Determinan Kegagalan Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat di Daerah Istimewa Yogyakarta
Muhamad Imam Utama, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar belakang: Indonesia saat ini termasuk dalam 30 negara dengan beban kasus TB RO terbanyak didunia. Upaya pengobatan telah dilakukan untuk mengurangi kasus dan mencegah penularan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir keberhasilan pengobatan TB RO masih berada diangka 60%. Angka ini masih jauh dari target yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (80%). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi program pengobatan penyakit Tuberkulosis Resistan Obat dan pelaksanaan sistem surveilans serta identifikasi faktor - faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan pasien Tuberkulosis Resistan Obat di D.I. Yogyakarta Metode: Studi ini terbagi menjadi tiga bagian substudi yang terdiri dari substudi evaluasi program, substudi evaluasi sistem surveilans, dan substudi analitik. Substudi evaluasi akan dilaksanakan secara deskriptif. Substudi analitik akan dilakukan menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Data dianalisa dengan secara deskriptif dan statistik. Hasil: Kegiatan program memerlukan dukungan pendanaan dan sumber daya manusia. Evaluasi surveilans menemukan fungsi pokok yang masih belum optimal serta kualitas sistem yang belum baik. Determinan yang berhubungan dengan kegagalan pengobatan adalah tidak dilakukan investigasi kontak pada pasien (aHR: 2,21; 95% CI: 1,20 – 4,08; p-value: 0,011). Kesimpulan: Kegagalan pengobatan tidak hanya disebabkan oleh faktor klinis dari pasien, namun terdapat pengaruh dari pelaksanaan program pelayanan dan pencatatan pelaporan.
Background: Indonesia is currently among the 30 countries with the highest burden of drug-resistant tuberculosis (DR-TB) worldwide. Various treatment efforts have been implemented to reduce cases and prevent transmission. However, in recent years, the treatment success rate for DR-TB has remained around 60%, still far below the target set by the Indonesian Ministry of Health (80%). Objective: This study aims to evaluate the implementation of the drug-resistant tuberculosis treatment program, assess the surveillance system, and identify determinants of treatment failure among DR-TB patients in the Special Region of Yogyakarta. Methods: This study consists of three sub-studies: a program evaluation sub-study, a surveillance system evaluation sub-study, and an analytical sub-study. The evaluation sub-studies will be conducted descriptively, while the analytical sub-study will use a retrospective cohort design. Data were analysed using descriptive and statistical methods. Results: Program implementation requires additional financial support and human resources. The surveillance system evaluation revealed that some core functions remain suboptimal, with overall system quality still lacking. A significant determinant of treatment failure was the absence of contact investigation among patients (adjusted Hazard Ratio [aHR]: 2.21; 95% CI: 1.20–4.08; p-value: 0.011). Conclusion: Treatment failure is not solely caused by clinical factors of the patients but is also influenced by the quality of program implementation, service delivery, and reporting systems.
Kata Kunci : Evaluasi, Surveilans, Program Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat, Yogyakarta, Analisis Survival, Kegagalan Pengobatan