STUDI PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DI LAHAN KRITIS MILIK KELOMPOK TANI GONDANGREJO DESA SUMBEREJO KEC. BATUWARNO KAB. WONOGIRI PROPINSI JAWA TENGAH
Masyadi, Ir. Djuwadi, MS.
1999 | Skripsi | S1 KEHUTANANDiperkirakan kemampuan produksi dari hutan alam akan semakin menurun disisi lain kebutuhan akan kayu terus meningkat, salah satu upaya pemenuhannya melalui pembangunan hutan rakyat. Pembangunan hutan rakyat pada awalnya diarahkan kepada upaya rehabilitasi lahan kritis/tidak produktif, saat ini tel ah berkembang menjadi usaha perhutanan rakyat sebagai salah satu upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian mengenai pembangunan hutan rakyat di lahan kritis bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pengelolaan dan potensi hutan rakyat sehubungan dengan kondisi tanah yang kritis, manfaatnya bagi petani dan perbaikan lingkungan. Penelitian dilakukan dengan mengadakan pengukuran terhadap sampel dari populasi hutan rakyat sebanyak 20 petak ukur lingkaran 0, 1 ha dan wawancara dengan 40 reponden anggota Kelompok Tani Gondangrejo. Dari pengukuran sampel akan dihitung volume standing stock yang dibedakan atas bagian pohon yang dapat dipakai kayu perkakas besamya 55 % dari volume pohon berdiri dan sisanya sebagai kayu bakar, riap • tahunan dihitung dengan rumus Von Manthei . Untuk mengetahui nilai potensi tegakan hutan rakyat ditaksir berdasarkan informasi harga kayu rakyat dari pedagang kayu. Sedang untuk memperoleh gambaran nilai produktivitas hutan rakyat akan diperbandingkan dengan nilai produktivitas tegalan tanaman pangan. Semua data dan informasi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan rakyat Kelompok Tani Gondangrejo ditanam pada lahan tegalan luas 81,13 ha dimiliki 46 petani, dimana sebelumnya lahan tersebut tidak ditanami sama sekali karena · kondisi tanahnya berbatu-batu, pengelolaan hufannya dilaksanakan oleh pemiliknya masing-masing. Dari pengambilan sampel diketahui jumlah pohon rata-rata 1.732 pohon/ha, terdiri dari jenis mahoni, jati, akasia, ekaliptus, johar, trembesi, kemlanding dan nangka, dengan potensi lbds 8,17 m2/ha dan volume standing stock 56,99 m3/ha terdiri kayu perkakas 31,34 m3/ha dan kayu bakar 25,65 m3/ha, riap tahunan sebesar 5,69 m3/ha/tahun terdiri kayu perkakas 3, 13 m3/ha/tahun dan kayu bakar 2,56 m3/ha/tahun. Besamya taksiran nilai potensi tegakan hutan rakyat Rp. 10.173.760/ha atau Rp. 1.017.376/ha/tahun, dari hutan rakyat diperoleh tambahan pendapatan bagi pemiliknya rata-rata Rp. 1.794.342/tahun. Dalam memanfaatkan kayu dari hutan rakyat umumnya sesuai selera dan kebutuhan petani, cara penjualan dilakukan melalui pedagang}bakul kayu dalam bentuk pohon berdiri bukan dalam satuan volume kayu rebah, karena petani tidak punya pengetahuan cara menaksir volume kayu, kayu yang sudah laku dijual minimal diameter 20 cm pertimbangannya ukuran tersebut sudah bisa dibuat kayu perkakas untuk tiang/gelagar rumah. Apabila diperbandingkan antara nilai produktivitas lahan tegalan tanaman pangan dengan hutan rakyat, diperoleh taksiran nilai produksi tegalan tanaman pangan Rp. 2.713.875/ha dan hutan rakyat Rp. 1.017.376/ha dari nilai ini dapat memberi gambaran bahwa usaha hutan rakyat dapat dijadikan altematif usaha tani lahan kering, pada kondisi tanah yang sudah tidak produktif lagi ternyata dengan ditanami hutan rakyat dapat mempunyai nilai tambah bagi petani pemifiknya.
Kata Kunci : lahan kritis, produktivitas, potensi hutan