ulama yang secara historis dan faktual dipandang telah cukup mengakar dan menempati posisi strategis di masyarakat. Sementara era transisi, ditandai krisis legitimasi negara yang cukup serius dan berdampak pada instabilitas di berbagai bidang. Pada tingkat lokal kondisi tersebut menimbulkan kekosongan kekuatan koersif yang sebelumnya mapan dengan “suasana militeristik” sebagai back-up legitimasi pemerintah daerah. Dalam kondisi ketidakpastian tersebut, kalangan jawara yang merupakan salah satu komponen kekuatan kultural di Kota Cilegon secara taktis tampil sebagai kekuatan koersif baru. Pasca 2000, stabilitas mulai nampak dan negara perlahan-lahan memperoleh kembali basis legitimasinya. Pembangunan kemudian menjadi agenda prioritas akibat keterpurukan ekonomi sepanjang krisis yang melanda. Pada gilirannya kalangan pengusaha muncul sebagai kekuatan signifikan dalam pentas pembangunan daerah.

The Indonesian reformation in order government and authority relation pattern between local and central government, brought a friction locus of power from central to local authority. In minimalist form, local politics in the other hand become an fighting area for several group of political interest in a region. This condition seems like an appealed thing to investigate for, power configuration and strength dispute among elite on phase stage area, specially in Cilegon town. Periodic classification that prevailed in this research (sociopolitical order, transition era, pasca 2000) founded a situation of power chart friction and special dimensions that included. Power besides very conditionally also relatively and fluctuated which moving by “fusion of chemical compounds” actor, space, and time. Ulama, jawara, as well as entrepreneur in Cilegon town have a domain power that indicated fluctuating of domination. Finally, power dispute among elites starting at one time to another refers the differences power configuration. In sociopolitical order, central government were strong and local elites controlled by political authority and economic domination. But central government in sociopolitical order still permanently required an cultural legitimation based on. This case brought involvement of civic power component in local government dynamic, specially a group of ulama that historical also factually in opinion take root enough and have strategic position in society. While transition era were signed by legitimation crisis on state seriously and make instability in every field. At local level that condition appeared emptiness coercion power that established with “militaristic situation” as a back-up local government legitimation. The unpredictable condition that being exist make a group of Jawara (one of cultural power in Cilegon town) appeared on tactical as new coercion power. Pasca 2000, stability was begin and state legitimation slowly returned based on strength. And then, development in every field become a priority agenda for reaching consequences of economic crisis that being attack continuously. In the next step entrepreneur group turned as significant power on local development phase stage.

Kata Kunci : Politik,Elit Lokal,Kekuasaan Ulama, Jawara dan Pengusaha, power configuration, local elite, elite strength dispute.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.