Manfaat Program Perhutanan Sosial pada Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Sido Mulyo III dan Wana Makmur di Kabupaten Gunungkidul
Talitha Fauziah, Ir. Wiyono, S.Hut., M.Si.
2025 | Tugas Akhir | D4 PENGELOLAAN HUTAN
Penelitian ini bertujuan menganalisis manfaat
ekonomi, sosial, dan ekologi program perhutanan sosial skema Hutan
Kemasyarakatan (HKm) pada KTHKm Sido Mulyo III dan KTHKm Wana Makmur di
Kabupaten Gunungkidul, serta merumuskan strategi pengembangannya. Penelitian
menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif
melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa secara ekonomi, KTHKm Sido Mulyo III tidak memperoleh kontribusi
pendapatan dari HKm akibat berhentinya ekowisata Watu Payung, sedangkan KTHKm
Wana Makmur memperoleh kontribusi 21–43?ri UMK melalui tumpangsari. Secara
sosial, kedua kelompok memiliki persepsi positif terhadap HKm, meski pemahaman
teknis masih terbatas. Partisipasi kelembagaan Sido Mulyo III tinggi (90%),
sedangkan Wana Makmur rendah (10%) namun keterlibatan teknis hampir 100%.
Secara ekologi, KTHKm Sido Mulyo III memiliki keberagaman flora dan fauna serta
regenerasi alami, tetapi rehabilitasi belum optimal akibat kebakaran. Sementara
itu, KTHKm Wana Makmur menghadapi pencurian kayu, namun berhasil menanam MPTS
dengan tingkat keberhasilan awal tinggi dan ditandai peningkatan populasi
burung perkutut. Kedua kelompok tetap memerlukan pengkayaan tanaman endemik dan
patroli partisipatif untuk menjaga keberlanjutan kawasan hutan. Strategi
pengembangan yang dapat diterapkan meliputi diversifikasi usaha, penguatan
kelembagaan, perluasan kemitraan, rehabilitasi kawasan dengan tanaman Multi-Purpose
Tree Species (MPTS), dan patroli partisipatif, dengan penyesuaian pada
kondisi masing-masing kelompok. Implementasi strategi ini diharapkan dapat
mengoptimalkan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi HKm, sekaligus meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian hutan di Kabupaten Gunungkidul.
This study aims to analyze the economic, social,
and ecological benefits of the social forestry program under the Community
Forest (HKm) scheme in the Sido Mulyo III and Wana Makmur community forest
farmer groups in Gunungkidul Regency, as well as to formulate appropriate
development strategies. The research employed a descriptive method with both
quantitative and qualitative approaches through interviews, observations, and
document studies. The findings reveal that, economically, Sido Mulyo III did
not gain income contributions from HKm due to the cessation of the Watu Payung
ecotourism program, while Wana Makmur generated 21–43% of the regional minimum
wage (UMK) through intercropping practices. Socially, both groups held positive
perceptions of HKm, although their technical understanding remained limited.
Institutional participation was high in Sido Mulyo III (90%), while relatively
low in Wana Makmur (10%), yet nearly all members were engaged in technical
activities. Ecologically, Sido Mulyo III demonstrated biodiversity and natural
regeneration, although rehabilitation efforts were less effective due to forest
fires. In contrast, Wana Makmur faced timber theft but successfully planted
Multi-Purpose Tree Species (MPTS) with high initial survival rates, accompanied
by an increase in local bird populations. Both groups still require enrichment
of endemic species and participatory patrols to ensure forest sustainability.
Development strategies that can be implemented include business
diversification, institutional strengthening, partnership expansion, forest
rehabilitation with MPTS, and participatory patrols, adjusted to the specific
conditions of each group. The implementation of these strategies is expected to
optimize the economic, social, and ecological benefits of HKm, while
simultaneously enhancing community welfare and maintaining forest
sustainability in Gunungkidul Regency.
Kata Kunci : Hutan Kemasyarakatan, manfaat ekonomi, manfaat sosial, manfaat ekologi, strategi pengembangan, Gunungkidul