Laporkan Masalah

Analisis Pemberdayaan Perempuan terhadap Ketiga Indikator Kemiskinan Regional di Indoneisa

Prissilia Angelin Besare, Prof. Dr. Catur Sugiyanto, M.A

2025 | Tesis | S2 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Tingkat kemiskinan (P0) di Indonesia cenderung menurun, tetapi indikator kemiskinan lainnya seperti indeks kesenjangan kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) relatif stagnan. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan angka penduduk miskin tidak secara langsung terjadi perbaikan bagi penduduk miskin lainnya. Perempuan selalu menjadi kelompok yang paling rentan, dan menjadi kelompok dengan tingkat kemiskinan paling tinggi setiap tahunnya. Hal ini diakibatkan oleh berbagai diskriminasi yang sulit diputus dan membutuhkan intervensi sistematis. Pengentasan kemiskinan dan kesetaraan gender merupakan bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Sehingga pemberdayaan perempuan perlu dilakukan sebagai bagian dari pengentasan kemiskinan.

Penelitian ini menganalisis pengaruh pemberdayaan perempuan bidang pendidikan, ekonomi, dan politik terhadap ketiga indikator kemiskinan regional di Indonesia, yaitu P0, P1, dan P2 menggunakan data skala kabupaten/kota di Indonesia untuk periode 2018–2023 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Terdapat tiga model yang digunakan dalam penelitian ini, model 1 menggunakan metode  Two-Stage Least Squares (2SLS) pendekatan instrumental variable dalam meninjau tingkat kemiskinan, sedangkan model 2 dan 3 menggunakan metode Panel Corrected Standard Error (PCSE) dalam meninjau indeks kesenjangan dan indeks keparahan kemiskinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan perempuan berpengaruh signifikan terhadap ketiga indikator kemiskinan. Sedangkan, pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi hanya berpengaruh pada indeks kesenjangan dan keparahan kemiskinan. Di sisi lain, pemberdayaan perempuan bidang politik berpengaruh signifikan terhadap ketiga indikator kemiskinan. 

Indonesia's poverty headcount ratio (P0) has shown a declining trend, while other poverty indicators—specifically the poverty gap index (P1) and poverty severity index (P2)—remain relatively stagnant. This indicates that the reduction in the number of poor people has not directly translated into improved conditions for those remaining in poverty. Women consistently constitute the most vulnerable group and exhibit the highest poverty rates annually. This phenomenon is perpetuated by various forms of entrenched discrimination that require systematic intervention. Poverty eradication and gender equality are part of the 2030 Sustainable Development Goals (SDGs), underscoring the imperative of female empowerment as a key strategy in poverty eradication.

This study examines the impact of women's empowerment in education, economics, and politics on Indonesia's three regional poverty indicators (P0, P1, P2) using district/city-level data from the Badan Pusat Statistik (BPS) for the 2018–2023 period. Three analytical models were employed: Model 1 using the Two-Stage Least Squares (2SLS) method with an instrumental variable approach to assess poverty headcount, while models 2 and 3 applied the Panel Corrected Standard Error (PCSE) method to evaluate the poverty gap index and poverty severity index. The findings reveal that improvements in women's education significantly influence all three poverty indicators. Economic empowerment, however, only affects the poverty gap and severity indices, whereas political empowerment demonstrates significant effects across all poverty measures.

Kata Kunci : Tingkat kemiskinan, indeks kesenjangan kemiskinan, indeks keparahan kemiskinan, pemberdayaan perempuan

  1. S2-2025-499656-abstract.pdf  
  2. S2-2025-499656-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-499656-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-499656-title.pdf