Analisis Developmental State Terkait Implementasi Kebijakan Hilirisasi Industri Timah di Bangka Belitung
Dody Sulaiman, Media Wahyudi Askar, SIP, M.Sc., Ph.D.,
2025 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Penelitian ini mengkaji implementasi
kebijakan hilirisasi industri timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
dengan menggunakan kerangka Developmental State. Latar belakang
penelitian ini adalah ketergantungan struktural terhadap ekspor timah mentah
yang menyebabkan kerentanan ekonomi, degradasi lingkungan, dan ketimpangan
sosial. Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan hilirisasi sebagai strategi
nasional untuk meningkatkan nilai tambah, mendorong transformasi industri, dan
mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah. Namun, implementasi kebijakan
ini menghadapi tantangan, seperti inefisiensi birokrasi, lemahnya koordinasi
antara pemerintah pusat dan daerah, serta dominasi kepentingan. Dengan
pendekatan kualitatif dan metode desk review, penelitian ini
menganalisis dokumen kebijakan, literatur akademik, dan publikasi media untuk
menilai sejauh mana kebijakan hilirisasi mencerminkan karakteristik utama Developmental
State, yaitu efisiensi birokrasi, otonomi kelembagaan, dan keterikatan
negara dengan pelaku ekonomi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun negara hadir
secara formal dalam merancang hilirisasi, keterbatasan kelembagaan di tingkat
daerah menghambat efektivitas implementasi. Selain itu, keterbatasan
infrastruktur dan dinamika politik-ekonomi turut memperlemah konsistensi
kebijakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan hilirisasi timah
sebagai strategi pembangunan sangat bergantung pada penguatan kapasitas negara,
integrasi kebijakan pusat-daerah, serta komitmen jangka panjang terhadap pembangunan
industri yang inklusif dan berkelanjutan. Hasil studi ini berkontribusi
terhadap wacana akademik mengenai Developmental State di Indonesia dan
menawarkan rekomendasi kebijakan bagi daerah berbasis sumber daya.
Kata kunci: Hilirisasi
timah, developmental state, kebijakan industri, ekonomi politik.
This study examines the
implementation of tin downstreaming policy in Bangka Belitung Province using
the Developmental State framework. The research is driven by structural
dependence on raw tin exports, which creates economic vulnerability,
environmental degradation, and social inequality. The Indonesian government
initiated downstreaming as a national strategy to increase value-added, support
industrial transformation, and reduce resource dependency. However, its
implementation encounters multiple challenges, including bureaucratic
inefficiency, fragmented coordination between central and local governments,
and the dominance of interests. Using a qualitative approach and desk review
method, this research analyses policy documents, academic literature, and media
coverage to assess the extent to which the downstreaming policy reflects key
features of a Developmental State, namely bureaucratic efficiency,
institutional autonomy, and embeddedness with economic actors. Findings
indicate that despite the formal presence of the state in directing downstream
policy, institutional limitations hinder effective implementation, especially at
the regional level. Moreover, weak infrastructure, limited local capacity, and
interest-based political dynamics reduce policy coherence and impact. This
study concludes that the success of tin downstreaming as a development strategy
depends on strengthening state capacity, improving policy coordination, and
building long-term commitment to inclusive and sustainable industrial
development. The findings contribute to the academic discourse on Developmental
State in Indonesia and offer policy insights for enhancing institutional
readiness in resource-based regions. Keywords: Tin downstreaming,
developmental state, industrial policy, political economy
Kata Kunci : Kata kunci: Hilirisasi timah, developmental state, kebijakan industri, ekonomi politik.