Evaluation of Trap Designs and Attractants for Monitoring The Asian Citrus Psyllid (Diaphorina citri) and Development of A Maxtent Model to Predict The Potential Distribution of ACP in Indonesia
Haris Setyaningrum, Prof. Tri Joko S.P, M.Sc., Ph.D; Prof. Dr. Ir. Edhi Martono, M.Sc.; Alan Soffan, SP., M.Sc., Ph.D.; Dr. Jianhua Mo
2025 | Disertasi | S3 Ilmu Pertanian
Diaphorina citri, yang
dikenal sebagai Asian Citrus Psyllid (ACP), merupakan hama penting yang
menimbulkan ancaman serius bagi petani jeruk di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia. Di sebagian besar wilayah, bakteri Candidatus liberibacter asiaticus
(CLas) merupakan agen penyebab HLB. Faktor ini menjadi alasan utama penelitian
ini, karena memiliki dampak signifikan terhadap produksi jeruk di Indonesia.
Saat ini, populasi ACP di Indonesia masih rendah, sementara HLB tetap menjadi
penyakit jeruk yang signifikan. Alat pemantauan lapangan untuk ACP masih
terbatas. Penelitian ini dilakukan dalam tiga rangkaian studi yang
terintegrasi: Rangkaian pertama melibatkan pengujian efektivitas perangkap
lengket kuning (YST) dengan berbagai umpan, yaitu produk komersial/alpha
scents, asam asetat, asam formiat, dan asam propionat. Seri studi kedua melibatkan pemantauan populasi
ACP di berbagai lokasi pusat jeruk dan inang alternatif. Seri studi ketiga
melibatkan pengembangan model menggunakan MaxEnt untuk memetakan distribusi
potensial ACP yang dapat terjadi di wilayah Indonesia. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penambahan umpan ke dalam YST meningkatkan jumlah ACP yang
tertangkap dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menggunakan umpan.
Dalam lingkungan terkontrol, penggunaan umpan secara terpisah menawarkan
potensi menjanjikan untuk menangkap ACP, dengan asam formik menunjukkan potensi
terbesar dalam hal ini. Sebaliknya, dalam kondisi alamiah yang melibatkan
penggunaan umpan secara bersamaan, asam asetat terbukti menjadi agen paling
efektif dalam menangkap ACP. Pemantauan populasi ACP di wilayah perkebunan
jeruk di seluruh Indonesia menunjukkan keberadaannya di area tertentu, termasuk
Kalimantan Barat (Sambas), Bengkulu (kota Bengkulu dan Curup), Jawa Timur
(Banyuwangi), dan Jawa Barat. Jumlah total titik populasi ACP yang tervalidasi
adalah 35, tersebar di berbagai wilayah. Model MaxEnt menunjukkan bahwa
populasi ACP saat ini dan di masa depan sangat cocok (dekat dengan satu) untuk
pulau-pulau Jawa, Bali, Sumatra Selatan, dan Nusa Tenggara, sementara potensi
ACP di Kalimantan, sebagian besar Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Papua berada
pada tingkat sedang.
Diaphorina citri, known as the Asian Citrus Psyllid (ACP), is a significant pest that poses a considerable threat to citrus growers worldwide, including those in Indonesia. In most regions, the bacterium Candidatus liberibacter asiaticus (CLas) is the causative agent of HLB. This factor is a primary rationale for the present study, as it exerts a substantial impact on Indonesian citrus production. Presently, ACP populations in Indonesia remain low, while HLB remains a significant citrus disease. Insufficient tools exist for ACP field monitoring. This research has been conducted in three coherent sets of studies: The first set entailed testing the efficacy of yellow sticky traps (YST) with different lures, namely commercial products/alpha scents, acetic acid, formic acid, and propionic acid. The second set of studies involved monitoring ACP populations at different citrus hub sites and alternative hosts. The third set of studies entailed developing a model using MaxEnt to map the potential distribution of ACP that could occur in Indonesia's territory. The study's results indicated that the incorporation of lures into YSTs led to an increase in the capture of ACPs compared with the control group that did not contain bait. In controlled environments, the use of lures in isolation offers a promising avenue for capturing ACP, with formic acid demonstrating the most significant potential in this regard. Conversely, in natural conditions involving the simultaneous use of lures, acetic acid has been demonstrated to be the most effective agent in capturing ACP. The monitoring of the ACP population in citrus-growing regions across Indonesia revealed its presence in specific areas, including West Kalimantan (Sambas), Bengkulu (cities of Bengkulu and Curup), East Java (Banyuwangi), and West Java. The total number of validated ACP population points was 35, dispersed across various regions. The MaxEnt models indicate that the current and future ACP population is highly suitable (close to one) for the islands of Java, Bali, South Sumatra, and Nusa Tenggara, while the ACP potential for Kalimantan, most of Sumatra, Sulawesi, Maluku, and Papua is at a medium level.
Kata Kunci : Diaphorina citri, Yellow Sticky trap, Lures, Surveillance, Modelling, MaxEnt