Sri Lunga? Transformasi Kosmologi pada Masyarakat Petani Jatimas, Kebumen, Jawa Tengah
Aprilia Ambarwati, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Masyarakat
petani di Desa Jatimas, Kebumen, memandang kehidupan sebagai suatu upaya
menjaga keselarasan antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik
(mikrokosmos). Pandangan kosmologis ini dipraktikkan melalui ritual adat yang
menyertai siklus pertanian. Kepercayaan terhadap kekuatan adikodrati di luar
diri manusia diyakini masih terjaga sebagai upaya mencapai keselamatan dan
kemakmuran hidup. Namun, kosmologi masyarakat petani bukanlah hal yang statis,
melainkan senantiasa mengalami pergeseran dan negosiasi. Penelitian ini
bertujuan untuk menelusuri mengapa perubahan kosmologi tersebut terjadi ke arah
yang lebih mekanistik dan ekonomistik, serta bagaimana masyarakat
menegosiasikan dan merumuskan ulang pandangan kosmologis mereka di tengah
perubahan zaman.
Studi
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang berfokus
pada kehidupan sehari-hari masyarakat petani Jatimas. Data diperoleh melalui
observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta kajian pustaka untuk
memperkaya pemahaman tentang praktik sosial dan religius masyarakat. Desa
Jatimas dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan komunitas agraris
dengan tradisi kosmologis yang kuat sekaligus tengah menghadapi perubahan
signifikan akibat modernisasi dan meningkatnya pengaruh lembaga keagamaan
Islam. Menggunakan pendekatan hubungan makrokosmos dan mikrokosmos, studi ini
berusaha menguraikan penyebab dan proses perubahan kosmologi yang terjadi.
Selain itu konsepsi akan modernitas juga digunakan dalam melihat secara kritis
perubahan yang terjadi.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa arus modernisasi, perubahan sistem pertanian,
serta meningkatnya formalisasi ajaran Islam berperan besar dalam mendorong
transformasi kosmologi masyarakat petani Jatimas. Perubahan ini tidak
sepenuhnya menghapus kosmologi lama, melainkan berlangsung melalui proses
penyesuaian, negosiasi, dan reinterpretasi nilai-nilai tradisional dalam
kerangka sosial dan religius yang baru.
The
peasant community of Jatimas Village, Kebumen, conceives of life as an endeavor
to maintain harmony between the jagad gedhe (macrocosmos) and the jagad cilik
(microcosmos). This cosmological orientation is manifested in agrarian myths
and customary rituals that accompany the agricultural cycle, while belief in
supra-human forces continues to be regarded as essential to securing collective
safety and prosperity. Yet, peasant cosmology is not a static system; rather,
it is dynamic, continually shaped by processes of negotiation and
transformation. This study seeks to examine the underlying factors driving
cosmological change toward increasingly mechanistic and economistic
orientations, and to analyze how local actors negotiate and reformulate their
cosmological perspectives in response to broader social transformations.
Methodologically,
the research adopts a qualitative design with an ethnographic approach,
focusing on the everyday practices of Jatimas peasants. Data were collected
through participant observation, in-depth interviews, and textual analysis,
providing a comprehensive account of social and religious life. Jatimas was
selected as the research site given its strong agrarian tradition rooted in
cosmological beliefs, while simultaneously undergoing profound transformations
brought about by agricultural modernization and the expanding influence of
Islamic institutions. The analytical framework combines the
macrocosmos–microcosmos paradigm with critical perspectives on modernity in
order to explicate both the processes and implications of cosmological change.
The findings demonstrate that modernization, shifts in agricultural production systems, and the increasing formalization of Islamic orthodoxy have been central in reshaping peasant cosmology in Jatimas. Rather than resulting in the disappearance of traditional cosmology, these forces have produced processes of adaptation, negotiation, and reinterpretation, whereby older values are rearticulated within new social and religious frameworks. This study thus highlights the dynamic character of peasant cosmology, showing how local worldviews are continuously reconstructed to maintain relevance within changing historical contexts.
Kata Kunci : jagad gedhe, jagad cilik, mitos, ritual, pertanian, modernisasi, agama