Laporkan Masalah

“Privately Funded Mosques”: A Socioreligious Dynamics in Contemporary Muslim Communities in Yogyakarta

Naufal Zainul Adzkiya, Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf

2025 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Tesis ini menganalisis dinamika sosial-keagamaan yang terkait dengan munculnya “masjid yang didanai secara pribadi” di Yogyakarta, Indonesia, sebuah wilayah dengan beragam organisasi Islam tradisional yang sudah mapan. Tesis ini akan (1) mengkaji alasan mengapa masjid-masjid ini didirikan, (2) mengkaji dampak sosial-keagamaan mereka terhadap komunitas sekitar, dan (3) mengevaluasi sejauh mana tren ini mencerminkan dan membentuk proses de-institusionalisasi keagamaan yang unik. Dalam desain metode campuran sekuensial eksploratif, studi ini menggunakan metode kualitatif yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para pendiri masjid dan observasi partisipan, serta metode kuantitatif yang dikumpulkan melalui survei terstruktur terhadap 54 jemaah. Analisis tematik dan statistik deskriptif digunakan untuk menafsirkan data. Studi ini menggunakan teori de-institusionalisasi Heinz Streib sebagai kerangka analitis sekaligus menguji penerapannya dalam konteks non-Barat Islam Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif para pendiri terdiri dari interaksi kompleks antara kesalehan pribadi, kebutuhan untuk meninggalkan warisan keluarga, dan keinginan untuk kemandirian beragama yang kuat yang berkembang dari pengalaman negatif dengan dogmatisme dan orientasi politik gerakan keagamaan yang sudah mapan. Meskipun masjid-masjid ini awalnya mendapat penolakan, mereka meningkatkan kepercayaan komunitas sekitar dengan berkontribusi pada kegiatan sosial-ekonomi. Tesis ini menunjukkan munculnya pusat-pusat kekuatan keagamaan baru oleh para pendiri filantropis, yang pengaruhnya memungkinkan mereka menciptakan ruang keagamaan independen. Temuan survei menunjukkan bahwa masjid-masjid ini sangat menarik bagi jemaah karena suasananya yang akomodatif, ramah, non-partisan, dan "berketegangan rendah." Pada akhirnya, studi ini berpendapat bahwa fenomena ini paling baik dipahami bukan sebagai de-institusionalisasi dalam pengertian klasik dari kemunduran institusional, melainkan sebagai penciptaan kembali kehidupan beragama yang disengaja melalui rekonfigurasi pilihan institusional. Meskipun institusi baru ini menghargai kemandiriannya, mereka tidak memutuskan hubungan dengan institusi tradisional; sebaliknya, mereka memilih praktik terbaik manajemen yang disukai dari model-model yang berhasil dan menolak kecenderungan ideologis yang kuat. Dengan demikian, jemaah tidak hanya memilih bentuk institusional baru tetapi memasuki ranah yang secara aktif menggabungkan manajemen modern dengan keterbukaan terhadap teologi. Penelitian ini berusaha memahami sosiologi agama dengan mengkaji hubungan antara modal, kesalehan, dan pilihan dalam penciptaan kembali bentuk-bentuk baru kehidupan beragama di era modern.

This thesis analyzes the socio-religious dynamics associated with the emergence of “privately funded mosques” in Yogyakarta, Indonesia, an area with a variety of established traditional Islamic organizations. The thesis will (1) examine the reasons why these mosques were established, (2) examine their socio-religious impact on the surrounding community, and (3) determine whether this is a general process of religious deinstitutionalization. In an exploratory sequential mixed methods design, the study draws on qualitative methods collected through in-depth interviews with mosque founders and participant observation, and quantitative methods collected through a structured survey of 54 congregants. Thematic analysis and descriptive statistics interpret the data within the framework of Heinz Streib’s theory of deinstitutionalization. The results show that the founders’ motives consisted of a complex interplay of personal piety, the need to leave behind family legacies, and a desire for strong religious independence that developed from negative experiences with the dogmatism and political orientation of established religious movements. Although these mosques were initially opposed, they increased the trust of the surrounding community by contributing to socio-economic activities. This thesis demonstrates the emergence of new religious power centers by philanthropic founders, whose influence enabled them to create independent religious spaces. Survey findings indicate that these mosques are highly attractive to worshippers due to their accommodating, welcoming, non-partisan, and "low-tension" atmosphere. Finally, however, this manifestation can be explained not by a process of deinstitutionalization as disintegration, but rather by a process of deliberative recreation of religious life. While these new institutions value their independence, they do not sever ties with traditional institutions; instead, they select preferred management best practices from successful models and reject their strong ideological leanings. Thus, worshippers are not simply choosing new institutional forms but are entering a realm that actively combines modern management with openness to theology. This research seeks to understand the sociology of religion by examining the relationship between capital, piety, and choice in the recreation of new forms of religious life in the modern era.

Kata Kunci : Privately Funded Mosques, Religious Deinstitutionalization, Islamic Philanthropy, Religious Authority, Social Change, Yogyakarta

  1. S2-2025-511939-abstract.pdf  
  2. S2-2025-511939-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-511939-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-511939-title.pdf