ASPEK SOSIAL EKONOMI PROGRAM KEGIATAN PEMBINAAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO ( Studi Kasus pada Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat)
Sudjoko Mustadjab, Ir. Djuwadi, MS.
1999 | Skripsi | S1 KEHUTANANTaman Nasional sebagai kawasan konservasi memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang khas dan unik berupa tumbuhan dan binatang, tipe ekosistem maupun gejala alam yang masih utuh dan alamai merupakan kekayaan alam bangsa Indonesia hams dijaga kelestariannya sebagi kebanggaan dan milik nasional bagi usaha-usaha pembangunan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam pengelolaannya, suatu Taman Nasional tidak akan terlepas keberadaan masyarakat sekitar dan aktifitasnya sebagai bentuk interaksi masyarakat terhadap hutan yang memungkinkan sebagai penyebab terjadinya gangguan dan kerusakan terhadap potensi yang dimiliki. Program strategis yang mampu menampung aspirasi dan kepentingan masyarakat sekitarnya diwujudkan sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan arti penting konservasi sumber daya alam hayati dan ekosisternnya melalui usaha-usaha kearah peningkatan pendapatan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah rnengetahui besamya pendapatan 'tanpa' dan 'dengan' program, besamya "pendapatan-netto (tunai dan non-tunai) yang didapat dari program, dan mengetahui peranan program terhadap perbaikan kondisi sosial ekonomi peserta sebagai masyarakat desa sekitar hutan dengan studi kasus kegiatan Demplot Budidaya Bambu (1995) dan Usaha Pedesaan Budidaya Temak Domba (1996). Lokasi penelitian ini adalah desa-desa disekitar hutan dengan sasaran masyarakat yang tergabung dalam program kegiatan pembinaan daerah penyangga Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Data primer meliputi pemilikan lahan, produktifitas lahan dan pendapatannya, serta jenis dan hasil dari kegiatan non pertanian lainnya untuk mengetahui tingkat pendapatan 'tanpa' program. Selanjutnyadata perkembangan fisik program digunakan sebagai bahan untuk menghitung komponen biaya (input) dan pendapatan (output) untuk mengetahui besamya pendapatan-netto (tunai dan non-tunai) dan peranan program, serta dengan mengkombinasikan dengan pendapatan 'tanpa' program diketahui pendapatan 'dengan' program guna pengujian beda nyatanya. Dari hasil penelitian diketahui, dengan tingkat kepercayaan 5 % dan derajat bebas yang bersesuaian menunjukkan bahwa besarnya pendapatan 'tanpa' dan 'dengan' program pada Demplot Bambu (1995) berbeda nyata dengan nilai t-hitung (97,560) lebih besar dari t-tabel (2,064), dan pada Usped Domba berbeda nyata dengan t-hitung (9,526) lebih besar dari t-tabel (2,045), sehingga ada peranan yang nyata dari kedua jenis program terhadap peningkatan pendapatan keluarga peserta. Pendapatan tunai Demplot Bambu dengan rata-rata pemilikan 32,4 rumpun/KK sebesar Rp. 112. 519/KK/thn dan keuntungan bersih sebesar Rp. 45 .345/KK/thn. Pendapatan tunai Usped Domba (1996) dengan rata-rata pemilikan awal (bibit) 2 ekor/KK adalah Rp. 435.088/KK/thn dan keuntungan bersih sebesar Rp. - 1.166.805/KK/thn dengan nilai negatif yang sebenarnya merupakan 'pendapatan semu' sebesar Rp. 1.638.107/KK/thn sebagai refleksi pemberdayaan terhadap peserta program. Peranan program Dem plot Bambu ( 1995) dapat memberikan peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 8 %, sedangkan pada Usped Domba memberikan peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 20 % dari pendapatan rata-rata keluarga sebelumnya. Perubahan tingkat kemiskinan pada Demplot Bambu memberikan perubahan (peningkatan) 16 % jumlah peserta dan pada Usped Domba sebesar 40 % jumlah peserta. Kedua jenis program menunjukkan indikasi adanya kecenderungan yang lebih cocok dengan melibatkan kelompokpetani gurem (pemilikan lahan: 0- 5.000 m2) sebagai peserta program.
Kata Kunci : Program Pembinaan Daerah Penyangga, pendapatan, program penanggulangan kemiskinan.